That Time One Class Summoned In The Another World

That Time One Class Summoned In The Another World
Chapter 32 : Latihan



Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧



_________________________________________


Dalam beberapa waktu, mereka masih melakukan latihan dasar dengan belajar teknik seni bela diri.


Terlihat di Arena Pelatihan, Ayuzawa dan Nene melakukan duel pedang.


Slashhh! *(Sfx: Tebasan)


Sebuah ayunan pedang yang terbuat dari kayu menukik dari bawah dan mengarah pada Nene sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke tanah.


"Kau lengah, Shirasaki." Kata Ayuzawa. "Seharusnya kau lebih memperhitungkan jarak antara musuh." Lanjutnya.


"Sekali lagi," balasnya singkat. 


Tanpa memperdulikan ucapan Ayuzawa barusan.


Ayuzawa menatap Nene kasihan, karena dia selalu gagal dan kalah saat berduel pedang dengannya. Ayuzawa tentu tidak dapat menghentikan Nene yang berusaha karena merasa tidak enak. Meski begitu, Nene terus bangkit dan mencoba berulang-ulang kali melawan Ayuzawa.


Keduanya mengangkat pedang mereka, kemudian melakukan kuda-kuda secara bersamaan, dan dalam hitungan detik, mereka melesat seperti angin yang berhembus.


Crashhh! 


Mata pedang antara mereka saling bertemu, namun perbedaan kekuatan membuat pedang Nene terlepas dari tangan dan terlempar ke udara.


Saat itu, Ayuzawa melihat bahwa tangan Nene bergetar. Tipikal seperti Ayuzawa, dia merasa tidak enak mengatakan yang sejujurnya, namun jika hal itu demi kebaikan orang lain maka dia akan melakukan suatu hal yang akan menyakitkan bagi orang itu juga.


"Shirasaki, kemampuan kita sangat berbeda. Dalam hal ini, aku tidak akan pernah kalah. Meskipun kau mencobanya beberapa kali untuk melawan, kau tidak akan menang."


Ayuzawa benar. Dia adalah seorang ahli pedang, yang disebut sebagai seorang Pembunuh. Gelarnya itu cocok untuk dirinya dengan kepribadian pekerja keras dan baik hati. Dia juga memiliki tubuh yang terlatih namun melengkung. Kecantikan Ayuzawa juga terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan Nene karena perawakannya yang tinggi dan sosoknya yang diberkahi dengan baik sampai-sampai Kesatria Nycto sangat tergila-gila dengannya.


Setelah beberapa detik terdiam, Nene tersenyum pahit.


"Mungkin… kau benar. Sepertinya pedang tidak cocok denganku."


"Tugas Priest, mungkin berfokus untuk membantu tim dari belakang. Bagaimana, kau latihan menggunakan sihir saja Shirasaki?"


"Justru itu, aku tidak terlalu paham tentang sihir…"


Seseorang muncul dari belakang, dan mendengar dari suara dia adalah seorang gadis.


"Nazuna-san. Tolong ajari aku, bagaimana cara menggunakan sihir!"


Dengan mata antusias, Nene mengikuti arahan dan penjelasan dari Nazuna.


"Pertama, kau harus tahu kalau sihir merupakan konsep kemampuan di dunia ini. Yang kedua sihir adalah teknik dengan merapalkan sebuah mantra kuno yang disebut dengan Magis atau Sihir."


Biasanya orang yang dapat menggunakan sihir ialah orang yang memiliki bakat tertentu yang dinamakan sebagai seorang penyihir. 


Namun, adapun sebagian orang yang bukan seorang penyihir mampu menggunakan sihir, namun harus dengan bersekolah dan mempelajarinya dengan giat.


Secara Etimologi, untuk mengaktifkan sihir melalui kata-kata lebih mudah daripada membayangkannya dalam pikiran. Sihir tidak bisa dijelaskan dengan ilmu sains. 


Kemudian pembahasan ini mengarah kepada Sorcery Art atau Seni Sihir. Terkadang ini sangat membingungkan bagiku, tetapi setelah mendengar kata [Magicule Call] atau memanggil sihir yang diucapkan oleh Nazuna sebelumnya.


"Untuk memanggil kekuatan sihir, seseorang harus  mengucapkan perintah mengkombinasikannya dengan elemen tertentu. Itulah yang disebut Sorcery Art atau Seni Sihir." kata Nazuna.


"Kurasa…bagiku kedengarannya itu cukup menyulitkan."


"Pada kenyataannya, itu hanyalah kata-kata yang digunakan untuk mengatur pikiran dan mengarahkan emosi dari kastor untuk memanfaatkan kekuatan imajinasi seseorang. Karena itu, imajinasi pengguna dapat meningkatkan atau menurunkan efektivitas suatu seni."


"Jadi begitu."


Nene mengangguk paham.


"Untuk menggunakan sihir, elemen paling mendasar sangat dibutuhkan. Kamu harus memahami setiap elemen-elemen dasar penting terlebih dahulu dan jika kamu sudah menguasainya, sangat mudah bagi kamu mengkombinasikan suatu elemen lebih dari satu. Agak sulit dijelaskan melalui kata-kata, jadi aku akan menunjukkan kepadamu sebagai contoh lagi."


Nazuna mempraktekkan menggunakan sihir dengan merapal mantra.


"Magicule Call: Api!"


Beberapa detik kemudian, secara ajaib api muncul dari telapak tangannya, bergerak-gerak memproyeksikan sebuah energi magis berwarna merah, lalu melemparkannya ke suatu tempat yang aman dan meledak.


Saat melihat fenomena itu, mata Nene terbuka dengan lebar dan takjub.


"W-wow! Kau sangat ahli, Nazuna-san!"


"Ini hanyalah Elemental Sihir yang mendasar. Jadi ini belum seberapa. Elemen bisa mengubah dunia terjadi dan menciptakan wujud dari ketiadaan. Tetapi dengan menggabungkan sejumlah formula yang tak terbatas, kamu dapat mengendalikan ari, membuat es, membentuk listrik, dan semua jenis elemen lainnya."


"Aku mengerti." Jawab Nene.


Elemen ini terbagi menjadi beberapa bagian yang paling dasar. Elemen tersebut adalah Api, Air, Angin, Tanah dan Cahaya. Kelima elemen tersebut dilambangkan dengan «Elemental Sihir» atau bisa dikatakan itu adalah unsur-unsur yang penting dalam sihir.


Kini dia sedikit memahami tentang sihir di dunia ini.