That Time One Class Summoned In The Another World

That Time One Class Summoned In The Another World
Chapter 22 : Sang Pencabik Tengkorak (Part 01)



Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧



_________________________________________


...Labyrinth Underground...


...Lantai 30...


Lingkaran sihir semacam ini sudah tidak asing lagi bagi Shin. Dia tidak akan pernah bisa melupakan lingkaran sihir yang bertanggung jawab untuk menjebak kelasnya masuk ke dunia ini. Namun, yang satu ini berukuran tiga kali lipat dari yang telah memanggil raksasa itu, bentuknya jauh lebih rumit dan teliti.


"Ini pasti bercanda, ukuran itu bukan main-main. Kita belum masuk, tapi apa sungguh melawan bos terakhir di tempat ini?"


Mereka mengambil langkah mundur untuk menjaga jarak dan keluar dari lingkaran itu.


Rin merapatkan kedua lengannya ke badan seakan dia merasakan dingin lalu berucap,


"...Entah mengapa...aku benar-benar merasa tak enak…"


"Ya…"


Shin mengiyakan.


Ia membimbing Rin dan Filo bersembunyi ke belakang sebatang tiang dan memantau. Ketegangan yang kutahan dari tadi kini menyembur karena pertempuran sudah dekat. Tubuh mereka bahkan gemetaran.


"Jangan khawatir."


Sambil menoleh serius, Shin berbisik pada Rin.


"Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu."


"Ya … aku juga akan membantumu."


Shin memeluknya dengan lengan sekali lagi sebelum melepasnya. Dia membuat sebuah pedang logam dengan skill Konversi nya, diiringi bunyi dentingan perlengkapannya.


"Apa kamu siap? Kita tak punya pengalaman bertarung, tapi kita harus berusaha. Jadi, tunggulah aba-aba dariku dan bernyanyilah saat waktunya tiba. Sementara aku yang akan menghadapinya."


Saat ia hendak pergi, Rin menahannya sekali. Matanya berkaca-kaca seolah ingin menangis, tapi Shin tertawa kecil dan melanjutkan.


"Jangan menangis. Tidak… ini bukan karena aku takut bertarung."


Rin menghadap Shin seakan dia merasakan tatapannya, lalu berkata sambil tersenyum. Tiada beban maupun rasa takut terdengar dari suaranya yang lembut dan rendah.


"Shin, aku percaya pada usahamu. Kuharap kamu menggunakan seluruh kekuatanmu sepenuh tenaga."


Shin membalasnya senyumannya.


Senyum Shin agak sedikit goyah, tapi ekspresi Rin yang bertekad tetap tak tergoyahkan. Dia mengangguk sebagai jawaban, dan tersenyum masam saat menyaksikan lingkaran sihir menyelesaikan pemanggilannya.


"Aku pergi."


Lalu dia berjalan melalui koridor yang luas. Ruangan didalam berbentuk seperti kubah besar. Tembok-tembok menjulang tinggi ke langit, melengkung tinggi di atas kepalanya.


Shin kini hening beberapa lama. Meski dia terus mengamati lantai sekeliling, raja tetap tak muncul. Waktu mencekik tegang syarafnya sementara detik demi detik perlahan berlalu.


"Kenapa—"


"Dari atas!" Rin berteriak dari belakang. Shin pun langsung mengangkat wajahnya untuk melihat ke atas dan terkejut.


Muncul dari atas langit-langit kubah—ia di sana. 


Begitu besar dan panjang.


"Seekor belalang sembah!?"


Pikiran itu muncul dalam pikiranku begitu Shin melihatnya. Panjangnya sekitar 10 meter. Tapi tubuhnya terbagi kedalam beberapa bagian yang lebih mengingatkanku pada tulang belakang manusia dibandingkan seekor serangga. Kaki-kaki tajam dari tulang terlihat menonjol dari tiap sambungan. 


Begitu dia menggeser pandangan ke bagian bawah tubuhnya, bentuknya semakin menebal, berakhir pada sebuah tengkorak mengerikan. Itu bukan tengkorak manusia. Di ujung tengkorak nan halus itu, ada dua pasang liang mata yang menghadap ke atas dengan api biru menyala di dalam. Rahangnya menonjol keluar dan berisi sebaris gigi tajam. Dua lengan raksasanya yang berbentuk sabit menempel pada kedua sisi tengkorak. 


