That Time I Got Reincarnated As A Bird

That Time I Got Reincarnated As A Bird
Ch 25 - Kematian Titik Balik



Suara nyanyian terdengar di sekitaran hutan, bukan menyanyi dengan perkataan melainkan hanya suara. Suara itu berasal dari Mihrl yang tengah duduk di atas tumpukan mayat kesatria bintang yang telah dia kalahkan.


Dirinya berhenti bernyanyi ketika merasakan suatu aura kuat, yang dimana aura tersebut mendekat ke arahnya.


"Sepertinya akan ada musuh yang lebih menarik dibanding mereka."


Seperti yang diduga Mihrl, bahwa aura itu memunculkan diri. Kedua matanya terbuka lebar, melihat seekor burung merpati putih yang terbang mendekat.


Alasan kenapa kedua matanya terbuka lebar, dikarenakan dia melihat pancaran aura mengerikan dari burung merpati tersebut. tak percaya dengan apa yang ia lihat, Mihrl mulai melancarkan serangan.


"Buktikan dirimu."


Merpati itu berubah bentuk menjadi sesosok wanita berambut biru ocean, lalu menebas serangan Mihrl menggunakan pedang katana. serangan itu menghasilkan ledakan setelah ditebas.


Dari ujung pedangnya, sebuah serangan sihir datang menabrak Mihrl. apa yang dilakukannya adalah bertahan, Mihrl bertahan dari serangan.


Wajahnya terlihat tenang selama serangan itu tak menembus kekkai nya.


Tak lama, diriku maju dengan sebuah katana mencoba menembus kekkai milik Mihrl.


"Itu sia-sia, bila kau tak berpengalaman dalam berhadapan dengan musuh kuat, semua usahamu akan sia-sia."


Apa yang dikatakannya benar, seranganku tadi sia-sia dan kekkai ini terasa keras sekali bagaikan sebuah batu besar.


Tak lama, ketiga iblisku menyerang secara bersamaan. namun sayangnya tak berhasil menembus kekkai milik Mihrl.


"Kau bahkan membuat perjalinan dalam 3 iblis sekaligus, kau sungguh haus akan kekuatan bukan? namun sayangnya ketiga iblismu masih lebih muda dariku."


Dengan mudah, Mihrl menghempas keempatnya bagaikan meniup tebaran kertas.


Pertarungan antara diriku melawannya berlangsung, dalam 5 menit pertama aku melawannya menggunakan katana yang diberikan oleh Gray langsung. Namun...


Karena kelengahanku, tangan kiriku dihanguskan hingga tulang tanganku menunjukkan dirinya. dengan kata lain, tulang tanganku terlihat ke luar. Terlalu lama merendam rasa sakit, Mihrl sudah hendak menyerang duluan.


Namun Enima mengorbankan dirinya demi menyelamatkanku, kedua tangannya ditarik paksa hingga terputus dari tempatnya.


"Sepertinya kau memiliki regenerasi yang hebat, namun bagaimana kau menghadapi ini!?"


Mihrl menghancurkan sebagian tubuh Enima, dan hanya menyisakan bagian kakinya saja.


Hujan darah terjadi, menyiram kawasan sekitar. setetes demi setetes menyiram rambutku dan turun melewati rambutku yang halus.


Aku kembali menyerang dengan segenap amarah, Mihrl menangkis semua seranganku menggunakan kedua tangannya. walau ia berhasil menangkis, namun kedua tangannya dipenuhi bekas semua seranganku, menandakan walau ia kuat, namun masih meninggalkan luka, walau kecil.


Sialan aku kembali melakukan kesalahan, tubuhku sangat terbuka lebar.


Tepat sebelum tangan Mihrl menembus jantungku, Rain mengorbankan dirinya dengan menggantikanku sebagai korban. aku bisa melihat sebuah tangan utuh menembus tubuhnya lewat punggungnya.


"Rain..."


"Terimakasih master, aku merasa bahagia karena berguna untukmu."


Sekali lagi, Mihrl membuat kedua iblis milikku menjadi porak poranda. Tubuh Rain dibuat terbelah menjadi dua oleh dirinya.


Dengan segenap amarah sekaligus campur tangan Gray, aku membuat sebuah ledakan dahsyat yang membuat tanah terbelah membentuk jurang. kira-kira skala luas ledakannya mencapai 10 m. itupun aku dibantu dengan dua campur tangan, Luminus dan Gray.


Sebelum ledakan dahsyat menghancurkan semuanya, Reinn berkata ketika melihat punggungku, "Ishikawa-san?"


Setelah itu.... aku kembali melakukan kelalaian, sebuah kelalaian yang merenggut nyawaku.


Sebuah suara seperti sesuatu yang keluar setelah menembus lapisan jutaan daging terdengar begitu keras, tubuhku jatuh ke bawah jurang bersamaan tubuhku yang berlubang...