
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Nama: [Nazuna Ashina] | Umur: [17 Wanita] | Level: [17] | Job: [Penyihir - Witch of Calamity] | Mana: [259.713] | Skill: [Penghalang Multi-Dimensi] – [Sihir Tingkat Lanjut] – [Ilmu Sorcery Art] – [Kekuatan Manusia Super] – [Manipulasi Ruang dan Waktu] – [Pengamat] – [Peningkatan Pemulihan Mana] – [Manipulasi Imajinasi] – [Deteksi Kehadiran Multi-Guna]
Latihan masih berlanjut, namun Ayuzawa dipanggil oleh Kapten Karlsathl untuk berlatih pedang.
Sekarang di sana hanya mereka berdua, Nene dan Nazuna.
Setelah mengerti apa itu elemen dasar. Nazuna menyuruh Nene untuk mencoba mempraktekan sendiri dengan menciptakan Elemental Sihir.
"Untuk belajar sihir, hal yang paling diperlukan adalah imajinasi mu. Semakin banyak imajinasi mu yang kau miliki, itu semakin bagus," kata Nazuna. "Sebaiknya kau coba sendiri, Shirasaki."
"Imajinasi… ya, akan kucoba."
Nene mengulurkan tangan kanannya sejajar dengan dada, dan melebarkan telapak tangannya. Kedua matanya berfokus pada satu titik di telapak tangan, dan mulai membacakan Sorcery Art seperti yang diajarkan oleh Nazuna.
Sorcery Art atau Seni Sihir ini diciptakan oleh Nazuna itu sendiri. Mungkin hanya dialah manusia satu-satunya di Axiys sebagai seorang penyihir yang paling cerdas dan terkuat.
"Magicule Call: Api!"
Nene merapalkan mantra nya, namun…
…………tidak berhasil.
"Kenapa?" tanya Nene bingung.
"Ingat, Sorcery Art ini bergantung pada imajinasi. Jika kau mau menggunakan api, bayangkan seperti ingin menyalakan korek api. Kata 'Magicule Call' adalah untuk meminta elemental yang kita inginkan. Sedangkan kata 'Api' adalah kunci untuk mewujudkan unsur elemental. Ini yang disebut Sorcery Art." jelas Nazuna.
"Bayangkan api yang menyala, bagaikan ingin menyalakan korek api…"
Nene menutup matanya dan membayangkan ketika dirinya ingin memasak, lalu menghidupkan kompor gas.
"Magicule Call: Api!"
"Gas?"
Melihat dari reaksinya, Nazuna agak terkejut.
"Aha! Berhasil, berhasil! Apinya muncul, Nazuna-san."
"Kau berhasil, Shirasaki."
"Aku merasa ada sedikit kemajuan."
"Bagaimana kau bisa membuat api berwarna biru se-stabil ini? Apa yang kau bayangkan untuk membuat elemental ini?" tanya Nazuna, untuk memuaskan rasa penasarannya.
"Aku ingat saat ingin membuat bekal untuk Kiriga-kun, waktu itu aku kesulitan untuk menyalakan kompor gas dan pada akhirnya aku bisa menyalakannya…"
Saat Nene tidak menyadari bahwa dirinya mengungkap hal yang tidak ingin diketahui oleh orang lain, namun dia sendiri lah yang membeberkannya.
"Ahaha… begitu ya…"
Nazuna tertawa kecut mendengarnya. Itu membuat Nene sejenak berpikir dan menyadari betapa memalukannya dirinya.
Seluruh wajahnya berubah merah muda seketika.
"A-a-aku…"
"Kau sangat imut ketika malu, Shirasaki. Mungkin jika ada Kiriga di sini, dia akan langsung menyukaimu."
"Duh… jangan katakan hal yang tidak mungkin…" Nene tersipu-sipu malu.
Kemudian Nazuna perlahan memeluk Nene dengan lembut. Hal itu membuat Nene merasa agak terkejut dan nyaman.
Nazuna membisikan kata-kata.
"Aku akan mendukungmu. Kita akan menyelamatkan teman-teman kita, dan membawa mereka kembali. Jadi, jangan khawatir. Aku pasti akan membantumu."
"Terima kasih, Nazuna-san."