Tears in Marriage

Tears in Marriage
Kali pertama



Alora mematung ketika melihat Reinal sudah berada di depan pintu apartemen Dimas bersama dengan kedua bodyguardnya.


Tatapan mata Reinal memanas ketika melihat pakaian yang Alora pakai. Reinal mulai berjalan masuk ke dalam apartemen dan mendorong tubuh Dimas ke belakang. Dimas yang masih lemah malah terjatuh tepat setelah Reinal mendorong tubuhnya.


Kedua bodyguard Reinal ikut masuk dan menutup pintu apartemen. Alora yang melihat itu seketika berjalan mendekati Reinal. Ia tau Reinal saat ini sedang emosi.


"Reinal.. aku bisa jelasin. Kita.. kita pulang aja dulu ya.. Aku a--" ucapan Alora terputus ketika melihat Reinal melayangkan pukulan kearah Dimas. Bukan hanya sekali, Reinal mulai memukul Dimas berkali-kali, meluapkan emosi yang ada dalam dirinya.


"REINAL.." Teriakkan Alora sama sekali tidak membuat Reinal menghentikan kegiatannya. Alora mencoba untuk menghalangi Reinal agar tidak memukul Dimas, tetapi tubuhnya ditahan oleh kedua bodyguardnya.


Tangisan Alora mulai keluar. Tubuh lemah Dimas membuat Alora hancur. Apalagi ia tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan perbuatan Reinal.


"Reinal aku mohon.. berhenti."


Darah segar mulai keluar dari bibir dan pelipis Dimas akibat pukulan yang ia terima.


"Berhenti.."


Reinal menghentikan pukulannya setelah menyadari keadaan Dimas yang sangat kacau. Dimas bahkan sudah tidak sadarkan diri. Alora hendak melihat kondisi Dimas tetapi dengan cepat Reinal menahan tangannya dan menarik Alora keluar dari apartemen. Tetapi sebelum keluar, Alora menyempatkan diri untuk mengambil tasnya. Ia tidak mungkin meninggalkan Dimas begitu saja.


Beberapa orang melihat Alora dan Reinal dengan pandangan aneh. Alora yang menangis dan Reinal yang masih dengan emosinya membuat mereka menjadi pusat perhatian. Tetapi tidak ada yang berani untuk mendekat kearah mereka dikarenakan kedua bodyguardnya berdiri tepat di belakang mereka.


Tarikan tangan Reinal membuat pergelangan tangan Alora merasa sakit. Tetapi Alora mencoba untuk menahan semua itu.


Reinal membuka pintu mobil dengan kasar dan menyuruh Alora masuk ke dalam kedalam mobil.


Setelah mereka masuk kedalam mobil, Reinal mulai menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Alora tidak tau apa yang akan terjadi kepada dirinya nanti.


Melihat Reinal yang mengemudikan mobil, Alora mencuri kesempatan untuk mengambil handphonenya dari dalam tas. Ia mulai mencari kontak Bara.


Bar.. Lo ke apartemen Dimas sekarang. Lo harus bawa dia ke rumah sakit sekarang.. semuanya akan gue jelasin nanti, sekarang Dimas butuh bantuan lo.


Tak lupa pin apartemen Dimas Alora kirim kepada Bara. Setelah mengirim pesan tersebut, Alora kembali menutup handphonenya. Sekarang, Alora hanya bisa pasrah dengan apa yang akan Reinal lakukan kepadanya nanti.


Beberapa kali Reinal memukul stir mobil dengan kesal. Jantung Alora berdetak dua kali lebih cepat melihat Reinal yang seperti ini. Kali ini emosi Reinal benar-benar terlihat. Berbeda dari sebelum-sebelumnya.


***


Sesampainya di rumah, Reinal kembali menarik tangan Alora menuju kamar. Pelayan di rumah sepertinya sudah sangat terbiasa dengan keributan yang diciptakan oleh majikan mereka itu.


Reinal mengunci pintu kamar ketika mereka sudah sampai di dalam kamar. Alora mencoba untuk merendahkan sedikit kekhawatirannya. Tetapi ia tetap merasa sangat khawatir sekarang. Emosi Reinal benar-benar tidak bisa ia kendalikan.


Alora mencoba untuk mencari cara bagaimana ia bisa keluar dari kamar ini. Ia merasakan perasaan yang buruk jika hanya berdua saja di kamar dengan Reinal. Apalagi dengan emosi Reinal yang masih membara.


