
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Nama: [Ayuzawa Makuto] | Umur: [17 Wanita] | Level: [12] | Job: [Pendekar Katana - Pembunuh] | Mana: [11.248] | Skill: [Ketahanan Fisik] – [Sihir Tingkat Lanjut] – [Ilmu Pedang] – [Kekuatan Manusia Super] – [Kecakapan Armor] – [Kecepatan] – [Peningkatan Pemulihan Mana] – [Deteksi Kehadiran]
Sejak hari itu di labirin, Nene masih belum sadarkan diri dari mimpinya karena kejadian tragis menyerang mentalnya secara langsung.
Badannya semakin melemah, dalam satu minggu ini dia sama sekali tidak makan apapun.
Dalam mimpinya yang buruk, Nene selalu memanggil nama orang yang dicintainya, Kiriga dan sahabatnya, Rin setiap saat.
Meskipun dia telah berjanji untuk menyelamatkan Shin setelah mereka melarikan diri ke tempat yang aman, kata-katanya ternyata sama hampa seperti yang dia rasakan sekarang.
Teman-teman sekelas yang lainnya, berencana ingin menyelamatkan Shin dan Rin. Namun, Kapten Karlstahl tidak mengizinkan rencana mereka karena masih terlalu berbahaya. Bahkan Yang Muli melarang mereka untuk memasuki labirin dungeon, jadi mereka tidak punya pilihan selain mematuhi.
Di dalam kamarnya Nene, Ayuzawa masih berada di sana untuk menemani Nene sampai sadarkan diri. Kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya, dan mendengar suara bahwa itu adalah Amanogawa Jun, Ayuzawa tanpa pikir panjang langsung mengizinkannya masuk.
"Makoto, gimana keadaannya?" tanya Amanogawa.
Ayuzawa menggelengkan kepalanya, memberi sebuah isyarat bahwa tidak ada perubahan dari hari-hari sebelumnya.
"Menurut dokter tidak ada yang salah dengan dirinya secara fisik. Mungkin dia perlu tidur nyenyak untuk pulih secara mental. Dokter bilang dia akan bangun sendiri pada akhirnya."
"Begitu, ya."
Tanpa memperdulikan Ayuzawa disampingnya, Amanogawa perlahan mendekati kasur dan mendekatkan wajah ke arah Nene.
"Kalau kau tahu... kau akan sangat marah, bukan?" Amanogawa berbisik pelan, lalu meraih tangan Nene.
Dengan ucapan itu, tangan Nene sedikit berkedut.
"Huh!? Shirasaki!? Bisakah kau mendengarku!? Shirasaki!"
Ayuzawa meneriakkan namanya berkali-kali. Akhirnya, kelopak mata Nene mulai bergetar. Ayuzawa terus memanggil nama temannya. Ayuzawa pikir ini adalah sebuah keajaiban ketika Amanogawa menghampirinya.
"Nene!" Amanogawa membungkuk di atas tempat tidur dan menatap Nene, air mata berlinang.
Nene memandang sekeliling dengan linglung, sebelum akhirnya pikirannya mulai bekerja lagi, dan matanya tertuju pada Amanogawa.
"Amanogawa-kun?"
"Ya, ini aku. Amanogawa. Bagaimana perasaanmu, Nene? Apa ada yang sakit?"
"T-tidak, aku baik-baik saja. Tubuhku terasa agak berat... mungkin karena aku tidur begitu lama..."
"Itu benar, kau tidur selama tujuh hari penuh... jadi normal rasanya sedikit mati rasa." ucap Ayuzawa.
Ayuzawa bergegas membantu Nene, yang mencoba bangkit, dan tersenyum sedih saat dia memberitahunya berapa lama dia tidur. Nene mulai bersikap aneh saat mendengarnya.
"Tujuh hari? Bagaimana aku tidur... selama itu... kupikir aku ada di labirin... dan kemudian aku..."
