
Halo, Hatori disini
Pagi hari ini cuaca mulai terlihat tidak baik, kumpulan awan berwarna abu-abu menutupi matahari yang cerah. Tidak ada cahaya yang berhasil menembus kumpulan awan itu.
Bu Hino keluar bangunan mengangkat selimut dan pakaian yang tengah dijemur.
Angin berhembus sangat kencang meniup seluruh debu yang bertebaran.
Seluruh anak dilarang keluar rumah karena cuaca yang begitu buruk, Saya menahan mereka agar tak keluar.
Para anak-anak bersikeras ingin keluar, Saya mencari cara untuk menahan mereka dengan mudah.
Namun pada akhirnya mereka menurut sendiri setelah melihat hembusan angin yang meniup atap.
Oh...! saya melupakan sesuatu...
"Bu Hino, saya akan mengambil roti dan pakaian di rumah Paman Akeno!"
"Hati-hati, Hatori!"
Saya berlari cepat, seluruh rambut saya beterbangan ditiup angin yang begitu kencang.
Para penduduk mulai mengangkat pakaian mereka agar tak tersiram air hujan.
Perlahan rintik hujan mulai turun, setetes demi setetes. Dan menjadi deras.
Belum sampai ke tujuan, pakaian saya sudah basah kuyup. Rambut saya basah bukan main.
Saya sampai di depan rumah paman Akeno, pencahayaan lampunya terlihat hingga keluar menandakan kalau ia ada di dalam. Saya masuk ke bagian teras, tubuh saya dilindungi oleh atap teras.
Pintu rumah terbuka, memperlihatkan seorang pak tua dengan janggut putih. Dia adalah paman Akeno.
"Hatori, ada apa? Ya ampun kamu basah kuyup, tunggu sebentar."
Paman Akeno kembali masuk dan keluar kembali membawa handuk kering.
"Saya ingin mengambil Roti dan pakaian yang sudah dipesan."'
"Ah tunggu sebentar ya."
Paman Akeno membawa satu buah keranjang berisi roti yang ditutupi dengan kain beserta setumpuk pakaian hangat.
Di tengah hujan seperti ini, saya sulit untuk membawa dua barang dengan kedua tangan saya.
Saya membutuhkan sesuatu yang dapat membantu.
Haruskah Sepeda atau yang lainnya??
"Ah terimakasih banyak atas bantuannya."
Paman Akeno keluar dari teras, berjalan menuju gudang untuk mengambil sepedanya.
Sembari menunggu, saya memilih untuk duduk di kursi.
Ketika itu pula, saya melihat sesuatu yang aneh di atas langit. Sesuatu berwarna merah yang melayang di atas langit.
Saya berdiri dari kursi, mencoba melihat secara jelas dengan skill [Mata Elang] namun saya gagal, karena tertutupi dengan gumpalan hujan dan awan gelap.
Sebenarnya apa itu?
Muncul beberapa warna merah jingga yang sama dengan yang saya lihat, seperti membagi diri. Kumpulan warna merah jingga itu terlihat melesat ke bawah, seperti meteor.
Perlahan mendekat dan jatuh menabrak permukaan.
Ketika itu pula, Sebuah ledakan besar terjadi dan muncul kumpulan api yang melahap bangunan kota.
Kumpulan warna itu muncul kembali dan mulai menabrak tanah.
Kebakaran terjadi di bagian kota sebelah kiri, gumpalan asap hitam terlihat jelas terbang ke atas langit.
Secara tiba-tiba, warna utama itu melesat ke arah saya serta menghantam teras rumah.
"Hatori!"
Ketika gumpalan asap sudah menghilang, terlihat sesosok lelaki yang terlihat marah. Rambutnya berwarna merah dengan tambahan api di bagian ujung.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Leher saya dicekik dan di bawa terbang ke atas langit, lalu dilempar hingga menabrak salah satu bangunan.
Sungguh sakit!
[Regenerasi] mulai bekerja seperti yang seharusnya.
Tak menunggu waktu lama, orang itu kembali menyerang. Dia melesat cepat menghantam saya hingga sebuah lubang terbuat.
Saya sudah terpojok, leher saya dicekik hingga sulit untuk bernapas. Daya kerja [Regenerasi] saya menurun yang seharusnya masih bekerja, apa jangan-jangan... ia menghentikan daya kerja [Regenerasi]!?
Kedua mata kami saling tertatap, saya melihat sebuah mata yang penuh amarah namun sangat kosong.
Ketika saya menyadari kejanggalan itu, seketika saya berpindah ke sebuah tempat yang tak berujung.