Tears in Marriage

Tears in Marriage
Malam Pertama



Alora berjalan memasuki rumah yang megah bersama dengan Reinal tentunya. Rumah yang akan ia tinggali mulai hari ini. Rumah ini bahkan lebih besar dari rumah milik keluarganya. Alora sangat mengagumi interior rumah Reinal.


Beberapa koper dan barang bawaan Alora sedang dibawa oleh bodyguard Reinal. Alora hanya mengikuti langkah lebar Reinal yang menuju kamar mereka nantinya.


Reinal membuka pintu kamar dan masuk terlebih dahulu dari Alora dan bodyguard yang membawa barang-barang Alora. Setelah mereka sudah meletakkan barang-barang itu di kamar, mereka segera keluar dari kamar tersebut meninggalkan Alora dan Reinal.


Seketika suasana menjadi sangat hening sekaligus canggung. Alora tidak biasa bersama dengan pria yang baru ia kenal di dalam kamar seperti ini. Ia bahkan tidak tau harus memulai pembicaraan seperti ini. Alora bahkan baru ingat jika ini adalah malam pertamanya dengan Reinal.


Alora tidak tau apakah ia siap untuk menerima Reinal sepenuhnya atau tidak. Menyadari itu, Alora pun akhirnya duduk di pinggir kasur. Ia hanya diam dan melihat gerak-gerik yang Reinal lakukan.


Reinal malah terlihat sangat santai sekali. Ia berjalan menuju kamar mandi dan Alora sama sekali tidak tau apa yang akan Reinal lakukan.


Alora memutuskan untuk mengeluarkan handphone miliknya agar ia tidak merasa bosan. Beberapa menit kemudian, Reinal keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Dia seperti akan pergi ke suatu tempat.


Reinal yang baru menyadari jika ia sudah mengabaikan Alora, ia pun berjalan mendekati istrinya itu. Alora yang menyadari itu seketika merasa gugup. Reinal berdiri tepat di hadapan Alora. Ia bahkan memegang dagu Alora dan sedikit mengangkat dagu Alora agar Alora menatap matanya.


"Gimana rasanya nikah sama saya?" pertanyaan itu membuat Alora seketika diam. Ia tidak tau mau menjawab seperti apa.


"Jangan berharap lebih dari saya, Alora. Saya menikah sama kamu hanya karena permintaan orang tua saya. Sekaligus karena penolakan yang kamu berikan. Tapi kamu jangan takut, saya tidak akan menyentuh kamu. Saya bisa dapat yang lebih dari kamu, kapanpun saya mau."


Alora berusaha untuk mencerna setiap perkataan yang Reinal lontarkan kepada dirinya.


"Kamu hanya saya jadikan sebagai boneka untuk penghibur saya," sambung Reinal dengan santai tanpa rasa bersalah.


Setelah mengatakan semua itu, Reinal melepaskan dagu Alora dan berjalan pergi begitu saja.


Alora tidak tau apakah ia harus bahagia atau sedih. Bahagia karena Reinal tidak akan menyentuh dirinya atau sedih karena ucapan yang Reinal lontarkan kepada dirinya.


Perlahan Alora bangkit dari duduknya. Ia lebih baik merapikan seluruh barang-barangnya daripada memikirkan semua ucapan yang Reinal lontarkan. Alora berjalan menuju walk in closet milik Reinal sambil membawa koper miliknya.


Alora sedikit bernapas lega. Ia melihat ada ruang kosong untuk dirinya menyimpan barang-barang serta pakaian miliknya. Mungkin Reinal sengaja mengosongkan tempat itu khusus untuk dirinya.


Alora pun mulai membuka koper miliknya agar bisa menyusun pakaian miliknya ke dalam lemari. Kegiatan Alora ini sangat membantu dirinya sedikit melupakan apa yang Reinal ucapkan tadi.


***


Kasur ukuran king Size yang sedang Alora tiduri terasa sangat tidak nyaman untuknya. Ia merasa sedikit ada yang aneh. Mungkin karena ini kali pertama Alora tidur di atas kasur ini atau karena ketidakhadiran Reinal di sebelahnya.


Alora merasa gelisah. Ia gelisah karena Reinal masih belum pulang dan menampakkan dirinya. Walaupun pernikahan ini sama sekali tidak Alora inginkan, tetapi ada sedikit perasaan khawatir dari diri Alora kepada Reinal. Terlebih lagi Reinal sekarang adalah suaminya.


