
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Itu adalah halaman terakhir dari buku itu. Shin menutupnya kembali, dan segera kembali ke tempatnya Rin.
***
Saat ia berjalan, Shin mendengar perutnya keroncongan. Dan ia mempercepat langkah kakinya. Karena alasan tertentu, Shin memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke tempatnya Rin berada.
Sebelum keluar dari lorong, Shin samar-samar bisa mendengar suara yang lembut, suara itu menggema dengan indah ke seluruh ruangan yang datang dari sana.
(Source: Lyrics Ichiban No Takaramono - Lisa)
"♫ Setiap kita kali bertemu, kita selalu bertengkar saja ♫ Meski begitu, itu adalah kenangan yang indah ♫ Kau ajarkan padaku, hingga aku tidak takut lagi ♫ Selemah apapun diriku, aku pasti dapat meraih kebahagiaan, karena itulah… ♫"
Shin langsung bisa mengenali suara itu… tidak salah lagi, itu adalah suara dari nyanyiannya Yuasa Rin.
Ketika ia keluar dari lorong, suaranya merdu semakin terdengar jelas. Rin sangat berbakat dalam hal itu, nyanyian dapat membuat suasana hati orang disekitarnya tersentuh.
Shin terpaku melihat Rin mendalami lagu yang dinyanyikannya dengan menutup kedua matanya, Shin hanya berdiri diam sambil mendengarkan Rin bernyanyi sampai ia selesai.
Bahkan, satu-satunya orang yang membenci gadis ini pun… dapat merasakan sesuatu yang aneh dari dalam tubuhnya. Sesuatu seperti, dia merasa tenggelam jauh di dasar laut dalam alunan lagunya itu.
Dia secara tidak sadar tersenyum, dan mengingat kalau mereka masih hidup saat ini. Mungkin, orang-orang di luar sana, pasti mengira mereka berdua telah mati.
Pada kenyataannya, takdir merubahnya.
"♫ Meski sendirian, aku akan tetap maju meski itu menyakitkan ♫ Aku pasti akan membawa mimpi yang kulihat bersamamu itu ♫ Bersamamu begitu luar biasa, hanya denganmu dan bukan siapapun ♫ Namun ketika aku bangun, kau sudah tak ada lagi di sana... ♫"
Rin merendahkan suaranya, dan perlahan membuka kedua matanya karena menyadari bahwa orang yang ditunggu-tunggu olehnya kembali.
"Nyanyianmu, lumayan bagus ternyata."
Saat Rin tiba-tiba dipuji oleh Shin, ia sangat terkejut hingga membuat dirinya tersipu dengan malu.
"K-Kau— kau pasti bermaksud menyindir aku 'kan!?"
"Hah? Aku tidak bermaksud lain, sungguh. Setiap kali aku mendengarkan nyanyianmu, aku merasa tersentuh. Oleh karena itu, aku memujimu. Bukankah… kau seharusnya berterima kasih padaku?"
Rin kehilangan kata-katanya, sebelum ia ingin mengucapkan terima kasih, matanya selalu berkedip dan mengarah ke lain.
"Kalau begitu…" Rin memberanikan diri untuk menatap wajahnya Shin dengan senyuman yang tulus, dan sebelumnya pernah dilihat Shin sebelumnya.
"Terima kasih, Shin!"
Sebaliknya, sekarang justru Shin yang tersipu malu karena melihat senyuman Rin yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Shin melemparkan wajahnya yang memerah, ia terlihat berusaha keras untuk menghindari kontak mata dengan Rin.
Shin membalasnya singkat.
"Sama-sama."
Pada dalam situasi rumit, burung yang tertidur itu telah terbangun dan tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka.
"Cuit! Cuit!"
"Uh…"
Matanya menyipit dengan curiga menatap si burung itu dan bergumam.
"Apa… Cerita itu sungguhan?"
"Cuit?"
