That Time One Class Summoned In The Another World

That Time One Class Summoned In The Another World
Chapter 19 : Pertumbuhan (Part 02)



Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧



_________________________________________


Shin teringat kembali kata-kata yang pernah diucapkannya malam itu. Itu adalah janji yang pernah Shirasaki Nene ucapkan pada Kiriga Shin. 


"Aku akan melindungimu, Kiriga-kun."


Ketika mengingat kata-kata itu, Shin merasa kalau dirinya menyesal dan sedih. Kalau saja, suatu saat jika mereka bisa bertemu kembali, saat itulah Shin akan menundukkan kepalanya dan meminta maaf.


"Shirasaki-san…" ucapnya lirih.


Rin melebarkan matanya bahwa ia terkejut. Ia dengan cepat mengambil kesimpulan, kalau pada saat malam itu, Shirasaki Nene menyatakan perasaannya pada Kiriga Shin. 


Tanpa sadar Rin mengerutkan bibirnya dan berkata.


"Anak itu lumayan cengeng, tapi aku sangat yakin… Dia adalah gadis yang kuat dan ceria dari pada aku. Aku ini adalah gadis yang cengeng, lemah dan tidak bisa diandalkan. Bahkan, saat aku menangis pun… aku tidak bisa berhenti."


"Aku sudah mengenalmu sejak kita masih kecil. Selama ini kau berusaha menyimpan masalahmu sendirian. Kau memang gadis yang cengeng, tapi … bagiku kau adalah wanita yang tabah. Bahkan, di saat kau memiliki masalah, kau selalu mencari tempat untuk bersembunyi dan itu membuatku sangat kesal."


Shin menggenggam tangannya dan melanjutkan. Rin menurunkan bahu, tangannya bergetar dan menunduk lebih rendah karena semua perkataan Shin benar.


"Itu cukup. Kau tidak perlu menyembunyikannya lagi."


Tanpa ia sadari, Rin menjatuhkan air matanya. 


"I–ini… tidak adil…"


Nafasnya tidak teratur, dengan setiap napas tampak menyakitkan. Keningnya basah oleh keringat. Beberapa menetes ke lantai. Wajahnya pun memerah dan mengeluarkan suara mengisak.


Kemudian, ia merasa kalau kepalanya terasa pusing serta tubuhnya semakin melemas. Secara alami itu membuatnya terhuyung ke depan, dan bersujud ke lantai.


"Yuasa-san!"


Shin cepat-cepat berbalik mendengar suara ambruk. 


"… Apakah kau merasa tidak sehat?"


"Tidak apa-apa… aku baik-baik saja… aku hanya istirahat…"


Suaranya kehilangan energi.


Shin meletakkan tangannya di dahi Rin. Rin tidak mendorong tangan itu, dan membiarkannya mengukur suhu tubuhnya. Dahinya terasa terbakar.


"Demammu buruk… Sebaiknya kau tidur kali ini. Aku akan menyiapkan kasur serta futon untukmu."


"Ehm."


Terkuras dari kekuatannya yang biasanya, Rin memberikan jawaban yang jujur dengan mengangguk.


Setelah kasur serta futon dibuatnya selesai. Shin dengan segera mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di atas kasur.


"K, kenapa… kau melakukan ini untukku?"


Dia jatuh ke tempat tidur setelah Shin membawanya ke kasur. 


Kepalanya diletakkan di atas bantal, seluruh tubuhnya diletakkan dengan posisi lurus. Meskipun biasanya bertindak keras, dia sekarang menghembuskan napas yang menyakitkan.


Shin tidak menjawab, dia menutupi Rin dengan futon.


Dia berbalik untuk mencari beberapa material yang dibutuhkan untuk membuat termometer. Dia tidak tahu apakah ini berfungsi atau tidak, akan tetapi tidak ada pilihan lain untuk mencobanya.


"Lebih baik jika kau memeriksa suhu tubuhmu dengan benar."


"…………"


Shin hendak memberikan termometer itu padanya. Akan tetapi, Rin salah menanggapainya.


Rin melepaskan dasi merah dan blazer miliknya. Meskipun berada di depan Shin, Rin mencoba membuka kancing seragam sekolahnya. Namun, dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Tangannya lemah dan bergemetaran.


"Buka mulutmu."


Mendengarkan kata-kata Shin, Rin sedikit membuka mulutnya.


Shin dengan lembut meletakkan termometer di celah di antara bibirnya yang mengeluarkan beberapa napas lemah dan panas.


