
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Karena Rin sudah tidak mempunyai kekuatan untuk berduduk, Shin membantunya dengan menahan pundaknya di atas bahunya. Kemudian secara hati-hati, Shin menumpahkan satu botol ramuan itu ke dalam mulutnya.
Itu adalah ramuan penyembuh, tidak salah lagi.
Shin tidak pernah berpengalaman demam tinggi seperti yang dialami Rin sekarang, jadi dia terus membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh Rin. Dan kini dia telah memahami sedikit tentang Rin yang sebenarnya.
Dia adalah gadis baik, meski ternilai buruk ketika berada di dekat orang yang ia benci. Dia pasti akan berterus terang dengan lidahnya yang tajam, dan selalu membesarkan masalah kecil.
Satu-satu yang ia pikirkan adalah bagaimana cara untuk menyembuhkan Rin sekarang.
"Chit…"
Filo melompat dari lantai ke atas kasur dan berbaring di dekat wajahnya Rin. Bahkan saking khawatirnya, Shin tidak terkejut kalau Filo melompat secara tiba-tiba di depan matanya.
Ia terlihat sedih. Tampaknya Filo juga bisa mengerti, merasakan bagaimana kesakitan dan penderitaan yang dirasakan oleh Rin saat itu. Oleh karena itu, Filo berpikir untuk menemani sosok ibu baginya.
Shin kelihatan murung, kepalanya terus menunduk kebawah menunggu reaksi baik dari Rin setelah meminum ramuan itu.
"Saat dia bangun… aku harus meminta maaf padanya…" gumam Shin. "Aku harus meminta maaf padanya… aku harus meminta maaf…"
Dia terus menggumam karena rasa khawatir yang berlebihan.
Tidak lama setelah itu, Rin memberikan suara kecil untuk menenangkan Shin.
"Terima… kasih."
Mendengar suara itu, Shin reflek membuka matanya dan berdiri dari tempat dimana ia berduduk. Rin menoleh melihat wajah Shin waktu itu terlihat pucat, matanya juga terlihat berkantung karena tidak pernah tidur.
"Aku merasa baik kok. Aku hanya perlu istirahat… sebentar."
"Begitu… ya."
Awalnya dia terlihat panik, akan tetapi setelah mendengar ucapannya yang tidak terlalu berat membuatnya mengeluarkan nafas lega yang panjang.
Rin menoleh lagi ke samping, mengangkat tangannya keluar dari futon lalu mengelus pundaknya Filo.
"Terima kasih juga… Filo-chan, sudah menemaniku di sini."
"Jangan memaksakan dirimu, sebaiknya tidurlah untuk sementara." ucap Shin.
Rin tersenyum. "Kau juga…"
Ia berbisik dengan suara yang memudar. Shin bisa menyadari nada suaranya lebih jelas seperti biasanya. Sementara tangannya mencengkeram kemeja Shin mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin Shin kemana-mana dan ingin selalu berada di dekatnya.
"... Aku mengerti."
Shin kembali merendahkan punggungnya untuk duduk. Entah bagaimana, ia merasa agak tenang dari pada sebelumnya.
Dadanya naik turun mengikuti nafasnya. Dia juga bisa melihat wajah tidur teman sekelasnya.
Kekhawatiran, kenyamanan dan keyakinan, di tengah-tengah semua ini, ada semacam emosi yang kuat dari semua hal itu... Dan ia tidak bisa berfikir kenapa ia merasa demikian.
Apakah mungkin… aku selama ini……
Seiring waktu matanya mulai meredup. Ia lagi-lagi mempunya pemikiran seperti ini, menutup matanya, dan kemudian juga ikut tertidur.
***
Besok adalah hari terakhir mereka berada di dalam dungeon, dan hari ini merupakan hari pertarungan yang sangat jelas.
Shin meregangkan pungungnya dan membuka matanya. Ia terlihat agak terkejut saat ia melihat wajahnya Rin tertidur, dan bangun dengan segera. Ia menggelengkan kepalanya untuk membangunkan dirinya.
Berhubung Shin kadang-kadang suka menggaruk kepalanya, ia harus memperhatikan kebiasaannya yang buruk.
Ia menggapai dengan tangannya ke dahi Rin yang sedang tertidur. Kemudian segera melepaskannya sebelum ia terbangun.
"Oi Yuasa-san. Bangun. Udah waktunya kita…"
Rin memiliki wajah tidur malaikat dari dekat. Bibirnya yang setengah tertutup memiliki pesona polos.
Shin tanpa sadar menyentuh pipinya yang tak berdaya yang biasanya terlarang baginya. Saat dia menyentuhnya dengan ujung jarinya, Rin membuka matanya.