Alora pun bangkit dari tidurnya. Ia sudah tidak bisa tertidur lagi walaupun ia paksa. Alora pun memutuskan untuk keluar dari kamar menuju dapur. Ia ingin melihat-lihat lebih jauh mengenai rumah ini.


Ketika Alora turun dari tangga menuju lantai satu, ia sekali lagi kembali kagum dengan interior dari rumah ini. Terlebih lagi ketika rumah ini sunyi. Sudah tidak ada lagi asisten rumah tangga yang berada di dapur.


Alora mulai melangkah mendekati meja makan. Ia dapat melihat sebuah tempat makan yang ia yakini pasti ada makanan di dalamnya dan ketika Alora buka, binar dimatanya seketika muncul. Alora memang sedikit lapar sekarang, apalagi ketika di acara pernikahannya tadi ia tidak terlalu menikmati makanan yang tersedia. Baru saat ini perutnya ingin sekali diisi oleh berbagai makanan yang ada di meja makan ini.


Alora pun berjalan menuju kemari tempat piring disimpan. Sedikit kesulitan memang ketika ia mencari piring untuk dirinya. Setelah memeriksa beberapa lemari, akhirnya Alora menemukan tempat piring beserta sendok yang tersusun dengan rapih. Ia pun mengambil satu piring dan satu sendok untuk dirinya. Setelah itu, Alora segera kembali berjalan menuju meja makan untuk menikmati makanan yang sudah tersedia.


Beberapa menit kemudian, Alora tersenyum tipis karena perutnya sudah merasa kenyang. Mungkin setelah ini Alora akan bisa tertidur kembali.


Pandangan Alora teralihkan ke sebuah jam dinding yang tak jauh darinya. Pukul sudah menunjukkan jam empat pagi dan Reinal masih belum juga pulang. Ketika Alora memikirkan tentang keadaan Reinal, seketika pintu rumah diketuk dari luar. Alora yang mendengar itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu rumah dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Reinal yang sedang mabuk.


Tetapi yang lebih membuat Alora syok adalah kedua wanita yang membopong Reinal di sisi kiri dan kanannya. Wanita cantik sekaligus seksi itu.


"Akh.. jadi ini boneka cantik yang di maksud," tutur salah satu wanita itu sembari menatap Alora sinis. Alora tidak tau maksud dari wanita itu dan ia sama sekali tidak perduli.


Alora masih syok sekaligus kesal dengan Reinal, bagaimana bisa ia mabuk-mabukan bersama wanita-wanita cantik ini di malam pernikahan mereka.


"Mending lo minggir deh. Kita mau bawa Reinal ke kamar. Mungkin malam ini lo bisa tidur di kamar tamu."


Emosi Alora sudah sangat memuncak. Ingin sekali ia menjambak kedua wanita yang ada di depannya ini dan menampar mereka dengan keras. Tetapi belum sempat niatnya itu ia lakukan, kedua bodyguard Reinal yang tidak tau datang dari mana tiba-tiba sudah berada di belakang Reinal dan kedua wanita murahan itu.


Mereka dengan sigap mengambil alih tubuh Reinal. "Kalian akan diantar oleh sopir untuk pulang," ucap salah satu bodyguard Reinal kepada kedua wanita itu. Mereka menatap kesal kepada bodyguard Reinal dan setelah itu mereka berjalan pergi menuju mobil.


"Kami akan membawa bapak ke kamar Bu." Alora menganggukkan kepalanya kepada kedua bodyguard Reinal dan berjalan mendahului mereka untuk membukakan pintu kamar.


Setelah selesai membaringkan Reinal ke tempat tidur, kedua bodyguard Reinal segera pergi meninggalkan kamar. Tinggal Alora sendiri bersama dengan Reinal di kamar ini. Alora mencoba untuk menahan kesabaran menghadapi Reinal. Tetapi ia masih kesal dengan pria yang sedang tertidur lelap di kasur sekarang ini.


Reinal terlalu jahat meninggalkan Alora di malam pertamanya dan pergi mabuk-mabukan bersama wanita murahan itu. Alora sangat yakin Reina pasti sudah melakukan sesuatu kepada mereka. Sesuatu yang sangat menjijikkan untuk Alora. Melihat Reinal seperti ini, Alora merasa sangat beruntung Reinal tidak menyentuh dirinya.


***