Rin bahkan tidak memiliki kekuatan untuk memegang termometer dengan benar sehingga Shin membantu untuknya. Termometer menampilkan angka yang sedikit lebih tinggi dari 40 derajat setelah beberapa saat.


"40 derajat, buruk terlalu tinggi… Beri aku waktu sebentar."


Kemudian Shin pergi untuk mengambil air, dan kembali secepatnya.


Dia terlalu lemah untuk bangkit, jadi Shin membantunya untuk duduk. Ia memegang cangkir di mulut Rin dan membiarkannya meminum air. Sulit untuk membiarkannya meminum semuanya sehingga Shin secara bertahap menuangkan air melalui celah-celah di bibirnya.


"Haa…haa…hah~"


Tampaknya bahkan minum air terlalu melelahkan bagi Rin, saat dia bersandar pada Shin, Rin mendesah dengan berat. Tingkat ketidakberdayaan ini tidak biasa baginya.


"Tubuhmu berkeringat…"


Tengkuk Rin basah kuyup, seragam putihnya juga basah oleh keringat. Jika dia dibiarkan seperti ini, dia juga akan masuk angin dan memburuk.


"Tunggu sebentar, aku akan membuatkan handuk dan mengambil air lagi untuk menyeka tubuhmu."


"Um."


Mata Rin sekarang tidak terlalu fokus. Saat Shin meninggalkannya untuk mengambil air, dia melonggarkan seragam putihnya, pinggang rampingnya terlihat sepenuhnya, lalu bra-nya juga terlihat.


"Tunggu, tunggu, kau tidak perlu melepasnya!"


Shin kembali dengan terburu-buru, dan ia melihat bagaimana Rin berniat untuk melepas semua seragamnya. Ia segera menghentikannya. Meskipun akan lebih mudah untuk menyekanya tanpa busana, ketika Rin sepenuhnya sadar kembali, dia reflek menutupi tubuhnya.


"Aku akan membantumu menyeka."


"O–oke."


Shin menggunakan handuk basah untuk menyeka tengkuk Rin.


"Ngh~…"


Rin mengeluarkan suara kecil yang hampir membuat pikiran Shin kacau.


Shin juga menggunakan handuk untuk menyeka keringat dari wajahnya. Shin menggulung lengan bajunya untuk menyeka lengannya. Dia memasukkan handuk ke dalam seragamnya dan menyeka perut hingga ke pinggangnya.


"J–jangan di sana… tempat itu…hngg…"


"Ma–maaf…"


Ini adalah kejadian yang langka tidak berdaya, hal ini tidak pernah dialami oleh Rin sebelumnya.


Tindakan memasukkan tangannya ke dalam baju seorang gadis yang ia benci membuat jantung Shin berdetak lebih cepat.


Setelah menyeka tubuhnya, Shin membiarkan Rin tidur di tempat tidur. Karena demam yang mengerikan, Rin tidak bisa tidur.


Tapi saat itu, Rin bergumam dengan kesal.


"Aku… aku tidak ingin berakhir di sini, ada mimpi yang harus kugapai terlebih dahulu."


"Mimpi?" tanya Shin.


Rin berkata dengan suara lemah.


"Aku ingin menjadi seorang dokter. Seseorang yang dapat membantu orang lain ketika mereka terluka. Aku benci diriku yang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku ingin semua orang yang aku cintai selalu sehat."


Ini perkataan yang jujur, tanpa satu kebohongan dan tipu daya. Shin melebarkan matanya dengan sabar menyaksikan Rin membuka hatinya.


"Waktu itu… Keluarga aku tidak cukup kaya untuk menyekolahkanku di bidang kedokteran. Kemudian aku diberitahu, jika aku setuju untuk menikah denganmu, maka dia akan membiayai kebutuhan sekolah kedokteran aku. Dengan begitu, kupikir aku bisa merawat mama tanpa harus mengeluarkan biaya rumah sakit, tapi ... "


Saat itulah, dia mendapat kabar dari rumah sakit bahwa… Ibunya meninggal dalam keadaan sakit.


"Aku mengerti."


Shin segera memotongnya.


Aku yang hidup di tangan orang kaya tidak diberi kebebasan untuk meriahnya. Sementara itu, Rin berjuang pada mimpinya dengan usahanya sendiri dengan terus belajar dan membuat penghasilannya sendiri melalui sosial media. 


Rin menikah demi mimpinya.


Orang dewasa pasti berpikir itu lelucon tidak berguna dan menertawakannya. Tapi bagi Rin, dan juga bagiku… Mimpi itu adalah hal yang layak untuk diperjuangkan dalam hidup. 


