
Suara pistol angin ditembakkan ke atas, 5 murid berpakaian olahraga mulai berlari sprint. ada yang mendahului dan ada yang lambat, itu tergantung stamina masing-masing.
Berlari sprint/cepat mengitari lapangan, sudah ada tanda melingkar yang membentuk seperti arena berlari.
Murid yang lainnya berteriak menyoraki teman-temannya yang tengah berlari.
Ada yang memakai headband berwarna warni, dan ada yang tidak. biasanya jika memakai atribut yang sama, maka mereka berasal dari kelas yang sama.
Salah satu murid berhasil meraih no 1, disusul dengan keempat murid lainnya.
Hari ini adalah hari dimana semua kelas di sekolah mengadakan yang namanya festival olahraga.
Festival ini diadakan setiap setahun sekali, dan diadakannya ketika pertengahan musim gugur.
T/N : Mohon Maaf Jika Saya sedikit melenceng, soalnya saya tidak tahu berbagai macam event yang terjadi di sebuah sekolah jepang.
Yang menyiapkan seluruh bahan untuk festival adalah ketua osis beserta anggota, dibantu oleh guru-guru serta murid lainnya.
Hari ini pun, festival mulai.
Lomba lari sprint sebanyak 3 putaran, peserta disini berjumlah 5 murid dan masing-masing murid berasal dari kelas yang berbeda-beda.
Hadiahnya akan ditentukan oleh pihak osis sendiri.
...
"Hei ayo ambilah, anjing kecil."
Sekelompok anak perempuan memakai pakaian olahraga tengah berkumpul mengelilingi sesuatu.
Salah satunya tengah berjinjit dengan satu tangan yang diangkat ke atas, tangannya tengah memegang buku berukuran seperti manga.
Dilihat dari sampulnya, ternyata itu memanglah manga.
Jika dihitung, sekelompok anak perempuan itu berjumlah 4 orang. satu orang berjinjit, yang lainnya membungkuk.
...
"Kamu jahat, Kicchan."
Di atas kursi bench panjang, terlihat 3 murid lelaki yang tengah duduk santai menikmati angin.
Salah satunya tengah mengusili salah satunya, ia mengambil kaleng minuman yang baru saja dibeli.
Kaleng itu milik temannya.
Temannya berusaha mengambilnya, dan akhirnya berhasil di dapat setelah keduanya jatuh ke bawah secara bersamaan.
"Sakit!" "Sakit!"
"Lagian kamu Kicchan, kenapa kamu se-usil itu?"
"Hahaha, maaf."
Namanya adalah Nakagawa Kitaro, lelaki muda berambut hitam pendek dengan pakaian olahraga yang sedikit longgar di bagian perut.
Ia adalah "yang" mengusili temannya tadi.
Kitaro bangkit, membantu temannya bangkit dan pergi menuju vending machine untuk membeli minuman.
Festival olahraga masih bergilir, suara sorak gembira masih terdengar bising.
"Hei, Nakagawa-kun."
Di tengah itu, datang seorang perempuan bernama Fujiwara Miharu, warna rambutnya adalah biru gelap bercampur hitam.
"Ada apa, Fujiwara-san?"
"Ah maaf ya, aku sedang sibuk."
"Micchan!"
Dari arah berbeda, datang lagi seorang perempuan bernama Agari Nino.
"Nino, tolong bawakan aku ini!"
Tanpa berpikir panjang, Miharu langsung memberikan satu buah kotak di tangan Nino yang baru saja sampai.
"Eh? kenapa!?" tanya Nino dengan wajah penuh pertanyaan.
"Tolong bawakan."
"Maaf ya, Nakagawa-kun."
"Tidak apa, kalau begitu sampai jumpa."
Kitaro kembali berjalan menuju vending machine.
Suara minuman jatuh di dalam vending machine, Kitaro turun mengambil minuman serta berjalan kembali menuju teman-temannya.
"Ayo, ayo, ayo ambilah anak anjing."
Terlihat sekelompok anak perempuan tengah melakukan sesuatu, salah satunya berjinjit dengan satu tangan yang diangkat ke atas.
Tangannya memegang sebuah buku manga.
Hal yang dilakukan oleh Kitaro adalah mengambil batu, bergerak ke tempat yang menurutnya pas.
Lalu melemparnya menuju kaca belakang.
Suara benturannya cukup keras, hingga terdengar seperti hendak pecah. sekelompok perempuan itu pun terkejut dan berhenti tertawa.
Kitaro langsung berlari tanpa berbicara sepatah kata.
"Itu dia, pelakunya!"
Sekelompok perempuan itu mengejarnya, sebagian mengejar menyisakan seorang perempuan.
Yap, dia yang memegang manga.
Kini tersisa dua perempuan, satu tengah berlutut di bawah tanah, satunya memegang manga dengan wajah jahat.
Nama perempuan yang memegang manga adalah Nikikami Inami.
"Oi! apa kau tidak menginginkan manga mu kembali!?" tanya Inami jengkel.
Perempuan itu mengangkat wajahnya, rambut hitam alami yang sangat panjang hingga hampir menutupi kedua matanya.
Tatapan mereka saling bertemu.
Namun apa yang dilakukan Inami? yap, dia menendang wajahnya tanpa ragu.
"Sungguh menjijikan."
Inami membuang manga itu entah kemana, lalu pergi menyusul.
Itu terasa sangat sakit bukan? wajah yang ditendang secara keras dan cepat.
Apalagi ketika itu mengenai tulang hidung, sungguh perih.
Nama perempuan itu adalah ..... Ishikawa Reiko.