"………?"
Dia tidak fokus menatap Shin. Dengan kesadaran kabur, dia mengusap pipinya seperti kucing.
"………!"
Rin ditarik kembali ke dunia nyata. Dia bangkit dari tidurnya dalam posisi duduk. Keringat mengalir dari wajahnya, sambil memeluk bantal sebagai pengganti perisai.
"Ke–kenapa?! Kamu berencana untuk menyerangku?"
"Aku tidak melakukan apa pun untuk melukaimu. Aku hanya ingin membangunkanmu."
Shin menjelaskan.
Ekspresi tidur tak berdosa Rin sebelumnya sekarang benar-benar hilang, digantikan dengan salah satu yang sangat hati-hati menatap Shin.
"Kamu bilang kamu tidak melakukan apa-apa? Pembohong. Bukankah kamu ingin menggunakan kuku jarimu untuk membuat lubang di pipiku?”
Shin menggigil di punggungnya.
"Mengapa aku ingin melakukan sesuatu yang begitu kejam?"
"Terus, apa yang kamu lakukan?!"
Rin memeluk bantal dengan erat dan menatap lurus ke arah Shin. Ini bukan waktunya untuk bermain bodoh.
Shin menghela napas berat.
"…Wajah tidurmu sangat imut, hingga aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Aku tidak bisa menahan keinginan untuk menyentuh pipimu. Maaf."
"Apa~…"
Rin tersipu malu.
Dia menyembunyikan wajahnya di balik bantal, dan berkata dengan suara kecil.
"A—apa yang kau katakan serius…?"
"Ya…"
"I-imut, sampai sejauh mana…?"
"Sampai membuatku hilang sedikit akal sehatku. Maaf…"
Shin merendakan kepalanya dan menunduk untuk memberikan ucapan maaf dengan rasa bersalah. Dia tidak bisa terus bersikeras bahwa dia tidak bersalah jadi dia mengakui semuanya dengan jujur.
Rin gemetar, mungkin karena amarahnya.
Dia mengintip dari bantalnya, dan berbisik.
"Ka…kalau cuma sebentar, tidak apa."
"Aku baru saja memberitahumu! Wajah tidurku! Aku bilang kamu boleh melihatnya sebentar saja!"
Rin menjatuhkan diri ke tempat tidur. Dia berbalik menghadap Shin, dan menutup matanya. Seperti yang dia nyatakan, rupanya dia ingin menunjukkan wajahnya yang tertidur. Ia dengan serius memejamkan kedua matanya. Konyol, tetapi juga bertanggung jawab atas suatu kesalahan.
"Tidak bisa."
Shin berpaling dan menjawabnya singkat.
Karena Rin sudah tidak dapat menahan malunya lagi, dia segera membuka matanya.
"Kenapa kamu berpaling dariku?!"
"Tidak ada waktu untuk itu. Bukankah kita harus segera keluar dari sini ataukah… kau ingin tinggal lebih lama di sini, Yuasa-san?"
"...Bukan kau atau Yuasa-san."
Rin berkata tidak puas.
"Eh?" Shin terkejut, ia pun berbalik lagi menghadap Rin.
"Aku merasa diremehkan karena dipanggil 'kau' dan '-san'. Panggil namaku… dengan benar."
"Yuasa?"
"Bukan nama mamaku!"
Shin dan Rin. Mereka sudah berteman sejak masih kecil dan keduanya sekarang adalah suami-istri. Namun, karena mereka ingin menyembunyikan kedua hal tersebut, Shin maupun Rin hampir tidak pernah saling berinteraksi saat di sekolah.
Kecuali ketika mereka mendapat tugas yang sama, Shin terpaksa memanggil namamya dengan sebutan '-san' yang artinya saling menghormati dan dengan nama keluarga. Sedangkan, Rin selalu memanggilnya dengan ejekan seperti si Pemalas.
Jadi mereka telah terbiasa dengan kedua hal tersebut. Sehingga, Shin kadang-kadang selalu memanggil Rin dengan nama keluarganya.
Shin menarik napas lembut. Dia merasa sulit bernapas karena suatu alasan.
"… Rin."
"Apa apa? Shin."
Suaranya dipenuhi dengan sebagian rasa manis, setengah rasa malu.
"T–tidak ada apa-apa."
Karena gugup, Shin menutupi setengah wajah dengan jarinya. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Shin maupun Rin tidak berani saling menatap satu sama lain.
Akan tetapi, Filo dewasa muncul secara tiba-tiba di antara mereka.
"Fii! Fii!"
Suaranya pun berubah. Itu seperti mengisyaratkan sebuah pernyataan. Filo bilang begini 'Papa Mama! Bermesraan!' Dia mengatakannya dengan semangat.