Entah sudah berapa jam, tapi Shin berteriak di dalam dirinya untuk tidak tidur. Dia tidak berpengalaman dengan demam lebih dari 40 derajat seperti ini. Jika itu serius, dia tidak bisa tetap tenang.


—Kenapa aku… Begitu khawatir padanya seperti ini…?


Bahkan Shin sendiri terkejut.


Mengingat bahwa gadis ini adalah musuh bebuyutannya, seseorang yang akan membuatnya kesal hanya dengan bertemu dengannya di sekolah.


Dia selalu kasar, bisa mengubah segalanya menjadi ejekan atau tantangan, tanpa sedikit pun kejujuran. Atau begitulah yang dia pikirkan.


Tapi sekarang, Shin berada di ruangan yang tenang ini, mengawasinya di tempat tidur. Tidak seperti dirinya yang biasanya, dia justru merawatnya dengan hati-hati.


Rin itu orang yang tidak akan mati meski dibunuh. Dia pasti baik-baik saja… 'kan?


"Hahh… Hah…hah~"


Kalau mereka berada di dunia atas, mungkin saat ini sudah lewat tengah malam. Akan tetapi, keadaan Rin justru semakin memburuk. Dia terus mengeluarkan napas berat yang tidak beraturan. 


Nafasnya lebih berat dari yang sebelumnya… apa yang harus kulakukan lagi?


Shin berbisik dalam pikirannya dan tertunduk karena dia tidak bisa tenang memikirkan cara untuk menyembuhkan Rin.


"Aku iri padamu. Kau tidak belajar, tapi nilaimu bagus. Tak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tidak pernah menang darimu. Itu membuatku sangat jengkel dan berakhir membencimu."


"Setiap orang pandai dalam hal yang berbeda, jadi menyerah saja."


"Aku benci dirimu yang seperti itu!"


Tatapannya tidak setajam biasanya. Dan dia mengeluarkan beberapa kata.


"…Dan, aku juga sedikit mengagumimu."


"Mengagumi… Kau kagum denganku?"


Shin tidak bisa memahami artinya.


Dia tidak berharap dia merasa seperti itu mengingat dia biasanya membencinya.


Rin tersentak.


"Tu-tunggu! Yang barusan kukatakan itu tidak seperti yang kau pikirkan! Aku sama sekali tidak mengagumimu! Aku justru sangat membencimu!"


Kepanikannya membuat pernyataan sebelumnya menjadi lebih nyata.


Shin bisa merasakan kalau jantungnya berdebar sangat keras.


Rin panik, memalingkan wajahnya dari Shin, kemudian menutupi wajahnya dengan futon. Melihat wajah sebenarnya dari gadis yang dulu dia anggap sebagai musuh, tubuhnya terasa panas. 


Rin kagum padaku?


Kemudian, Rin menderita batuk parah. Setiap tarikan napas terdengar menyakitkan.


*Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Shin langsung menarik futonnya. 


"Apa kau tidak apa-apa!?"


Saat Shin meletakkan tangannya di dahinya, Rin menggeliat karena itu dilakukan secara tiba-tiba.


"Ini bahkan lebih panas dari sebelumnya. Yuasa-san bertahanlah!"


"Hah…~ Jangan khawatirkan aku lagi, kau bisa meninggalkan aku bersama Filo-chan…"


"Apa yang kau katakan!" bentak Shin. "Aku tidak bisa meninggalkan istriku dalam kesulitan!"


"Eh… ~Istri…"


Mata Rin bergetar, wajahnya memerah.


Apa di tempat seperti ini tidak ada semacam obat-obatan?


Shin melihat ke sekitarnya mengarah kiri dan kanan dengan cepat. Namun ia tidak menemukan semacam tanaman obat di sana. Wajahnya terlihat begitu panik dan gemetaran. 


Lalu, itu terlintas di benaknya.


Mungkinkah, ramuan itu…


Ketika sadar bahwa ramuan itu adalah obat penyembuh, Shin langsung membuka tas kopernya dan mengambil beberapa. 


Dia tanpa pikir panjang memukulkan tangannya ke lantai dengan keras hingga tangannya berdarah, kemudian langsung meminum satu botol ramuan dan menunggu beberapa saat.


Lukanya sembuh, dan seluruh tubuhnya terasa hidup kembali. Kemudian dia mengambil satu botol lagi untuk diberikan pada Rin.


Rin hampir kehilangan kesadarannya, nafasnya semakin berat.


"Bertahanlah, Rin!"