Burung itu memiringkan kepalanya bingung, dan Rin melakukan hal yang sama.
"Kau barusan bicara sesuatu?"
"Bukan apa-apa."
Shin masih belum memastikan apakah cerita itu benar atau hanyalah sebuah karangan dari pemiliki labirin ini. Namun, mengingat bahwa Fitoria, induk dari burung itu, meninggalkan catatan terakhir yang dimana isinya adalah surat permohonan.
Shin masih belum tau monster mengerikan seperti apa burung ini. Shin berharap saat berhasil keluar dari sini, seseorang di dunia atas bisa memberitahunya sesuatu tentang mengenai burung ini.
"Omong-omong, Shin, gimana kita kasih nama untuk dia?"
"Hm … kau benar. Gimana kita panggil saja dia, Filo?"
"Kedengarannya bagus. Tapi, kenapa kau memanggilnya dengan Filo?"
"Aku ingin menceritakannya, tapi aku tidak tahu apa ini benar atau tidak……"
Shin pun menjelaskan semuanya tentang burung itu.
Burung itu memiliki spesies, yaitu Filolial yang dinobatkan sebagai The Next Queen of Filolial. Sementara, induk yang melahirkannya telah mati ratusan tahun yang lalu. Sebelum induknya mati, ia meninggalkan sebuah catatan sebelum nafas terakhirnya.
Burung itu dinamakan, Filo. Dia adalah satu-satunya spesies terakhir Filolial yang masih hidup, oleh karena itulah namanya Filo.
"Aku tidak ingat kelanjutannya. Pokoknya, mulai sekarang nama dia adalah Filo."
"Filo…"
"Cuit!"
Burung kecil itu mengeluarkan kicauan yang keras dan puas, seolah dia mengerti kalau mereka memberi dia nama.
"Apa dia paham dengan pembicaraan kita? Dia merespon cukup unik."
"Seharusnya itu bukan masalah 'kan? Karena… itu membuatnya terlihat imut banget!"
"Kau hanya menyukai bulunya 'kan!? Itu pasti!"
"Aku juga menyukainya, kok. Iya kan, Filo-chan?"
"Cuit! Cit!"
Seolah setuju dengan perkataan Rin, burung itu melompat ke atas pundaknya. Sedangkan, Shin terhuyung ke belakang melihat bahwa keduanya terlihat memiliki sifat yang agak mirip. Ini sedikit membuat mentalnya Shin pecah.
"Chan… itu lucu, apa-apaan itu?"
"Filo-chan!"
"Chit!"
"Filo-chan!"
"Chitt!"
Rin berteriak dengan riang, sedangkan Filo berkicau. Kicauannya cukup keras, tapi sejujurnya Shin juga menyukainya.
"Tunggu! Bisakah kalian diam, sebentar saja?" Shin berucap dengan kesal.
Ini pasti semacam penandaan. Apakah… kami benar-benar akan menjadi sosok ayah dan ibu angkat…? Ini pasti lelucon. Tidak! Tidak! Ini mustahil, karena kami adalah manusia dan Filo adalah hewan!
"Kita juga akan membawa Filo-chan 'kan?"
Rin mengedipkan kedua matanya dengan tatapan yang menyedihkan.
"Oi, kenapa kau berekspresi begitu?"
"Kau akan membawanya bukan?"
"Tidak didengarin!"
"Aku ingin Filo-chan pergi dan membawanya ikut bersama kita. Apa tidak boleh?"
Rin mengeluarkan jurus terakhirnya, yaitu tatapan penuh godaan. Saat, Shin berpaling ia hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Rin. Meski berusaha menghindari kontak mata, Shin masih tidak tenang.
Shin kemudian menyerah, menarik dan mengeluarkan nafas amat berat.
"Haa…… Terserah saja sesukamu."
"Yess! Berhasil! Filo-chan ikut bersama kita!"
Rin reflek melompat riang dan memeluk Filo.
"Chiit! Chit!"