Tears in Marriage

Tears in Marriage
Bara vs Reinal



Reinal berjalan memasuki kamar dengan tatapan bingungnya. Ia dapat melihat Alora yang sedang duduk di pinggi kasur dengan sebuah kertas di sampingnya. Langkah Reinal percepatan agar dapat mendekat kepada Alora.


Alora yang menyadari kehadiran Reinal mulai berdiri. Ia menatap wajah Reinal tanpa rasa takut. Dukungan yang Bara berikan kepada dirinya membuat Alora merasa tidak takut. Jantung Alora memang sudah berdetak tak karuan saat ini tetapi nyalinya terasa sangat besar.


"Apa itu?" tanya Reinal ketika sudah berada di depan Alora. Alora mengambil surat perceraian tersebut dan memberikannya kepada Reinal.


"Tolong tanda tangani surat ini," tutur Alora sambil menatap wajah Reinal.


Reinal membaca surat tersebut beberapa saat. Tak menunggu lama, detik berikutnya Reinal meremas kertas tersebut dan melemparnya kertas tersebut ke sembarang tempat. Reinal mencoba untuk merendahkan emosinya.


"Saya sedang tidak ingin bertengkar dengan kamu, Alora. Jadi saya harap.. kamu jangan pernah mencari perkara untuk memancing emosi saya!"


"Keputusan ku udah bulat. Terserah kamu mau tanda tangani surat itu atau enggak. Aku akan tetap mengurus perceraian kita. Pernikahan ini enggak akan terus berlanjut, Reinal."


Reinal mencengkram bahu Alora kuat. Tatapan mata Reinal membuat Alora menundukkan pandangannya. Alora memang tidak akan pernah bisa menatap wajah Reinal jika Reinal sedang emosi seperti sekarang.


Alora mencoba untuk tidak mengeluarkan rintihan kesakitan atas cengkraman yang Reinal berikan.


"Saya tidak akan pernah melepaskan kamu. Kamu akan terus menjadi istri saya seumur hidup kamu, Alora. Ini adalah hukuman karena kamu telah menolak saya dulu. Menikah dengan pria yang sudah kamu tolak, bukankah itu menyenangkan?"


Dengan kekuatannya, Alora mencoba untuk menyingkirkan tangan Reinal dari bahunya. Alora berjalan beberapa langkah dari Reinal. Ia tidak mau mendapatkan intimidasi dari Reinal terus-menerus.


"Selalu dengan alasan itu. Aku sudah menebus kesalahanku dengan menikah dengan kamu, Reinal. Aku juga selalu mendapatkan perlakukan yang sangat menyakitkan di rumah ini, semua itu enggak cukup untuk kamu? Aku gak akan pernah bisa hidup dengan orang yang memiliki dendam denganku. Kamu hanya obsesi, Reinal. Pernikahan ini tidak akan pernah berjalan dengan lancar. Aku mohon... lepaskan aku. Setelah perceraian ini, aku akan menghilang dari hidup kamu."


Air mata Alora menetes dengan sendiri. Ia tidak mungkin terus hidup bersama dengan Reinal. Terlalu berat jika hidup selama itu.


"Kamu pikir saya bodoh, Alora? Setelah perceraian ini, kamu akan menghilang dan menikah dengan Dimas. Benar kan? Hidup bersama dengan pria yang kamu cintai dan memiliki keluarga kecil seperti impian kamu. Saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!"


"Berhenti selalu bawa Dimas di setiap pertengkaran kita, Reinal. Dimas sama sekali tidak ada hubungannya dalam hal ini."


"Tentu saja ada. Pria bodoh itu akan melakukan apapun agar kamu bahagia kan? Dia bahkan siap menunggu kamu sampai kita bercerai. Dia sangat mencintai kamu sampai dia rela menunggu kamu walaupun kamu bekas pria lain."


PLAK!


Alora memberikan tamparannya tepat di pipi kiri Reinal. Ucapan yang Reinal berikan sangat membuatnya merasa terhina. Kata 'bekas' yang Reinal ucapkan membuat Alora menamparnya.


"Ucapan kamu tadi semakin membuktikan bahwa Dimas lebih baik dari kamu, Reinal."


