That Time I Got Reincarnated As A Bird

That Time I Got Reincarnated As A Bird
Ch 24 - Naga Angin, Mihrl



Auman yang sangat dahsyat hingga membuat kawasan sekitar menjadi lahan gundul tanpa pepohonan.


Angin membentuk seperti ombak ganas, lalu menerjang kuat seperti ombak yang membawa bencana.


Ombak angin yang ganas ini meniup sekelompok para pasukan kesatria bintang, mereka berhamburan layaknya sobekan kertas, termasuk Reinn.


Dirinya tahu bahwa dirinya akan menabrak sebuah tebing batu yang menjulang tinggi, karena jarak tebing batu dengan dirinya terbilang sangat dekat.


Untuk menghindari kematian, dirinya menancapkan pedangnya ke tanah, "HYAAA!!!"


Pedangnya merobek tanah hingga sangat jauh, lahan yang sebelumnya berwarna hijau kini berubah menjadi warna coklat tanah.


Namun dirinya tak kunjung berhenti, sang angin masih mendorongnya.


Segelintir pasukan masih bertahan dari serangan, mereka tak tertiup dikarenakan sudah berwaspada dari awal.


Hembusan angin tak kunjung berhenti, malah semakin mengganas.


Segelintir pasukan yang selamat langsung menyerang tanpa banyak berkata, "Serang dia! jangan biarkan dia menggunakan wujud manusianya!"


Berbagai serangan dilancar, namun tak berhasil menembus kulit baja sang naga. Serangan jarak jauh tak mempan, serangan sihir dilancarkan. kali ini mereka menggunakan serangan sihir area.


4 penyihir berdiri sejajar, mereka memegang sebuah tongkat.


Keempat tongkat menyala seiring mereka mengucapkan mantra. Ucapan mantra kunjung selesai, mereka berempat meneriaki akhir kata dari mantra tersebut.


Sebuah lingkaran hitam besar muncul di bawah pijakan sang naga, sang naga mulai menggaum seperti ingin melepaskan diri dari kekangan yang menjeratnya.


Tak hanya satu, lingkaran hitam berskala besar muncul lagi di atas sang naga. kini berjumlah dua.


Dari lingkaran atas, sebuah serangan langsung menerjang kebawah mengenai sang naga. dilanjutkan dengan pantulan serangan dari lingkaran bawah, membuat dua kali serangan.


Serangan sihir ini memakan waktu hingga 30 detik dalam dua kali serangan, di sepanjang waktu itu, hanya diperlihatkan sebuah serangan berwarna hitam bercampur ungu pekat.


Sihir berskala besar telah habis, para penyihir sudah tidak merasakan hawa keberadaan sang naga, bahkan suara hembusan nafasnya sekalipun.


"Kita menang!"


Para kesatria bintang langsung meneriaki kemenangan mereka, Namun...


Terdengar suara wanita dari balik kepulan asap, "Apakah kalian pikir, aku telah mati? itu masih sangat lama."


Kepulan asap mulai menghilang dikarenakan tertiup angin, memperlihatkan sesosok wanita berambut merah pendek dan memiliki dua buah tanduk di keningnya.


Wanita ini mengenakan gaun berwarna ungu gelap dan sebuah selendang berwarna putih gelap, yang melingkar di pinggangnya.


...


Jarak antara Hutan Algyne dan Kerajaan E-Nantiel, terbilang cukup dekat.


Tiba-tiba saja, diriku berdiri sendiri. ketiga iblis ini langsung berlutut, mengetahui tuannya bangkit.


Iblis pertama yang menyambut kebangkitanku adalah Luminous, "Selamat datang kembali, Master/tuan."


Disambung dengan kedua iblis yaitu Rain dan Enima, "Kami senang melihat anda bangkit kembali."


Mulutku mulai terbuka perlahan setelah tertutup dalam waktu yang lama, "Kalian semua, ikut denganku."


Suara yang keluar adalah suara wanita yang sangat kecil dan lembut bagaikan suara anak kecil, aku memaksakan berkata dengan tenggorokan yang kering bagaikan gurun pasir.


Mereka bertiga tak menjawab, terdiam dalam kebingungan.


Aku berlari keluar, merubah bentuk menjadi bentuk awal yaitu merpati. Diriku terbang tinggi kembali setelah sekian lama terduduk di atas kursi yang tak empuk, tubuhku terasa pegal setelah terdiam membeku dalam waktu yang lama.


Disambung dengan ketiga iblisku, yang terbang menggunakan kedua sayap hitam di belakang punggung mereka.


Luminus menyeringai, "Sekarang aku mengerti kenapa master bangkit."


"Apa itu?"


"Dirinya merasakan suatu aura yang kuat, mungkin ia ingin melawan aura itu. Seorang master pantas melakukan hal ini."


...


"Tidak mungkin..."


Sesosok manusia ini membungkukkan badannya, "Salam kenal namaku adalah Mihrl sang naga angin."