That Time One Class Summoned In The Another World

That Time One Class Summoned In The Another World
Arc II : Para Pahlawan



Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧



_________________________________________


Ini sudah memasuki Arc kedua. Mari kita kembali beberapa minggu yang lalu.


Ayuzawa Makuto menatap sedih pada temannya yang masih tidur. Mereka adalah pahlawan yang dipanggil diberi kamar pribadi di Istana Nyctophiliac, dan saat ini Ayuzawa lah yang menemani Nene di kamarnya.


Ayuzawa merupakan teman Nene yang sangat dekat sejak mereka bertemu pertama kali di kelas satu di tahun pertama. 


Air matanya bahkan tiada henti mengalir dan terus memanggil nama Kiriga dan Rin di dalam mimpinya.


"Shirasaki…"


Dari ekspresinya yang ikut berduka, Ayuzawa justru merasakan hal yang sama betapa sakit hatinya kehilangan kedua teman sekelasnya. Apalagi, mereka berdua adalah orang yang sangat berharga baginya.


Sudah tujuh hari sejak perjuangan hidup dan mati di labirin. Mereka beristirahat semalam di penginapan sebelum naik kereta ekspres kembali ke istana. 


Setelah merasakan kematian dan keputusasaan, para murid dalam kondisi untuk melanjutkan latihan dasar mereka. Selanjutnya, meski dia diperlakukan sebagai boneka yang tidak berguna, seorang anggota party pahlawan telah tewas dan fakta itu perlu dilaporkan kepada raja dan Gereja Suci.


Dan meskipun mereka tahu mereka kejam, para ksatria tak bisa membiarkan semangat para pahlawan yang berjuang hancur. Mereka harus mengembalikan stabilitas mental para murid sebelum jiwa mereka hancur total. 


Saat Ayuzawa mengingat kejadian yang telah terjadi sejak Shin dan Rin tewas, sebagian darinya berharap agar Nene terbangun dengan cepat.


Setiap orang yang mendengar laporan kematian Shin dan Rin pertama kali terkejut bahwa seorang anggota kelompok pahlawan bisa tewas, dan kemudian sebagian merasa lega ketika mendengar Shin yang 'pecundang atau tidak berharga' kini telah tiada.


"Syukurlah itu adalah kematian orang yang tidak berharga yang telah tewas," dan "Aku sangat senang orang yang tidak kompeten disingkirkan dari utusan Dewa Ishtar."


"Kalian mengatakan apa barusan tentang teman kami?!" Geram Ryunosuke, dia menatap tajam ke arah bangsawan tersebut.


"Dia adalah teman sekelas kami yang berharga!" Lanjut Nazuna dengan kesal.


Ryunosuke dan Nazuna gemetar karena marah saat mendengar komentar sinis semacam itu, dan hampir berkali-kali ingin bertengkar dengan bangsawan tersebut. Para bangsawan terdiam, karena memegang status kepahlawanan tentu membuat para bangsawan takut dan menghindari mereka.


Sementara itu, Amanogawa menghadap langsung ke sang Raja. Tampaknya memutuskan bahwa akan berbahaya jika membiarkan pendapat negatif tentang Shin menyebar. 


"Yang Mulia, saya ingin mengatakan bahwa akan berbahaya, jika rumor salah satu pahlawan telah tewas akan menyebar ke seluruh kerajaan. Ini akan berdampak ke istana dan teman-teman kami juga."


"Kau benar. Jangan khawatir, Kami sudah mengurus semua rumor itu agar tidak menyebar di seluruh kerajaan."


"Kalau begitu, saya permisi."


Amanogawa meninggalkan ruangan, menutup pintu dan tersenyum.


Terlepas dari kenyataan bahwa satu-satunya alasan yang tersisa dari mereka yang masih hidup adalah karena Shin menahan monster yang bahkan tidak dapat dikalahkan oleh pahlawan besar Amanogawa. Terlepas dari kenyataan bahwa Shin dan Rin baru saja tewas karena dikhianati oleh telah meninggalkan mereka.


Namun, seakan dengan beberapa kebohongan dan berdasarkan dengan kenyataan, para murid percaya bahwa Shin dan Rin telah tewas terjatuh ke dalam jurang karena serangan monster tingkat atas. 


Semua orang yakin mereka telah berhasil mengendalikan sihir mereka dengan sempurna, tapi ini adalah badai yang sesungguhnya, dan tak ada yang mau mempertimbangkan kemungkinan ada seorang pengkhianat diantara mereka yang menyebabkan kematian Shin dan Rin. Karena jika memang begitu, mereka akan menjadi seorang pembunuh.


Akibatnya, mereka semua tidak mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi, memilih untuk berpura-pura bahwa itu adalah kesalahan pada bagian Shin yang menyebabkan kematiannya. Dan yang terparahnya, ada yang bilang kalau kematian Rin disebabkan oleh Shin karena ikut menariknya ke dalam jurang.


Bagaimanapun, orang mati tidak menceritakan dongeng. Alih-alih khawatir siapa yang membunuh Shin, jauh lebih mudah berpura-pura dia tewas karena kesalahannya sendiri. Dengan begitu, tak ada yang perlu khawatir. Tanpa kolusi dari pihak mereka, semua murid sampai pada kesimpulan itu, dan topiknya tidak dibahas.


Untuk mengungkap kebenaran di balik kematian Shin, Kapten Karlstahl memutuskan perlu menginterogasi para murid. Dia tidak menganggap kebenaran itu sama polosnya seperti akibat dari kecerobohan.


Dan meski memang begitu, itulah alasan untuk mengungkap kebenaran, jadi dia bisa memberi tahu para murid yang membunuh Shin secara tidak sengaja konseling yang mereka butuhkan. Semakin lama masalahnya tetap tidak stabil, semakin banyak masalah yang akan dialaminya.