
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Tepat pada saat itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Ryunosuke dan Nazuna masuk ke kamar, Mereka datang untuk memeriksa Nene. Tampak jelas bahwa mereka segera bergegas setelah mendapatkan kabar baik dari Amanogawa, karena kotoran tanah masih menancap di seragam mereka.
Sejak kejadian di labirin, keduanya telah berlatih lebih keras dari sebelumnya. Mereka juga terpukul cukup keras oleh kematian Shin dan Rin juga.
Lagipula, mereka adalah orang-orang yang menolak untuk mundur, yang menyebabkan krisis yang hampir fatal yang harus diselamatkan Shin dari mereka.
Mereka berdua berlatih keras sehingga mereka takkan pernah melakukan sesuatu yang begitu tak sedap dipandang lagi.
"Makoto! Apa Shirasaki sudah bang... un...?"
Nazuna terkejut dan senang ketika melihat teman sekelasnya baik-baik saja.
"Ya, bagaimana kabarmu sekarang ini Shirasaki-san...?" tanya Ryunosuke padanya.
"Um, baik."
"Syukurlah, kalo gitu." Ryunosuke bernapas lega.
Di sisi lain, Ryunosuke dan Nazuna terlihat semakin dekat. Orang-orang disekitarnya bisa menilai bahwa mereka sudah berpacaran semenjak kejadian di labirin.
Kemudian Nene bertanya balik.
"Bagaimana dengan kalian? Kelihatannya baik-baik saja?"
"Ya, kami baik-baik saja. Aku dan Nazuna baru saja selesai latihan dan ingin menjadi kuat. Sejujurnya aku merasa kesal karena tidak melakukan apa-apa waktu itu. Sementara, Shin berusaha untuk menolong kita semua…" Ryunosuke dan Nazuna menundukkan kepalanya menghadap Nene dan meminta maaf.
"Maaf!"
"Maaf!"
Mereka sangat menghormati sosok Shirasaki Nene. Di antara teman sekelas lainnya, hanya dia seorang yang mampu menunjukkan perasaan yang jujur terhadap orang yang dia cintai.
Tentu saja, Ryunosuke dan Nazuna tahu kalau Nene sangat menyukai Shin waktu di sekolah.
Nene terbelalak, kemudian tersenyum kecil.
"Terima kasih, teman-teman sudah mengkhawatirkan ku, tapi aku baik-baik saja kok!"
"Shirasaki-san…"
Beberapa saat setelah itu, ada suara yang terdengar. Suara itu berasal dari perutnya Nene, membuat yang lainnya bengong dan tertuju hanya pada Nene.
Grrreeoook~ *(Sfx: Cacing Perut)
"M-maaf! Aku merasa sangat lapar…"
Nene tersenyum malu, dan berlindung di balik bantal untuk menyembunyikan wajahnya.
"K-kami akan pergi mengambil makanan sekarang! Ayo Chiba-kun!"
Nazuna bergegas pergi mencari tangan sambil menarik tangannya Ryunosuke.
"Mereka pergi…"
Setelah itu, Nene perlahan meletakkan kepalanya diatas pangkuan Ayuzawa dan berbaring, sehingga itu membuatnya terkejut.
"Shirasaki?"
"Kau bisa manggil aku 'Nene' kok seperti yang lainnya."
"Kalo gitu, Nene…"
"Ya. Lebih baik begitu. Tapi… ya, tidak kusangka mereka sudah berpacaran. Ryunosuke-kun dan Nazuna-san."
"Iya, mereka tampaknya sudah berhubungan baik. Dulu saat kami bertiga masih duduk dibangku SD, mereka berdua tidak seakrab yang sekarang. Ryu dulu dikenal sebagai anak yang nakal, sedangkan Shina adalah anak yang pendiam dan pintar. Sifat mereka sangat bertolak belakang."
"Meski begitu...aku sangat iri dengan mereka. Gimana caranya mereka bisa sedekat seperti sekarang?"
"Itu karena... Ryu mengakui kesalahannya dan menerima Shina sebagai temannya."
"Memangnya dulu Ryu pernah melakukan apa terhadap Shina?"
"Dulu Ryu dan teman-temannya, sering membully Shina dengan mengganggunya dan mengacaukan hidupnya saat di sekolah maupun di luar sekolah. Meski begitu, Shina, selalu ingin berteman dengannya. Dia ditolak berkali-kali dengan cara melemparnya batu dan membuang buku sekolahnya ke dalam air."
"Aku tidak percaya…"
"Yah, kurasa setiap orang memiliki cerita mereka sendiri dan menjadi tokoh utamanya. Begitu juga denganmu, Nene."
"Aku?"
"Kau sangat menyukai Kiriga, bukan?"
"E-e-e-eehhhh?!"
Sontak Nene kaget dan mengangkat kepalanya dari pangkuan Ayuzawa, serta wajahnya memerah.
"Kenapa kagetnya sekarang? Semua orang sudah tau kalau kau menyukainya."
Ayuzawa tersenyum dan tertawa kecil melihat ekspresi lucu yang dibuat oleh Nene.
"Duh, apanya yang lucu…"
"Tidak, kurasa kau sangat cocok dengan Shin. Saat di sekolah dia itu kelihatannya seperti orang cuek, tapi tidak disangka dia orangnya sangat baik. Terlebih… jika ada kesempatan bertemu dengannya, aku ingin sekali berterima kasih padanya."
"Um."
Nene mengangguk malu.
Tidak lama kemudian, Ryunosuke dan Nazuna datang kembali dengan membawakan Nene banyak makanan yang tersaji di atas meja.
"Kami kembali membawa hidangan!"
"Kau bisa makan sepuasnya, Shirasaki-san!" Ucap Ryunosuke dan Nazuna bersamaan.
Di atas meja, tersaji makanan nasi, daging bakar, daging rebus, sayuran dan buah-buahan.
"Woah! Apa aku boleh makan semuanya?"
"Tentu, silahkan dinikmati!"
Rasa lapar yang tak tertahankan membuat Nene memakan semuanya sehingga tidak memperdulikan sekitarnya, karena Nene sudah satu minggu tidak makan apapun, dan itu membuat berat badannya turun drastis.