
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Pada saat pedang telah menyerangnya dari masa depan, Ayuzawa menderita dari luka yang parah pada saat dia menerima tebasan dari ilusi itu.
Tidak—tempat yang tepat dan waktu yang tepat dibutuhkan untuk tebasan pedang agar mengenai target. Tebasan pedang itu akan meleset dari musuh jika waktu dan tempatnya salah.
Jangkauan yang lebih jauh melebihi durasi dari tebasan beruntun dari kemampuan katana nya yang dapat dibanggakan.
Pertarungan jarak dekat melawan pedang penebas masa depan akan benar-benar mustahil.
Pertanyaan adalah apakah serangan Ayuzawa dapat memperpanjang jangkauan tebasannya dengan sebuah katana.
Setidaknya, Ayuzawa sudah siap dengan sedikit keterlambatan pada Sword Art setelah pengaktifan Elemental Sihir.
Itu akan sangat sulit, tapi tidak ada pilihan lain.
Sebuah Sword Art dengan Teknik Rahasia yang telah digabungkan dengan aliran Elemental, pedangnya berubah menjadi aura keunguan dengan petir menerangi tubuh disekitarnya.
Ayuzawa menuangkan semua kekuatannya ke dalam pedang katana nya.
"Pertama kali aku melihat Sword Art dari Kesatria Bloody kira-kira tepat setelah aku mendapat tugas sebagai pasukan militer, kau tahu? Aku tertebas dengan keras saat pertama kali bahkan aku tidak dapat membuat suara. Aku berlari dengan panik, lalu berpikir tentang kenapa aku kalah dengan otak payah milikku untuk beberapa waktu lamanya."
Bekas luka di dahinya yang tertutup oleh poni nya dia usap dengan ujung jarinya berasal dari waktu itu, mungkin.
Dengan teknik kuda-kudanya, matanya hanya melihat ke depan dengan cara menyondongkan pedangnya ke depan sejajar dengan dada dan membungkuk sedikit ke bawah menunggu momentum untuk menyerang. Seolah dia sedang mengunci target di depannya.
Ada momen singkat ketika Karlstahl tidak bergerak dan pada saat dia menarik napas. Hanya satu momen itu yang dia butuhkan.
"Ha!!"
"...?!"
...—Dia… cepat!...
Lalu dampaknya.
Saat dia menutup celah, Karlstahl segera meninggalkan serangan dan mengalihkan semua fokusnya ke pertahanan.
Menyerang dari belakang.
Karlstahl tidak bisa melihat tebasan itu akan tetapi dia berhasil memblokirnya bermodalkan atas nalurinya.
Suara dencingan logam terdengar dan muncul Ayuzawa lalu menghilang. Dalam sekejap, dia tepat di depannya lagi. Dia mengayunkan katananya yang tak terlihat.
Dari sekian banyak jenis permainan pedang dalam pertempuran. Pedang yang cepat tentu saja mengancam dirinya. Bahkan dengan Pedang Penembus Waktu dia tidak dapat menyerang ketika Ayuzawa terus berpindah tempat.
Sepertinya dia menyadari kelemahan terbesar Kesatria Militer Karlstahl, dan sampai saat ini dia belum pernah bertemu dengan seorang pengguna Sword Art sekuat ini.
Tidak ada perasaan haus darah, tidak ada keraguan, tidak ada kesombongan. Ayunan pedangnya sangat alami dan siapapun tidak bisa melihatnya.
Karlstahl memandang kedalaman penguasaan Sword Art Ayuzawa dengan sangat kagum. Keterampilannya terletak di dasar jurang yang tidak bisa dijangkau orang lain.
Dia mempersiapkan dirinya untuk kekalahan yang tak terhindarkan.
"Inikah kekuatan pahlawan yang sesungguhnya… sama seperti yang lainnya, mereka semua mematikan," gumam Karlstahl, dan melemparkan pedangnya ke tanah. Kemudian dia memilih untuk menyerah.
Ayuzawa berhenti, dan terhuyung-huyung.
"Ini pertama kalinya aku menggunakan Teknik Rahasia… rasanya begitu melelahkan."
"Tentu, karena Teknik Rahasia menggunakan Mana penggunanya begitu banyak."
Pada saat itu, latihan duel mereka berakhir.
"Latihannya cukup sampai disini. Kau bisa kembali ke kamarmu sekarang." Kata Karlstahl dengan suara tegas.
"Terima kasih," balas Ayuzawa, kemudian pergi meninggalkan tempat arena pelatihan.