That Time One Class Summoned In The Another World

That Time One Class Summoned In The Another World
Chapter 17 : Telur Filolial (Part 05)



Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧



_________________________________________


*Grrryuuuk… *(Sfx: Kelaparan)


Beberapa saat ke depan, Shin mendengar suara perut yang keroncongan, namun suara itu bukan berasal dari perutnya, akan tetapi orang berada di depannya, Yuasa Rin.


Tidak hanya Rin saja, bahkan Shin pun merasa cacing di perutnya berdemo. Mereka sudah dua hari tidak makan, mungkin suatu saat perjalanan mereka akan terganggu dengan perut yang kosong itu.


"Aku akan mencarikan bahan untuk dijadikan makanan. Jadi, duduk diam disitu dan temani Filo."


"Um." Rin mengangguk, wajahnya menjadi merah, mungkin malu perutnya keroncongan karena tidak ada menyalahkan ia terlalu bersemangat.


Shin mencari material di sekitar ruangan, dia mengambil beberapa kepingan es yang dingin. Anehnya, kepingan es yang diambil Shin itu tidak mau meleleh menjadi cairan air. Mungkin karena ruangan itu berada di suhu yang benar-benar dingin.


Mereka juga tidak berpikir untuk berlama-lama lagi di tempat seperti itu. 


Shin kemudian membawanya dengan karung dan mengumpulkannya dalam satu tempat dan meletakkannya di atas tikar.


"Konversi!"


Shin mengubah kumpulan kepingan es menjadi roti yang dioles keju,  kue yang dipenuhi dengan buah berry dan berpikir untuk membuatkannya potongan pizza seafood.


Kedengarannya luar biasa. Itu tampak seperti makanan yang cerah, segar dan mewah.


Dia juga menyiapkan jus atau semacamnya.


"Aah… Aku lapar…"


"Chit……"


Rin membuat sikap yang berlebihan yakni menekan bagian perutnya dan Shin membuat ekspresi konyol saat melihat begitu mirip, dengan cepat mengatur posisi makanan itu.


Sementara itu, Shin mengucapkan doa sebelum makan dan yang lain mengikutinya. Rin orang yang mengambil makanan terlebih dahulu setelah berdoa.


Ia mengambil pizza makanan kesukaannya, menaruh bagian dari mozarella di mulutnya, dia mengunyahnya dengan mata tertutup sebelum berbicara.


"Apa ini? Rasanya… tidak seperti pizza."


"Itu sungguh pizza! Aku membuatkannya agar bisa menebus kesalahanku!"


"Bukan itu maksudku… Sulit untuk menjelaskannya, ada yang aneh dengan makanannya… Coba ini."


Rin menyodorkan pizza bekas gigitannya pada Shin. Untuk beberapa alasan, Shin menyipitkan matanya dan menolak.


"Aku menolak. Lagipula, kenapa aku harus mencicipinya? Kau sendiri tahu, itu adalah bekas gigitanmu dan memberikannya pada orang lain sembarangan."


Rin terkejut karena baru menyadari hal itu. Bahunya secara alami terangkat, dan wajahnya menjadi merah.


"S–Siapa yang peduli dengan itu?! Bahkan, kau juga pernah…"


…menciumku waktu itu. Itulah yang ingin Rin ungkapkan, tapi mulutnya terhenti untuk mengungkapkannya.


"Aku peduli! Asal kau tahu, aku tidak suka dengan saus tomat."


"Serius?"


Rin tidak percaya karena selama ini dia tidak pernah tahu, kalau sebenarnya Shin tidak suka dengan tomat. Yang ia tahu hanyalah, Shin menyukai makanan pedas seperti Kare. Dan dia memberitahu makanan kesukaannya pada sahabatnya, Shirasaki Nene. Jadi itu bukanlah suatu kebetulan lagi.


"Aku lebih suka roti dengan olesan keju."


Shin mengunyah rotinya dengan cepat dan menelannya. Namun, ada sesuatu yang menahannya untuk menelan roti ke tenggorokannya sehingga ia mengambil jus dan meninumnya. Akan tetapi, setelah meminum jusnya, Shin justru meluak semuanya.


"Apa-apaan dengan rasa ini? Apakah ada yang salah dengan lidahku? Rotinya hambar dan jusnya terasa seperti air keran!"


"Benar 'kan? Aku ingin bilang tadi, kalau semua makanan ini tidak memiliki rasa sedikit pun. Selain itu… aku tidak ingin mengecewakanmu karena telah berusaha membuat semua ini. Oleh karena itu, aku sulit untuk mengatakannya padamu."


"Jadi, begitu. Semuanya terlihat baik saja, dan tidak terlihat seperti beracun juga… Tapi, bagaimana bisa?"


Shin menekan kepalanya untuk berpikir.


"Mungkin, masalahnya ada di kemampuanmu itu?" ungkap Rin.


"Kemampuanku … Ah, maksudmu… Skill Konversi itu, ya."


Rin mengangguk.


"Aku juga masih belum mengerti, tapi aku sudah memahami beberapa dasarnya … Tunggu dulu?"


"Erm?"


Sesuatu terlintas dipikiran Shin. Rin melihat itu langsung memiringkan kepalanya bingung.


"Begitu rupanya. Kemampuan Konversi ini memang dapat mengubah benda-benda ke bentuk yang aku inginkan. Akan tetapi, skill ini memiliki kekurangan yaitu, aku tidak dapat mengubah sampai ke molekulnya. Pada dasarnya, begini, aku dapat mengubah es ini menjadi makanan, tapi tidak dengan rasanya."


"Aku tidak mengerti penjelasanmu."


Kemudian Shin terdiam, dan mengacak rambutnya.


"Ini membuatku putus asa memikirkan makanan ini tidak sesuai dengan penampilannya!"


"Tetapi situasi saat ini berbeda. Kita belum makan selama dua hari. Makanan ini harusnya memiliki nilai gizi dan tidak mengandung racun. Rasanya mungkin hambar, tetapi aku masih bisa memakannya. Aku rasa kita hanya bisa memakannya."


"Kurasa, kau ada benarnya juga. Selain itu …" Shin mengalihkan pandangan ke arah Filo. "Kalau tidak cepat, nanti Filo akan menghabiskan semuanya duluan."


"Chit!"


Shin tersenyum, sedangkan Rin tertawa kecil dan Filo menyibukkan dirinya dengan makanan. Secara umum, mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Meskipun, Filo adalah seekor monster sekelas hewan.