"Aku belum pernah mencobanya, tapi… mungkin ini saatnya."


Saat Shin memusatkan pandangannya pada monster itu, dia belum pernah menggunakan kemampuan yang satunya lagi yaitu Knowledge Eye.


Ketika ia menggunakan kemampuan mata itu, mata kanannya berubah menjadi warna hijau limau serta pupilnya bersinar. Dia bisa melihat nama monster itu, nama itu muncul dengan kursor kuning: {Sang Pencabik Tengkorak} —Mantidae\=\=\=Level 35.


(Mantidae atau Mantis itu sejenis sentadu/ biasanya orang nyebutnya belalang sembah)


Mengingat penjelasan Karlstahl sebelumnya, level seseorang sangat mempengaruhi dalam pertarungan. Mereka tidak dapat melawan musuh kuat dengan level yang sangat tinggi, yang membedakan antara level rendah dan level tinggi. Dengan kata lain, untuk itu mereka hanya mempunyai dua pilihan: melarikan diri atau mati.


"Perbedaan levelnya sangat jauh!" Shin terkejut sekaligus heran karena bisa melihat status monster ini dengan kekuatan matanya. "Tapi… aku tidak menyangka kemampuan ini dapat melihat status musuh."


Tapi tepat saat itu. si Sentadu telah mendarat dan seluruh lantai berguncang keras. Bahkan Rin yang bersandar di tembok kehilangan keseimbangan karena itu.


"Sialan…!"


"Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiicckik!" Ia mengeluarkan suara aneh dan memusatkan perhatian pada Shin. Bertekad untuk menjatuhkan keputusan,, si Sentadu mengeluarkan gelombang haus darah yang sangat kuat sehingga bisa menghentikan jantungnya normal segera dan saat itulah si Sentadu mengayunkan lengan kanannya—sebatang sabit tulang raksasa yang sepanjang orang, dan mengarah langsung pada Shin.


"Kraa!"


Shin berlari hampir tanpa sadar, dengan cepat menempatkan jarak seakan sedang terbang, dan menempatkan dirinya tepat di depan sabit itu. Lalu Shin mengangkat pedangnya dan menahan serangannya, Kekuatan besar dari benturan mengenai bahunya terasa remuk. 


Tapi---sabitnya tak berhenti. Dengan percikan yang keluar darinya, sabit itu mendorong kuat mundur pedang logamnya sehingga membuat pedang Shin patah dan mengeluarkan bunyi pecahan logam.


Shin segera melompat ke belakang untuk menghindar dari sabitnya itu.


Yang tersisa di genggaman tangannya adalah tungkai pedang.


"Ini terlalu kuat---!"


Namun, Shin kini telah menyimpulkan bahwa si Sentadu ini meski monster ini memiliki kekuatan yang besar, akan tetapi setiap serangannya terlalu lambat sehingga Shin sendiri dapat menghindarinya dengan mudah.


Tapi sampai saat ini, Shin masih belum bisa menemukan titik celah untuk membalas serangannya.


Kemudian dia menggunakan skill konversi untuk mengubah tungkai pedangnya menjadi pedang baja.


"Berat!"


Shin tidak memiliki kekuatan untuk memegang pedang itu dengan satu tangan, jadi dia harus menggunakan kedua tangannya untuk itu.


Belum melakukan persiapan, sabit sekali lagi diayunkan secara horizontal padanya, itu terlihat besar seperti tulang gigi dinosaurus. Shin bahkan tidak menyempatkan dirinya untuk mengambil posisi dan terpaksa berpindah ke samping.


Saat itulah, sebuah kilat begitu cepat terbang dengan meninggalkan bekas cahaya


putih dan mengenai sabit. Sebuah suara benturan bergema. Dengan sabit yang melemah, dan berhasil memukul mundur sabit. Shin terbelalak, dan bertanya-tanya apakah Rin yang melakukannya. 


Shin segera melirik ke belakang. Namun, Rin masih ada di sana. Ia terlihat menoleh ke arah Shin, dan melambaikan tangannya.


Kalau begitu… siapa yang melakukannya barusan?