
Alora bangkit dari tidurnya dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka. Ia menoleh ke sebelah kanannya. Alora pikir Reinal masih berada di kasur, tetapi ia salah. Reinal sudah tidak ada di kasur. Alora pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, Alora segera keluar kamar menuju ruang makan.
Senyuman hangat dan sapaan manis Alora dapatkan dari beberapa asisten rumah tangga Reinal. Alora sangat senang jika ia memiliki beberapa teman untuk mengobrol di rumah ini. Ketimbang ia hanya diam sendirian.
Alora duduk di kursi meja makan dan mulai mengambil beberapa lembar roti untuk ia makan.
"Reinal... kemana?" tanya Alora kepada seorang Art yang sedang menuangkan air minum ke gelas Alora.
"Pak Reinal ke kantor, Bu. Sudah pergi dari satu jam yang lalu," jawabnya. Alora hanya menganggukkan kepalanya.
Padahal Reinal baru pulang jam empat tadi, dan sekarang dia sudah berangkat ke kantor. Alora jadi mengerti mengapa Reinal menjadi kaya raya seperti sekarang.
Setelah selesai sarapan, Alora kembali ke kamar. Ia sebenarnya tidak tau apa yang akan ia lakukan. Seperti di film-film yang sering Alora nonton, seharusnya ia dan Reinal sedang bermanja-manja atau berliburan ke luar negeri. Pernikahan yang ia pikir akan mengubah hidupnya, malah tidak mengubah hidup Alora. Alora masih sama seperti sebelum menikah.
Alora seketika tersenyum. Ia baru ingat sesuatu. Jika Reinal bisa melakukan apapun sesuka hatinya, maka Alora juga akan melakukan apapun sesuka hatinya. Mungkin Alora akan bisa kembali berhubungan dengan Dimas. Reinal saja bisa bersama dengan wanita lain.
Tetapi detik berikutnya Alora segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh berpikiran seperti itu. Alora tidak boleh membalas perlakukan Reinal.
Alora pun memutuskan untuk pergi ke mall. Mungkin dengan ia membeli beberapa barang, itu akan sedikit menghibur dirinya. Ia pun segera bangkit untuk bersiap-siap.
"Lo itu cantik Alora pinter lagi. Ngapain Lo stress mikirin Reinal yang bahkan enggak peduli sama lo," ucap Alora kepada dirinya sendiri di depan cermin. Alora mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri. Pandangan Alora teralihkan ke cincin yang ia pakai di jari manisnya.
"Mungkin aja Reinal enggak pakai nih cincin, jadi ngapain gue pakai cincin ini," tutur Alora lagi. Ia pun segera melepas cincin yang ia kenakan. Alora menyimpan cincin tersebut di laci meja riasnya.
***
Alora merasa sangat senang sekarang. Ia baru saja membeli beberapa tas branded yang memang sudah lama ia incar. Ia sama sekali tidak memikirkan apapun mengenai Reinal. Khusus saat ini, Alora akan menikmati waktu berbelanja nya.
Langkah Alora seketika berhenti ketika melihat Dimas yang tak jauh darinya. Dimas yang sedang menatap dirinya. Melihat itu, Alora segera berbalik arah. Untuk saat ini, Alora sedang tidak ingin bertemu dengan Dimas.
Dimas yang melihat Alora menghindarinya segera melebarkan langkahnya untuk mengejar Alora. Berbanding terbalik dari Alora, Dimas sangat ingin berbicara dan memeluk tubuh Alora lagi.
Langkah Alora berhenti ketika Dimas menahan lengannya. Kali ini Dimas menatap Alora dengan amarahnya.
"Kita perlu bicara!"
Alora menelan air liurnya dengan susah payah. Pegangan tangan yang Dimas berikan di lengannya terasa sakit. Tetapi kesakitan itu tidak terlalu ia pikirkan karena wajah Dimas sekarang lebih membuatnya takut.
