That Time One Class Summoned In The Another World

That Time One Class Summoned In The Another World
Chapter 24 : Sang Pencabik Tengkorak (Part 03)



Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧



_________________________________________


Tepat setelahnya sambil bertarung hingga setengah mati, Shin mengalami perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ini pengalaman yang sangat surealis. Seakan dia dan Rin menyatu dalam satu irama.


Namun, efek buff yang diberikan Rin kini telah menghilang dan membuat tubuhnya kembali seperti semula.


Mana yang dimiliki mereka terus berkurang sedikit demi sedikit karena terlalu sering menggunakan skill pahlawan, tapi mereka sudah tak memikirkan hal-hal semacam itu. 


Terutama bagi Rin, skill pahlawan yang dimilikinya memakan lebih banyak mana dengan tingkatan irama dan melodi tertentu. Meskipun dia bisa memulihkan mana seseorang, tapi dia tidak bisa memulihkan mana nya sendiri. Rin masih belum mengerti caranya untuk mengatur mana nya sendiri agar tidak habis.


Sedangkan mana adalah bentuk inti energi yang ada di alam dan di dalam manusia. Ini adalah sumber atau inti dari semua dunia Axiys. Energi ini secara alami ada dan mengalir di lingkungan dan di dalam setiap orang.


Mana juga aspek penting dari setiap orang yang hidup dan menyimpan mana mereka di dalam tubuh mereka, karena itu adalah sumber kekuatan. Mana memiliki wujud seperti aura yang keluar dari tubuh manusia. Lebih jauh lagi, ketika seseorang menggunakan semua mana mereka, itu bisa menyebabkan mereka kelelahan parah dan akhirnya membuat mereka pingsan.


Shin melirik ke belakang untuk memastikan apakah Rin masih bisa bertahan atau tidak.


Rin terngah-engah dan berkeringat. "Hah…hah…"


Rin bahkan bisa merasakan bahwa tubuhnya terasa panas dan menyulitkannya untuk bernafas. Kelelahan secara tiba-tiba menggelayuti tubuhnya dan Rin berlutut ke lantai karena dia sudah tidak kuat untuk menahannya.


 


Dia telah memaksakan dirinya untuk bernyanyi, karena dia adalah pahlawan dengan julukan {Diva}, agar kemampuan pahlawannya bisa aktif, Rin harus bernyanyi dengan menggunakan mana nya hingga saat-saat terakhir. Takkan aneh bila dia tumbang karena kelelahan, terlepas dari mana yang terkuras.


***


Pertarungan berlanjut selama sejam, tapi belum berakhir.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Filo mendekati Shin dan mengepakkan sayap sambil berbicara sesuatu.


"Fi! Fii!"


Filo mengarahkan sayapnya ke suatu tempat, ia seperti ingin menunjukkan sesuatu padanya. Namun, tampaknya Shin tidak terlalu paham apa yang dimaksud sebenarnya oleh Filo.


"Fi! Fii!"


"Kau bicara apa…"


Kemudian dia mengikuti sayap Filo menunjuk ke arah si Sentadu, lebih tepatnya dia ingin mengatakan bahwa monster itu dapat dikalahkan dengan menghancurkan inti kehidupannya. Dan inti tersebut terletak di bagian tengah tubuh si Sentadu itu.


"Kau ingin menunjukkanku sesuatu?"


"Fii!"


Filo melompat riang kalau akhirnya si ayahnya yang bodoh ini dapat memahaminya. Meski tidak begitu paham artinya, Shin menyipitkan matanya dan mencoba melihat lebih jelas sesuatu yang terdapat di bagian tubuh Sembah itu.


(Itu pendapat Author pribadi yak, bukan Filo)


Setelah berpikir hampir lima menit, Shin menyadarinya.


"Rupanya begitu. Ini benar-benar mirip seperti dalam game, bos monster hanya bisa dikalahkan dengan mengurangi HP-nya atau menghancurkan inti kehidupan secara langsung. Terima kasih, Filo!"


"Filo!"


Filo menunduk lebih rendah dan menyuruh ayahnya untuk naik ke atas punggungnya.


Setelah Shin naik ke punggungnya, Filo berdiri dan langsung berlari dengan cepat sebelum si Kelabang itu bisa menggerakan sabitnya.


"Kita akhiri game ini sekarang!"


Shin memegang kedua pedang bajanya sekaligus lurus ke atas. Karena kemampuan fisiknya bertambah sepuluh kali lipat, Shin terbiasa memegang kedua pedang baja sekaligus dan tanpa ia sadari bahwa buff itu telah menghilang sejak Rin tumbang.


\=\=⟩ *Chapternya aku potong-potong yak, aku lagi nyusun alur cerita lagi untuk selanjutnya. Sabar yak...