Alora memegang handphone miliknya. Jika terjadi sesuatu diluar dugaannya, Alora akan segera menelepon Bara dan meminta bantuan Bara.


Setelah mengunci pintu, Reinal berjalan mendekati Alora. Fokus Reinal saat ini adalah handphone yang sedang Alora genggam. Dengan cepat, Reinal mengambil handphone tersebut dari genggaman Alora. Detik berikutnya Reinal membuat sembarang handphone Alora.


Alora mencoba berpikir mengenai apa yang harus ia katakan agar Reinal sedikit meresahkan emosinya.


"Reinal.. ini semua enggak seperti yang kamu bayangkan. Dimas sakit, karena itu aku berkunjung ke apartemennya."


Alora mencoba untuk menjelaskan kepada Reinal mengenai yang sebenarnya terjadi. Tetapi Reinal terlihat tidak perduli dengan apa yang Alora katakan.


"Jadi biar dia sembuh, kamu tidur dengan dia? Sampai harus mengganti pakaianmu?!"


Alora memejamkan matanya sesaat. Ia sudah menduga Reinal akan berpikir demikian. Hanya karena ia memakai pakaian Dimas.


"Bukan.. Dimas tadi di--" Reinal memotong ucapan Alora. Ia berjalan mendekati Alora dan memegang pundak Alora kuat. Tatapan tajam Reinal hanya tertuju kepada kaos yang sedang Alora pakai.


"Buka baju ini. Sekarang!" Perintah Reinal tegas.


"Iya. Aku akan ganti baju sekarang." Alora hendak berjalan pergi menuju kamar mandi. Tetapi Reinal menahan Alora agar tidak pergi dari hadapannya.


"Buka di depan saya. Saya ingin melihat, apakah di dalam kaos ini ada bekas dari pria itu."


Hancur. Alora merasa sangat hancur mendengar tuduhan yang Reinal berikan kepadanya. Reinal benar-benar berpikir jika ia sudah tidur dengan Dimas.


Air mata Alora perlahan keluar. Perkataan Reinal membuatnya ingin menampar pria ini. Tetapi Alora seperti tidak memiliki tenaga saat ini. Ia hanya bisa diam menerima tuduhan yang tidak masuk akal dari Reinal.


"Kamu yang buka, atau saya sendiri yang buka dengan cara saya, Alora!"


Alora perlahan mulai membuka kaos Dimas yang ia pakai. Menyusahkan bra miliknya dan short pendeknya. Saat ini Alora merasa sangat malu. Biarpun Reinal adalah suaminya, tetapi cara Reinal menyuruhnya sangatlah kejam.


Reinal tersenyum miring melihat tubuh Alora yang ada di depannya. Ia memegang dagu Alora dan mengangkat dagu Alora agar Alora menatap wajahnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan dengan pria itu? Apa karena saya tidak berhubungan dengan kamu, sehingga kamu mencari pria lain untuk berhubungan dengan kamu Alora?"


Alora mulai mengeluarkan isakan tangisnya. Ia seperti beku saat ini. Mulutnya tidak bisa membantah perkataan Reinal mengenai dirinya.


"Baiklah. Biar saya sendiri yang memeriksanya," tutur Reinal. Reinal mendekatkan wajahnya ke arah lekukan leher Alora. Dengan cepat Alora menahan tubuh Reinal.


"Aku bersumpah, Reinal. Aku tidak pernah melakukan hal apapun dengan Dimas. Jadi tolong.. jangan perlakukan aku seperti ini. Kamu sudah berjanji tidak akan pernah menyentuhku."


"Saya bisa menarik janji saya itu. Kamu istri saya, sudah seharusnya saya melakukan ini dari awal pernikahan kita."


Dimas kembali berjalan mendekati Alora dan mulai mencumbu Alora. Alora mencoba untuk menolak Reinal. Tetapi tenaga Reinal lebih kuat dibandingkan dirinya.


Air mata Alora tidak berhenti keluar. Tetapi hal itu tidak berhasil membuat Reinal menghentikan kegiatannya. Tubuh Alora dan Reinal jatuh ke atas kasur mereka.


Alora hanya bisa menahan kepedihan hatinya dengan air mata yang ia keluarkan.


***