That Time I Got Reincarnated As A Bird

That Time I Got Reincarnated As A Bird
Ch 20 - Kehidupan Yang Lambat



Miya dan Aina masih menyembuhkan murid yang tumbang, walau begitu mereka tetap kewalahan.


Belum lagi, mereka harus menyembuhkan guru-guru yang terluka.


...


Disaat Miya dan Aina tengah sibuk, Reinn memilih duduk di bawah pohon karena kelelahan.


Bagaimana tidak? ia baru saja berlatih melawan monster level rendah, dan langsung melawan monster level besar.


Bersama dengan satu murid lainnya, mereka berdua duduk di bawah pohon rindang.


Namanya adalah Hirulin Von Mihaz, pemuda berambut coklat pendek, hidung sedikit pesek, mata yang besar serta tubuh yang sedikit kekar.


Duduk di atas akar yang menjalar.


"Bagaimana? apa anda lelah?" tanya Hirulin dengan nada seperti orang yang tengah kelelahan.


Reinn mengangguk serta menjawab "Ya, saya sangat lelah."


"Bagaimana menurutmu? apakah kamu menemukan yang lainnya?"


"Tidak, hanya itu saja."


"Huh... bagaimana itu bisa menutupkan fakta? jika benar, mengapa?" tanya Hirulin dengan wajah penuh kebingungan.


Mata Reinn mengerut, dahinya pun ikut berkerut. ia tengah memikirkan sesuatu, yang sepertinya penting.


Tak lama, Hirulin menepuk punggung Reinn dengan keras membuat konsentrasinya menjadi pudar.


"Sakit!"


"Hahaha!"


"Kamu memang tidak berubah ya."


"Kamu pun." Hirulin menjawab dengan senyuman.


Mereka berdua terlihat seperti teman dekat.


...


Kembali menuju E-Nantiel.


Aku masih dalam kondisi down, dimana mentalku ikut terkena dampaknya.


Aku hanya bisa diam menunduk, tak bergerak maupun berbicara. Mungkin setidaknya hanya beberapa inci aku bergerak seperti tangan maupun kaki.


Itupun hanya inci, belum lagi meter.


Bila dihitung, mungkin hanya mencapai detik.


Ketika aku melihat dirinya secara terang-terangan, ia sangat patuh dan setia kepadaku.


Tak ingin meninggalkanku, maupun mengkhianatiku.


Aku cukup terkagum akan attitude nya, ia sopan dan tak banyak membantah. Mungkin sampai saat ini.


Jika dibandingkan dengan yang lainnya... mungkin akan sama saja, namun masih belum ku gali.


Kami hidup di salah satu bangunan bekas yang masih dapat melindungi dari panas maupun hujan, walaupun beberapa titik masih dapat masuk.


Gray pun masih ada di tubuhku, ia tak mengerakkan tubuhku sama sekali.


Mungkin karena aku dalam masa down, jadi sulit.


Namun hari ini aku memiliki perkembangan, dimana jari tanganku sudah mulai dapat digerakkan.


Luminus melirik sedikit, melihat jariku yang tengah digerakkan.


"Anda dapat mengerakkannya?" tanya Luminus dengan wajah penuh kegembiraan.


Kedua iblis lainnya berkumpul karena mendengar teriakan girang Luminus.


"Jari Tuan sudah dapat digerakkan, Syukurlah."


Rain pun ikut memujiku, bahkan Enima sekalipun. walau ia tidak mengutarakannya lewat kata-kata.


Sebenarnya seluruh tubuhku memang biasa saja, hanya saja aku tidak dapat berbicara seperti orang yang tengah mengalami mental down.


T/N : Sulit Mengutarakan lewat kata-kata bagaimana kondisi orang yang tengah mental down.


Mataku ikut melirik, melihat ketiga iblis ini yang tengah berkumpul.


Luminus menyadarinya, tatapan kami saling bertemu.


Hal pertama yang ku katakan adalah menyeramkan, sungguh menyeramkan.


Mata milik Luminus terkesan mengerikan, warna dark sclera nya sangat memikat ketakutan yang mendalam.


Mau bagaimana pun, aku ini adalah manusia. sudah sewajarnya takut akan hal seperti ini.


"Wah, anda sudah dapat melirik! Luar biasa, saya cukup bangga akan peningkatan anda!"


Sudah berhenti, jangan berkata seperti itu. aku ini bukanlah anak kecil yang baru dapat melakukan hal biasa.


Ketiga iblis ini bertepuk tangan, namun dalam pandanganku mereka seperti melihat aku yang tengah tersiksa.


Mungkin dalam pandangan mereka --- aku ini sebagai panutan atau tuan yang patut diapresiasi, kalau dalam pandanganku, aku merasa seperti seseorang yang tengah disiksa oleh mereka.