
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Ayuzawa perlahan berjalan mengelilingi untuk menjaga jarak dan mencari celah untuk menyerangnya.
Jarak mereka sama persis seperti sebelumnya. Jadi mengapa Kapten Karlstahl terlihat begitu jauh?
"Apakah kamu tidak menyerang?" tanya Karlstahl.
Pertanyaan itu keluar dari mulutnya Karlstahl. Namun dia tidak bisa mengambil langkah itu. Setiap tulang di tubuhnya menjerit agar dia tidak mengambil langkah untuk menyerang.
Tapi dia memikirkan sekali, bagaimana jika dia bertemu dengan musuh di luar sana yang bahkan mereka tidak bisa prediksi lebih kuat dari orang ini.
Ayuzawa berusaha membuang semua pikiran anehnya dan memaksakan dirinya untuk maju.
"Krrraaaaahhhhhhh!!"
Dia berteriak, kedua matanya terlihat ganas untuk menghilangkan keraguannya.
Tanpa berkedip, mata Karlstahl tertuju padanya. Tatapannya bergeser seolah menyiratkan sesuatu.
Saat itu terjadi, insting Ayuzawa memaksanya untuk berhenti. Melakukannya akan membuat tubuhnya sangat tegang dan sendi lututnya mengeluarkan suara yang tidak menyenangkan.
Ayuzawa berhenti meskipun begitu dia terjatuh ke tanah.
Dia sangat yakin dia baru saja melihat pedang Karlstahl menembus dadanya. Dan dapat merasakan kematian dalam sesaat. Namun, dadanya tidak tergores maupun terluka.
Tidak ada tanda-tanda senjata Karlstahl bergerak sedikitpun.
Dia masih berdiri di sana dan bahkan tidak repot-repot membuat pertahanan.
"Apa yang salah?" tanya Karlstahl.
Dia menatap lurus ke depan, ujung pedangnya bergerak-gerak seolah dia sedang meramalkan masa depan.
Saat itu terjadi, Ayuzawa membayangkan tangannya akan dipotong. Sekarang dia akhirnya menyadari. Karlstahl hanya membuat tipuan.
Meskipun itu hanya tipuan semata, tapi tubuh Ayuzawa benar-benar lemas dan wajahnya berubah menjadi pucat.
Menatap pada Ayuzawa yang tenggelam pada keheningan, Karlstahl mengangkat bahunya.
"Sebenarnya aku tidak memiliki rencana untuk kalah darimu."
"...Pada dasarnya seperti itu."
Setelah mendapati dirinya mengangguk, Ayuzawa kembali menggenggam erat pada katana nya. Dia tidak dapat melakukan apapun untuk mengalahkan orang ini.
Dia tersenyum dan perlahan menarik pedang panjangnya dari punggungnya dengan tangan kanannya. Dia dengan sembarangan memasukkan sarung pedangnya pada ikat pinggangnya dengan tangan kiri.
Pedang besar, yang sedikit kehitaman telah dipoles dengan teliti, tapi noda lama berjumlah tak terbatas samar-samar tersisa pada seluruh pedangnya yang berkelap-kelip di cahaya yang bersinar.
Penahan dan gagangnya kelihatannya dibuat dari metal yang berkualitas sama, seperti pedangnya, tapi tidak seperti persenjataan yang dipegang oleh Kesatria Nycto yang dia temui tidak ada satupun hiasan yang menghiasi daripada itu.
Setelah mengubah satu sisi mulutnya menjadi senyuman, orang itu mengangkat ke atas pedang panjangnya, mengayunkan ke depan dengan tangan kanannya, bahkan lebih tinggi.
Nafas Ayuzawa telah diambil pergi sekali lagi dengan segera setelahnya. Pedang abu-abu yang lama itu bergetar.
"Apakah pedang itu dialiri dengan Esensi Magis? Atau semacam teknik berpedang?" tanya Ayuzawa.
"Pedang ini tidak dialiri oleh sihir apapun."
"Ap...Apa sebenarnya...kemampuan itu."
Ayuzawa berpikir dengan kebingungan.
"Aku telah mengatakan bahwa aku menggunakan kartu trufku. Aku tidak hanya menebas udara dengan tebasan latihan, yeah? Jika dapat diartikan...aku dapat menebas masa depan sedikit ke depan."
Itu membutuhkan waktu sedikit lama untuknya untuk menyadari makna jelas dari perkataan dari Komandan Nycto itu.
"Masa depan... ditebas?"
Itu benar-benar deskripsi yang tepat pada fenomena itu.