Tubuhnya terlihat besar, bukan karena itu, mungkin karena bulunya yang mennyelimuti seluruh tubuhnya.
Hari itu, Filo tumbuh menjadi seekor Filolial dewasa.
Spontan mereka langsung menatap Filo dan hampir tidak mengenalinya.
Shin terkejut dan sadar bahwa kakinya mundur secara reflek kebelakang, bahkan Rin dengan posisi terbaring langsung bangun dan berdiri.
"Mengerikan. Dia tumbuh dengan cepat! Biasanya membutuhkan tiga bulan atau lebih untuk seekor hewan biasa mencapai ukuran ini...."
"Apakah dia Filo-chan…?"
Mereka nggak bisa mempercayai seberapa cepatnya Filo tumbuh.
Itu pasti karena penyesuaian pertumbuhan, karena telah memberinya makan atau mungkin… Filo mencari makanannya sendiri?
"Kau… meminum ramuan itu juga?!"
Shin mengatakan ini pada Filo.
"Ramuan… Maksudmu itu?"
"Ah. Itu adalah semacam ramuan penyembuh. Saat kau— Kamu sakit, aku menggunakan itu untukmu. Tampaknya yang satunya lagi tumpah… dan kita hanya memiliki dua yang tersisa untuk situasi darurat."
"Begitu. Omong-omong…"
"Apa? Jika kamu merasa tidak enak badan, beritahu aku."
Pipi Rin diwarnai dengan warna merah seperti apel. Dari bibir itu muncul beberapa kata yang membingungkan.
"……Terima kasih."
Dan, dia dengan lembut memindah helai rambutnya ke samping telinganya.
Shin tersentak karena dia pikir itu menggemaskan. Yuasa Rin adalah iblis, tidak mungkin dia bisa membuat ekspresi seperti itu. Dia pikir jika itu adalah Rin yang dia kenal, dia tidak akan berterima kasih seperti itu.
Tapi tidak, ekspresi yang dia tunjukkan padanya sekarang membawa kekuatan penghancur yang sangat besar.
Shin bingung siapa orang ini sebenarnya.
"Pada saat kamu mengalami demam tinggi, aku meminumkanmu ramuan itu lalu sembuh. Kemudian, Filo meminum ramuan itu dan pertumbuhannya semakin cepat. Kesimpulannya begini. Itu artinya… Ramuan ini adalah harapan terakhir kita."
"Harapan terakhir… Tapi, bukannya ramuan itu tersisa dua lagi? Di antara kita bertiga pasti tidak kebagian."
"Kalau begitu, itu adalah bagian kalian berdua."
"Kenapa… bagaimana denganmu? Gimana kalau tiba-tiba kamu jatuh sakit?"
"Tentu, aku berusaha untuk menghindarinya. Jangan khawatir, sekuat apapun musuhnya nanti, aku tidak akan terluka."
"B-bukan begitu… aku tidak bermaksud untuk mengkhawatirkanmu. Hanya saja… aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa."
Dia tampak seperti dia benar-benar ingin membantu. Sepertinya Rin juga mencoba untuk lebih dekat dengan Shin. Niat baik yang tak terduga dari seseorang yang berdebat dengannya sejak tahun pertama di SMP membuat Shin menangis.
"Hei, tunggu, kenapa kamu menangis!? Aku, aku tidak melakukan hal buruk! Aku hanya mengatakan niat baik!"
"Jadi kamu adalah tipe orang yang bisa melakukannya, jika kamu mencoba ingin berbaikan pada seseorang..."
"Bagaimana kamu melihatku sebelumnya?"
"Tidak ada. Mari kita berusaha sekuat tenaga mulai sekarang."
"Kamu pasti meremehkanku!? Jika kamu tidak menginginkannya, aku tidak akan memaksakan rasa khawatir padamu lagi!”
"Kamu bilang 'khawatir' barusan?"
Shin terkikik.
Dia merasa sangat senang karena bisa menjahili orang yang selama ini adalah musuhnya.
"K–kuhh…"
"Kamu telah membantuku. Terima kasih."
"Fufu~ Tidak apa-apa!"
Rin tersenyum sambil memegang pinggangnya dengan ekspresi bangga.
Satu-satunya wajah yang pernah ditunjukkan gadis ini kepadanya adalah wajahnya yang kesal, tetapi ketika dia tersenyum, dia terlihat sangat imut. Matanya berbinar, dan pipinya agak merah.
Dia cantik ketika diam, dan sangat populer di sekolah.
Tapi sekarang, Shin menyadari sesuatu, bahwa gadis ini paling manis saat dia tersenyum.