
Halo, Reiko disini!
Ketika saya terbangun, saya mendapati diri saya tengah duduk di sebuah tempat yang terbuat dari serat.
Memang ini terdengar cukup aneh, hal terakhir yang saya lakukan adalah tidur di tengah kelas matematika.
Namun... ketika saya terbangun, saya melihat ... sebuah tempat luas yang terbuat dari serat serta langit biru di atasnya.
Tubuh saya tak dapat bergerak, apalagi bersuara.
Apa jangan-jangan saya tengah diculik!? tidak .. tidak .. tidak! Mana mungkin saya diculik ketika tidur dan lagian pasti akan ketahuan karena sekeliling saya terdapat guru dan murid lain.
*Cuit ... Cuit ... Cuit*
Suara imut terdengar di sebelah kiri, saya melirik untuk melihat. terlihat 2 anak burung imut.
Imutnya! saya ingin mengelusnya
Ah .... apa ini!?
Tangan saya .... Mengapa berubah menjadi sayap!?
Kedua tangan saya berubah menjadi sayap burung .... saya mengalami mimpi yang cukup langka.
Saya tertidur di tengah kelas Matematika, lalu bermimpi memiliki dua sayap.
Tatapan saya bergerak ke bawah, mendapati tubuh saya berubah menjadi tubuh burung kecil.
Tubuh saya ikut berubah menjadi seekor burung dan juga pandangan saya ikut memendek...
Matahari tertutup oleh sesuatu, sebuah bayangan besar tercipta.
Terlihat seekor burung yang ukurannya cukup besar, bahkan lebih besar dari tubuhku.
Sepertinya dia adalah seorang ibu dari anak burung itu, lucunya!
Baiklah, sudah saatnya saya bangun dari mimpi.
Mata saya tertutup...
Ketika terbuka, saya melihat diri saya tengah diselimuti oleh ibu burung ini.
Kenapa saya tidak kembali!?
Hari sudah berganti malam, seluruh burung sudah tertidur lelap bahkan ibu nya sekalipun.
Mungkin jika saya tidur kembali, saya akan kembali ke dunia nyata.
Mata saya terbuka, melihat tempat yang masih sama...
Ok ... ini cukup aneh.
Mengapa saya tidak kembali dan tetap berada disini!? ini cukup aneh bukan?
Ibu datang lagi, ia mendarat dengan sempurna. kepakan sayapnya membuat hempasan angin yang sungguh besar, bahkan saya dapat merasakannya.
Kumpulan cacing jatuh dari mulutnya, para anak burung datang memakannya.
Ketika melihat cacing-cacing itu, hal pertama yang saya katakan adalah manjijikan. saya belum pernah memakan cacing, dimulai dari yang mentah hingga yang matang.
Tapi ... mengapa perut saya berbunyi ketika melihat kumpulan cacing ini? apa segitu laparnya saya hingga melihat cacing saja membuat perut saya berbunyi?
Tidak, tidak, tidak, saya tidak ingin memakannya. saya cukup melihat anak-anak burung ini memakannya.
Ok ... saya terpaksa memakannya, mengapa? perut saya terus menerus berbunyi tanpa henti.
Saya memakan satu cacing, satu suap masuk ke paruh saya.
Rasanya tidak enak, seperti memakan sebuah daging cincang yang belum dimasak apalagi dibumbui.
Ah apa itu? suatu suara muncul darimana?
Mungkin itu hanya firasat saya, kembali makan!
Apa ini? daging nya mulai mengeluarkan sedikit rasa, walau rasanya masih samar-samar dalam lidah saya. Apa mungkin...?
Mungkin saya harus memakan berkali-kali untuk memunculkan suara tadi, baiklah selamat makan!
*Nyam ... Nyam ... Nyam!*
Ah kenyangnya...
Ah masih ada sedikit daging yang tertinggal, sepertinya tidak ada yang mau memakannya.
Daging ini .... ada rasanya! rasa apa ini? baru kali ini saya merasakan sebuah rasa yang tidak familiar di lidah saya.
Enak!
Sudah habis... baiklah, saatnya tidur siang.