That Time One Class Summoned In The Another World

That Time One Class Summoned In The Another World
Chapter 38 : Penawaran (Part 02)



Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧



_________________________________________


Sang raja kembali bernegosiasi pada mereka untuk meningkatan kemampuan yang mereka miliki dan menambah wawasan mengenai dunia ini.


"Aku akan memberikan penawaran. Bagaimana kalian untuk sementara ini masuk sekolah Akademi Pedang dan Sihir terkenal yang ada di pusat ibukota?"


"Akademi Pedang dan Sihir?" tanya Nene.


"Maksudmu… Apakah kita akan belajar ilmu sihir di suatu sekolah?" tanya Nazuna.


"Ya, kalian perlu menambah wawasan sebelum kembali ke labirin bawah tanah."


"Bagaimana dengan hidup kami di sana tanpa ada uang?" tanya Ryuunosuke.


"Tentu saja, aku akan menjamin semua fasilitas, makanan dan penginapan kalian selama di Akademi. Kalian bisa masuk ke Akademi melalui jalur Pahlawan."


Akademi Pedang dan Sihir mempunyai beberapa jalur untuk bisa memasuki sekolah itu. 


Pertama, jalur Bakat. Siapa saja orang yang memiliki kemampuan atau bakat alami akan langsung diterima oleh Akademi.


Kedua, jalur Bangsawan. Setiap bangsawan memiliki hak khusus untuk memasuki Akademi tanpa adanya aturan untuk melakukan pendaftaran.


Ketiga, jalur Umum. Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk bersekolah paling bergengsi di Akademi Pedang dan Sihir yang berada di pusat ibukota Nyctophiliac. Namun, hanya beberapa orang yang bisa lolos melalui jalur Biasa ini. Karena kebanyakan dari mereka tidak mempunyai Bakat ataupun kemampuan syarat untuk memasuki Akademi. 


Keempat, jalur Pahlawan. Ini merupakan jalur yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam hal ini, jalur Pahlawan paling unggul di sini. Karena mereka mempunyai kebebasan untuk memilih. Dan bisa kapan saja mengikuti pembelajaran tanpa adanya aturan dan hukum. Kebanyakan para bangsawan akan lebih menghormati para pahlawan daripada orang yang memiliki bakat karena merasa mereka tidak spesial.


"Begitu, ya."


"Di Akademi Pedang dan Sihir, kalian mungkin akan bertemu dengan Kesatria Suci di sana dan beberapa orang hebat terkenal akan kekuatannya," sang Raja menghela napas. "Kuperingatkan kalian jangan membuat keributan di sana."


"Memangnya kenapa?" tanya Nene.


"Jujur saja, dibandingkan dengan kalian, level mereka sangat jauh dari kalian semua. Jadi sebaiknya kalian lebih berhati-hati…" sang Raja menjeda. "Yah, meski itu bohongan sih."


Semua orang di dalam ruangan terkejut oleh lelucon sang raja itu.


"Apa dia ini benar-benar seorang raja…?" tanya Ryunosuke dengan ragu.


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu besar dan beberapa prajurit di depan membukakannya.


Dia adalah Ayuzawa Makuto.


"Ayuzawa-chan… kau telat." Celoteh Nene.


Ayuzawa tersenyum kecut. 


"Maaf, aku habis dari latihan," katanya, kemudian berjalan menghadap sang raja. "Perihal apa yang ingin Yang Mulia bicarakan?" tanya Ayuzawa.


"Aku hanya ingin membuat tawaran pada kalian. Untuk saat ini, kekuatan dan kemampuan kalian memang sudah kuat dari manusia normal. Namun, ada beberapa hal yang harus kalian pelajari sebelum bertarung lagi ke labirin bawah tanah. Oleh karena itu, aku ingin kalian masuk ke Akademi Pedang dan Sihir."


"Akademi Pedang… apakah aku bisa belajar pedang di sana?!" tanya Ayuzawa dengan bergairah.


"Tentu." 


"Kau mau ikut juga, Ayuzawa-chan?" tanya Nene meraih tangannya Ayuzawa.


"Ya," angguk Ayuzawa. "Aku juga ikut. Aku ingin mengasah ilmu berpedang ku lagi. Mungkin saja aku bisa bertemu orang kuat di sana!" kata Ayuzawa dengan antusias.


Nene tertawa kecil.


"Kau sedikit berbeda, Ayuzawa-chan…"


"Ketahuan, ya?" Ayuzawa tertawa malu. "Aku juga… ingin menjadi lebih kuat."


Semenjak dia berduel dengan Karlstahl. Ayuzawa terlihat ingin menjadi lebih kuat. Untuk mengukur kekuatannya, dia harus menemui orang yang  kekuatannya setara dengannya untuk tempat berlatih.


Sedikit agak terkejut, Nene menatap intens Ayuzawa, mengulurkan tangan kanannya dan mengatakan.


"Mari kita menjadi lebih kuat bersama."


"Ya!"


Kemudian Nazuna dan Ryunosuke juga mengikuti mereka mengulurkan tangan mereka.


"Aku juga." Kata Amanogawa mengulurkan tangan dan saling berjabatan secara bersamaan.