Saat melihat mata Nene semakin jauh, Ayuzawa panik dan mencoba mengubah topik pembicaraan dengan cepat. Namun, ingatan Nene kembali sebelum Ayuzawa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Lalu... ah... apa yang terjadi dengan Kiriga-kun dan Rin?"
"...Yah..."
Ayuzawa meringis, tak tahu bagaimana menjelaskannya. Dari ekspresi cemas Ayuzawa, Nene bisa menduga bahwa mimpi buruk yang dilihat dalam ingatannya memang benar. Namun, Nene masih belum bisa menerima kenyataan pahit itu.
..."Mereka mati." ...
Amanogawa melanjutkan. "Kiriga Shin dan Yuasa Rin, mereka tewas di dalam labirin."
"Ketua!" Bentak Ayuzawa.
Sebelum pikirannya jernih, Ayuzawa langsung membentak ucapan itu. Namun disaat itulah, Nene mulai bersikap aneh.
"...Itu mustahil. Tolong, katakan itu bohong, Ayuzawa-chan. Kalian menyelamatkan Kiriga-kun dan Rin setelah aku pingsan, kan? Benar? Katakan bahwa kalian melakukannya. Aku di istana, kan? Kita semua berhasil kembali dengan selamat ke kastil, bukan? Kiriga-kun hanya... keluar latihan, Rin hanya… keluar mencari makanan kan? Mereka turun di kota, kan? Benar, itu pasti... aku akan pergi memeriksa sekarang juga. Aku harus berterima kasih padanya... tolong beritahu aku, Ayuzawa-chan?"
Mendengar itu, Amanogawa mendecak lidahnya dan menggigit bibirnya hingga pecah dan berdarah, dia jengkel ketika nama Shin diucapkan di hadapannya.
Berkata yang tidak seharusnya dikatakan, tumpah dari mulut Nene saat dia mencoba bangkit dan pergi mencari Shin, tapi Ayuzawa meraih lengan Nene dengan kuat dan menolak untuk melepaskannya.
Meskipun ekspresi Ayuzawa menyedihkan, dia terus mencengkram lengan Nene sangat kuat. Tapi dia tidak ingin mengatakan hal yang bisa menyakitkan hati Nene. Namun dia tidak punya pilihan untuk menyadarkan Nene agar dia bisa menerima kenyataan.
"Shirasaki... kau mengerti, bukan? Mereka tidak di sini lagi."
"Hentikan..."
Nene menunduk dan berusaha menolak kenyataan.
"Kau pasti mengingatnya, Kiriga-kun dan Yuasa..."
"Berhenti, kataku berhenti!"
"Nene! Mereka jatuh ke jurang dan meninggal!"
"Tidak! Dia belum mati! Aku tahu! Berhentilah mengatakan hal-hal yang kejam begitu! Aku tidak akan memaafkan siapa pun karena mengatakan itu, bahkan kau juga, Ayuzawa-chan!"
Nene terus menggelengkan kepalanya, berusaha melepaskan diri dari genggaman Ayuzawa. Tapi Ayuzawa menolak untuk melonggarkan cengkeramannya sedikit pun. Sebagai gantinya, dia memeluk Nene, mencoba menghangatkan hatinya yang beku.
"Biarkan aku pergi! Biarkan aku pergi sekarang juga! Aku harus pergi mencari mereka! Kumohon, aku memohon padamu... aku tahu mereka masih hidup di suatu tempat… jadi kumohon!" Dia berteriak dan memohon pada Ayuzawa untuk membiarkannya pergi, tapi masih terisak-isak ke dadanya.
"Nene…"
Nene memeluk Ayuzawa seperti orang yang tenggelam ke batu, merapat begitu nyaring sampai suaranya menjadi serak. Semua yang bisa Ayuzawa lakukan untuk temannya adalah memeluknya sekuat mungkin. Berdoa agar dia bisa menghilangkan rasa sakit di hati Nene.
Disisi lain, dia juga merasa bersalah dan juga ingin berterima kasih pada Shin karena telah menyelamatkannya waktu itu.