
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
"Hei..."
Shin menyadari bahwa Filo semakin berubah. Kakinya menyusut, sampai dia kelihatan seperti penguin raksasa.
"Filo!"
Bahkan suaranya berbeda. Filo sekarang berwarna putih total.
Filo kelihatan setinggi 2,3 meter sekarang ini. Tapi seluruh tubuhnya tampak lebih kekar sekarang, seolah dia kehilangan tinggi badannya karena membesar secara horizontal. Wujudnya jadi dramatis. Dia seperti... salah satu dari maskot gemuk yang lucu yang bisa kau jumpai di taman-taman hiburan.
"Apa kau membesar?"
"Filo?"
Shin terkejut melihat reaksi Filo justru seolah ingin memahami kata-katanya.
"Bukan apa-apa."
Apa Filo sadar dengan perubahan yang sedang dia alami? Sangat sulit untuk menyebutkan monster jenis apa dia ini sekarang.
Shin berdiri di belakang Filo, hanya untuk skenario terburuk dia mengeratkan genggaman tangannya dari tungkai pedangnya.
Kalau benda sekeras itu tidak bisa dihancurkan secara langsung, maka hanya ada satu cara untuk menghancurkan Core Existence tanpa menyentuh. Itu adalah sihir.
Dengan menggunakan sihir yang berada di tingkatan tertentu, seseorang bisa menghancurkan Core Existence itu dengan mudah. Selain itu, beberapa Core Existence memiliki sejumlah energi yang disebut Elemental.
Untuk menghancurkan Core Existence itu artinya seseorang harus memahami terlebih dahulu apa itu elemental dan Counter Elemental (cara untuk menangkalnya).
Terkadang setiap monster memiliki elemental satu atau dua yang berbeda-beda. Namun, monster kali ini tidak mempunyai elemental sama sekali. Dengan mata spesialnya itu, Shin seharusnya sudah mengetahui hal itu.
Sementara hal yang paling membingungkan di sini adalah tingkah lakunya Filo yang bersifat menggemaskan dan lucu.
"♫ Fi… Fii… Fi… ♫"
"Bukannya lagu ini…"
…Adalah lagu yang dinyanyikan Rin saat mereka pertama kali bertemu dengan Filo.
Shin mendengar Filo sedang bernyanyi, dia juga terlihat seperti meniru gaya-gaya Rin saat bernyanyi dengan mengangkat tangan sebagai sayapnya ke atas. Kemudian Filo berbalik menghadap ke arah Shin dan menatap pedang yang sedang di pegang Shin.
Matanya terbelalak saat melihat kedua pedangnya bercahaya, cahaya biru menyelimuti pedangnya dan juga terasa ringan. Bahkan tingkah lakunya Filo terlihat mirip seperti Rin yang membuatnya agak terkejut.
"Ini semacam skill pendukung… tidak, sepertinya bukan."
Shin memperhatikan seluruh pedangnya diselimuti oleh cahaya, dengan mata hijau limaunya mengindentifikasi kekuatan misterius itu.
"...Ensensi Magis?"
Saat ia mulai memikirkan itu, Shin terkejut ketika tangan kirinya digenggam oleh seseorang.
"Gwa!"
Shin sontak berteriak dan berbalik. Orang itu berambut panjang coklat yang diikat ekor kuda adalah Yuasa Rin.
"Tidak ada waktu untuk terkejut! Aku akan bertarung!"
Namun, mereka mengira bahwa Shin terkejut karena Rin tiba-tiba muncul di belakangnya. Akan tetapi Shin sepertinya terkejut dalam hal lain.
"Kenapa kau— Tidak, kenapa kamu malah kemari?!"
(Kebiasaan Shin kalau lagi panik sering keceplosan manggil 'Kau Kau Kau' padahal Rin udah ngelarang dia buat manggilnya gitu)
"Aku tidak mau terus berdiam diri!"
Rin mengeratkan genggamannya pada tangan kiri Shin yang memegang pedang. Tampaknya, Rin berniat untuk mengambil pedang tersebut dan memaksakan dirinya untuk menyentuh senjata.
"Rin…"
Seperti yang kita tahu kalau Rin sangat sensitif saat melihat senjata tajam. Ketika melihatnya, Rin pasti akan teringat masa lalunya dan membuatnya muntah secara alami.
Namun kali ini berbeda, Rin kelihatan sedang serius.
Tentu sebagai teman masa kecilnya, Shin sudah menyadari kalau Rin sedikit berubah semenjak mereka tiba di dunia ini.
Shin memutuskan untuk memberikan pedang yang ada di tangan kirinya pada Rin. Pedang itu sama juga dialiri oleh sihir kuat dari Filo.
Kemudian, Rin menerimanya dengan memberanikan dirinya serta mentalnya untuk memegang pedang itu dengan kedua tangannya.
Meski wajahnya seketika pucat dan tangannya gemetar, Rin memaksakan dirinya mengangkat pedang itu dengan kedua tangannya. Dia tersenyum pahit menelan rasa takut, hingga seluruh tubuhnya berkeringat dingin.
Dan berbisik di dalam dirinya sendiri.
"Aku… berhasil."
Rin tentu membuat kebanggaannya sendiri dalam hal ini. Baginya itu suatu pencapaian yang besar untuk mengubah hidupnya lebih kuat.
Dia membuat wajah serius sambil memegang sebilah pedang dengan erat dikedua tangannya. Ketika melihatnya, Shin agak sedikit terkesan dan tersenyum seolah telah membaca kalau mereka yang akan menang.
"Kita selesaikan ini bersama. Ayo Rin!"
"Ya!"