Reinal diam mendengar perkataan Alora. Ia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ia menyesal mengatakan hal tersebut. Emosinya kembali membuatnya mendapatkan kebencian dari Alora.


Alora mengambil tas sandangnya yang berada di atas meja riasnya. Setelah mengambil tasnya, Alora berjalan menjauh dari Reinal. Ia akan keluar dari rumah Reinal dan meninggalkan barang-barangnya. Alora tidak perduli lagi dengan baju-baju mahalnya itu. Ia hanya mau keluar dari rumah ini dan hidup seperti sebelumnya.


Alora yang mendapat perlakuan seperti itu tentu saja mencoba untuk berontak. Ia bahkan menendang tubuh Reinal beberapa kali tetapi tentu saja Reinal langsung menahan kaki Alora.


"Reinal lepas!" Teriak Alora kepada Reinal.


"Kalau kamu tetap dengan keputusan kamu, Saya juga akan tetap dengan keputusan saya. Kamu harus mengandung anak saya, Alora."


Setelah mengatakan itu, Reinal mulai membuka paksa baju yang Alora pakai. Kekuatan Alora untuk membuat Reinal menghentikan kegiatannya itu perlahan mulai melemah. Alora tidak bisa melakukan apapun. lagi selain menerima apa yang Reinal lakukan kepadanya.


***


Langkah kaki jenjang Reinal menyusuri perusahaan Bara. Setelah selesai berurusan dengan Alora, Reinal mendapatkan informasi bahwa Bara telah berkunjung ke rumahnya. Reinal akhirnya mengerti dari mana Alora mendapatkan surat perceraian itu.


Beberapa karyawan Bara yang melihat kedatangan Reinal sama sekali tidak berani menegurnya. Tatapan tajam Reinal membuat mereka takut untuk menyapa.


Reinal akhirnya sampai di depan ruangan Bara. Ia segera masuk ke dalam ruangan Bara tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sekretaris Bara yang melihat kedatangan Reinal hanya diam dan tidak menghentikan Reinal yang masuk tanpa mengatakan apapun.


Bara menghentikan kegiatannya ketika melihat Reinal yang datang ke ruangannya. Dengan senyuman tipisnya, Bara mengerti mengapa Reinal datang ke ruangannya.


Dengan santai, Bara berjalan mendekati Reinal. "Apa kabar Reinal? Ini kali pertama anda berkunjung ke perusahaan saya," ucap Bara sembari berjalan menuju Reinal.


Bukannya sapaan balik yang Bara dapatkan. Reinal dengan cepat memberikan pukulan tepat di pelipis kanan Bara. Tidak hanya itu, Reinal juga memukul pipi Bara beberapa kali. Bara sama sekali tidak membalas perbuatan yang Reinal berikan.


Setelah puas dengan apa yang dia lakukan, Reinal bangkit dan menjauh dari Bara. Napas Reinal memburu. Ia menatap Bara yang berusaha bangkit untuk berdiri. Darah segar mulai keluar dari pelipis dan juga sudut bibir Bara.


"Jangan pernah ikut campur dalam rumah tangga saya, Bara." Bara tersenyum sinis mendengar peringatan yang Reinal berikan kepadanya.


"Dia adik saya, kalau anda lupa. Saya akan selalu ikut campur jika hal itu berurusan dengan adik saya," balas Bara dengan santai.


"Saya tidak perduli dengan hubungan yang kalian miliki. Alora adalah istri saya dan akan tetap menjadi istri saya. Anda jangan pernah menghasut dia untuk melakukan apa yang anda inginkan."


Perlahan Bara berdiri dan mencoba untuk menahan rasa sakitnya di depan Reinal. Ia merapihkan kemejanya yang sedikit berantakan karena ulah Reinal.


"Saya tidak pernah menghasut, Alora. Lagian.. cepat atau lambat pernikahan ini juga akan berakhir. Akan lebih baik kalau pernikahan ini segera di akhiri. Alora tidak akan pernah bahagia jika hidup dengan anda. Tidak akan pernah!"


Reinal yang mendengar itu ingin sekali kembali memukul wajah Bara. Tetapi ia mencoba menahannya. Bagaimanapun Bara adalah kakak iparnya.


"Kebahagiaan Alora urusan saya. Lebih baik anda mengurus perusahaan kecil anda ini."