"A.. aku ada urusan, Dim. Harus pulang sekarang." Alora mencoba untuk memberikan alasan agar tidak perlu berbicara lebih lanjut dengan Dimas.
"Aku gak perduli, Alora. Ikut aku sekarang atau aku tarik kamu di tengah-tengah keramaian ini."
Ancaman dari Dimas berhasil membuat Alora menganggukkan kepalanya. Ia tidak mau membuat keributan sekarang. Alora pun memilih untuk mengikuti permintaan Dimas.
"Oke.. Aku ikut sama kamu."
Setelah mengatakan itu, Alora langsung menghempaskan tangan Dimas dari lengannya dengan kasar.
Dimas membawa Alora ke sebuah kafe yang tidak banyak pengunjung. Ia memilih tempat sepi karena ia ingin berbincang serius dengan Alora.
"Aku mau kita balikan, Lora."
Alora sangat ingin tertawa ketika mendengar permintaan Dimas. "Aku udah nikah, kalau kamu lupa."
Dimas menghela napas panjang. Ia pun mengeluarkan beberapa foto dari saku jaketnya dan memberikannya kepada Alora.
Alora sangat terkejut melihat foto-foto yang Dimas berikan kepadanya. Foto dimana Reinal yang sedang mabuk dan ditemani oleh beberapa wanita. Wanita-wanita itu bersandar dengan manja di bahu Reinal. Tetapi bukan itu yang membuat Alora terkejut. Ia terkejut karena Dimas. Bagaimana bisa Dimas mendapatkan foto ini.
"Pria itu saja tidak perduli dengan perasaan kamu, Alora. Dia dengan mudahnya meninggalkan kamu di malam pertama pernikahan kalian. Walaupun aku sangat bersyukur mengenai hal itu."
Alora menjauhkan foto-foto yang Dimas berikan darinya. "Kamu seharusnya tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga aku, Dimas. Kamu udah memata-matai Reinal? Masalah Reinal itu urusan aku, jadi aku harap kamu enggak akan ngelakuin hal ini lagi."
"Urusan kamu itu urusan aku juga Alora. Oke.. aku ngerti alasan dibalik pernikahan kalian, karena orang tua kalian kan? Pernikahan ini sama sekali tidak ada artinya untuk Reinal. Begitupun untuk kamu. Kalau dia bisa bersama dengan wanita lain, kenapa kamu enggak, Alora? Kita bisa kembali seperti semula. Aku enggak masalah dengan pernikahan kamu. Asalkan kamu bisa kembali sama aku," tutur Dimas memohon agar mereka kembali bersama lagi.
Apa yang Dimas katakan memang benar, tetapi Alora tidak mungkin membalas semua perlakuan Reinal.
"Aku tau kamu masih cinta sama aku, Alora. Aku mohon.. ayo kita kembali bersama."
Alora memejamkan kedua matanya untuk sesaat, memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Dimas.
Perlahan Dimas mulai menggenggam tangan Alora. Mencoba untuk meyakinkan Alora agar mereka bisa kembali bersama lagi.
"Aku gak bisa jawab sekarang. Kasih aku waktu untuk memikirkan permintaan kamu ini," putus Alora.
Setelah mengatakan itu, Alora melepaskan genggaman tangan Dimas dan bangkit dari duduknya. Ia kembali membawa barang belanjaannya dan bergi meninggalkan Dimas sendiri di kafe.
Senyum di wajah Dimas mulai tercipta. Ia yakin Alora akan kembali lagi kepada dirinya seperti dulu.
***
Langkah lebar Alora memasuki rumah membuat beberapa asisten rumah tangga yang melihatnya sedikit cemas.
Alora membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar. Ia meletakkan semua barang belanjaannya di atas kasur.
"Dari mana?"
Alora tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia menoleh ke arah belakang dan mendapati Reinal yang sedang duduk di kursi meja kerjanya yang tak jauh dari Alora.
"Belanja," jawab Alora.
Reinal bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Alora.
"Belanja sama Dimas?"
***