That Time One Class Summoned In The Another World

That Time One Class Summoned In The Another World
Chapter 23 : Sang Pencabik Tengkorak (Part 02)



Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧



_________________________________________


Shin segera melirik ke belakang. Namun, Rin masih ada di sana. Ia terlihat menoleh ke arah Shin, dan melambaikan tangannya.


Kalau begitu… siapa yang melakukannya barusan?


Kekuatan yang melesat begitu cepat bukanlah main-main. Jika itu adalah semacam teknik sihir atau semacamnya, maka mustahil seorang Rin yang merupakan seorangan {Diva} bisa melakukan serangan kuat seperti itu.


Lihat. Monster sebesar itu kehilangan keseimbangan setelah menerima pukulan keras. Tapi… yang menjadi pertanyaan di sini, siapakah yang melakukannya. Mengapa Rin melambaikan tangannya Shin seolah bukan dia yang melakukannya.


Namun, Shin memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke depan lagi. Karena debu, dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa dibalik asap putih itu. Pertama kali mereka masuk ke ruangan, Shin sama sekali tidak melihat orang lain selain mereka bertiga melewati koridor yang luas itu.


Ketika asap putih itu langsung menyebar dan menghilang ketika angin menerpa.  


Shin bisa melihat dengan jelas, dan yang berdiri di depannya adalah Filo. Filo berdiri menghadapi si Sentadu, mengepakkan sayapnya sekali yang membuat debu di sekitarnya menyebar.


"Filo?!"


Tentu saja pemandangan itu membuat keterkejutan masing-masing. Shin terkejut saat melihat monster sebesar itu tumbang hanya dengan sekali serangan, sedangkan Rin yang bahkan berada di posisi paling belakang, tidak menyadari kalau Filo tiba-tiba menghilang di sampingnya.


Kemudian, Filo berbalik dan menyahut dengan mengepakkan sayapnya.


"Fiii!"


Shin tersenyum lebar dan puas, ia merasa seperti melihat sebuah harapan besar untuk mereka bisa keluar dari labirin ini. Harapan yang membuatnya bangkit dan berdiri mengangkat pedang baja dengan kedua tangannya yang bergidik.


Saat itulah, Rin mencoba untuk tidak berdiam diri dan berlari untuk mendekati Shin. Selama itu, Rin telah mengamati kelemahan monster Sembah. Oleh karena itu, dia mencoba nekat untuk memberitahu Shin mengenai kelemahan si Sentadu.


"Jika kau memukul kakinya---kita bisa membuatnya lumpuh dan mengalahkannya, aku yakin! Jika itu kita, maka hal ini mungkin!!"


Shin sempat kaget lagi mendengar suara Rin berteriak begitu dekat. Dia mengangguk. Hanya dengan tahu Rin disampingnya memberikan kekuatan tak terbatas.


Namun, hanya dengan melumpuhkannya sepertinya itu tidak cukup untuk menahan serangan dari sabitnya. Shin berpikir keras untuk itu, celah-celah yang bisa diatasi dengan levelnya yang saat ini. 


Meski di luarnya Shin terlihat seperti orang pemalas dan orang mati, namun dia sebenarnya cukup pintar dan ahli dalam hal seperti ini. Hal yang berhubungan dengan game strategi dalam penyerangan. Dia harus memikirkan kelemahan dan celah untuk menyerang.


Dia tidak begitu yakin apakah Filo memahaminya atau tidak, Shin menguatkan suaranya dan berteriak.


"Aku akan menghentikan sabitnya! Filo kau serang kakinya! Sedangkan, Rin bernyanyilah untuk kami!"


"Fii!"


Filo mengepakkan sayapnya sekali seolah-olah bahwa ia mengerti. Sementara Rin mengangguk dan mengambil langkah mundur. Dia mengambil jarak sepuluh meter dari Shin dan bersiap untuk bersenandung.


"Ok—ayo selesaikan ini!" 


(Source: Yuna (CV : Sayaka Kanda) - Longing)


♫ Pasti akan kudapatkan... ♫


Rin mulai mengalunkan lagunya. Dengan begitu, Shin bisa merasakan bahwa tubuhnya dan kekuatannya meningkat pesat. Berkat nyanyiannya itu, Shin dapat mengangkat pedang baja nya dengan tangan kanan dan membuat lagi satu pedang baja lagi di tangan kirinya.


Shin cukup ahli dalam menggunakan dua pedang sekaligus. Karena dia juga sering berlatih seni bela diri di rumah dojo bersama kakeknya. Sebelumnya juga, Shin memperlihatkan keahliannya dalam menggunakan seni pedang yang sempat membuat Pemimpin Ksatria Militer Nycto (Karlstahl) terkesiap dengan teknik berpedangnya yang unik.


Oleh karena itu, dia terlihat sangat percaya diri untuk bisa memancing dan menahan sabit si Sentadu yang besar itu. Sementara, Filo akan menyerang kakinya yang bertujuan untuk melumpuhkannya. 


Dan Rin bertugas sebagai karakter pendukung yang berada di posisi teraman. Nyanyiannya merdu bergema ke sepanjang koridor dan ruangan.


♫ Kemana kita akan pergi ♫ Kita masih belum tahu ♫ Jika kau mengepakan sayap yang tercipta ini ♫ Kau bisa terbang dengan kuat dan tinggi ♫ Wahai keinginan, tetaplah di sisiku selalu ♫


Sabit itu membidik terfokus pada Shin saat ia berlari mengelilingi si Sentadu untuk mencoba memancing penglihatannya. 


Saat sabit itu mulai menyerang, Shin berhenti di tempat yang dapat mengantisipasi sabitnya secara langsung dan menahan dengan gerakan pedang memotong vertikal kiri menuju ke atas.


"Filo sekarang!"


Begitu Shin berteriak, Filo menatapnya.


"Fiii!!"


Filo sangat cepat, sehingga kecepatannya seolah ia terlihat berlari di udara, mengencangkan kakinya dan menendang salah satu kaki si Sentadu. Bahkan, mungkin kekuatannya bertambah sepuluh kali lipat dari yang sebelumnya berkat pemberian buff dari Rin.


Suara benturan keras terdengar menggema di seluruh ruangan.


"—Kriiiiiiiiiiiiickik…!" Sembah menjerit.


Satu, dua, dan tiga kaki si Sentadu itu patah, dia kehilangan keseimbangan untuk berdiri namun masih bisa menggerakkan kedelapan kakinya yang tersisa. Kalau dihitung, kaki si Sentadu itu berjumlah dua belas. Sedangkan, Filo sudah menghancurkan kakinya sebanyak empat kali. 


♫ Tanpa menyerah pada hal mustahil ♫ Ayo selesaikan sesuatu yang sudah terulang ♫ Aku berdiri di bukit yang terlihat di kejauhan ♫ Pasti akan kudapatkan keinginanku...... ♫


Sedangkan Rin bernyanyi untuk memberikan kekuatan tak terbatas, meski dia mulai agak lelah akan tetapi dia terus mengalunkan lagunya sampai berhasil mengalahkan monster ini.


"Fiiho!!"


Filo berteriak halus. Menendang kaki si Sentadu di bagian belakang, hingga membuatnya terjatuh ke lantai. Dan, Shin merasa kekuatan dari sabitnya melemah dan melemparkannya ke atas lalu menghindar.


"Grh!"


Sabit itu juga jatuh dengan sangat keras ke lantai dimana tempat Shin menahannya. Saking kerasnya sabit itu, lantai di bawahnya langsung retak dan berlobak. Jika saja, Shin tidak menghindari tempat itu mungkin dia sudah tewas tertindih sabit besar itu.