Tears in Marriage

Tears in Marriage
Surat Cerai



Alora memegang bibirnya yang semalam mencium bibir Reinal. Jika bukan karena sering handphone Reinal, mereka berdua sudah pasti akan melakukan hal yang lebih dari ciuman. Alora kembali menggelengkan kepalanya, ia selalu memikirkan tentang ciuma semalam hari ini.


Alora pun bangkit dari duduknya. Ia berencana untuk bertemu dengan Bara hari ini. Sudah lama semenjak pernikahannya, Alora belum bertemu dengan saudaranya itu.


Langkah kaki Alora yang keluar dari rumah membuat beberapa bodyguard dan juga sopir pribadi di rumah Reinal langsung mendekat ke arah Alora. Alora menatap bingung kearah mereka.


"Ibu mau kemana?" tanya sopir pribadi Reinal yang Alora tau namanya Tanto.


"Saya mau ke kantor Abang saya, pak. Kenapa?" tanya balik Alora.


"Kalau gitu bisa saya yang mengantar, Bu."


Mendengar itu, Alora seketika menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin diantara hanya untuk bertemu dengan Bara.


"Enggak usah pak. Saya bisa nyetir mobil sendiri kok. Bapak tenang aja," tolak Alora dengan halus.


Setelah mengatakan itu, Alora berjalan mendekati mobilnya. Tetapi belum sempat ia masuk ke dalam mobil, pintu mobil ditahan oleh sopir pribadi Reinal.


"Maaf Bu.. ibu tidak boleh pergi kemana-mana kalau tidak saya yang mengantar. Itu pesan dari pak Reinal," tutur pak Tanto kepada Alora. Helaan napas Alora mulai terdengar. Baru saja ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Reinal, tetapi Reinal malah semakin mengurungnya seperti ini.


"Oke.. bapak yang nyetir."


Alora memberikan kunci mobilnya kepada pak Tanto dan langsung masuk ke dalam mobil.


Mobil mulai berjalan keluar dari perkarangan rumah. Pandangan Alora teralihkan ketika melihat sebuah mobil yang mengikuti mobilnya dari belakang.


"Mereka ngapain ngikutin mobil ini?" tanya Alora.


"Perintah dari bapak, Bu. Katanya mereka juga harus mengawal ibu kemanapun ibu pergi," jawab pak Tanto.


Alora memejamkan kedua matanya mendengar jawaban pak Tanto. Reinal benar-benar akan terus mengawasinya mulai sekarang.


***


Langkah Alora berhenti ketika ia menyadari kedua bodyguard Reinal mengikuti langkahnya juga. Alora pun menoleh ke belakang dan menatap kedua bodyguard itu dengan tatapan tajamnya.


"Kalian juga akan mengikuti saya sampai kedalam?!" tanya Alora dengan sedikit bentakan. Ia sangat kesal sekarang. Jika mereka hanya mengikutinya dan mengawasinya dari jauh, Alora masih bisa terima. Tetapi jika seperti ini, Alora sangat tidak terima.


"Iya bu. Kami harus berada lima langkah di belakang ibu selama ini berada di luar rumah," jawab salah satu diantara mereka.


"Dengar.. saya sekarang berada di perusahaan Bara. Saudara Saya. Jadi kalian tidak usah mengikuti kemana pun saya pergi untuk saat ini, mengerti?"


"Maaf Bu, tidak bisa."


Alora tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jawaban yang singkat tetapi jelas itu membuatnya kembali terdiam.


Mau tidak mau Alora mengalah. Ia pun kembali berjalan tanpa memperdulikan kedua bodyguardnya itu. Bahkan ketika Alora baik lift, kedua bodyguard itu juga ikut bersama dengan Alora.


Sesampainya di depan ruangan Bara, Alora segera masuk tanpa memperdulikan sekretaris Bara yang menyapa dirinya. Kekesalan Alora membuatnya mengabaikan sekretaris Bara.


Bara sedikit tersentak ketika pintu ruangannya yang tiba-tiba terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu.


"Lain kali ketuk pintu dong. Gue syok ini, lihat Lo tiba-tiba masuk," tutu Bara. Ia mulai bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati Alora yang sudah duduk di sofa.


"Mereka siapa?" tanya Bara kepada Alora.


"Malaikat maut gue," jawab Alora ngasal. Bara tersenyum mendengar jawaban Alora.


"Segitu sayangnya Reinal sama Lo sampai lo harus dikawal gini."


Alora memutar bola matanya, malas. "Lagi males bercanda."


Tawa Bara seketika pecah. Ia sangat senang membuat Alora kesal seperti sekarang.


"Kebetulan Lo ada di sini. Gue mau ngomong hal penting sama lo," tutur Bara mengalihkan pembicaraan.


Bara bangkit dari duduknya dan kembali berjalan menuju mejanya. Ia mengambil sebuah stopmap bewarna coklat dari meja kerjanya itu.


Setelah mengambil, Bara kembali berjalan dan duduk di depan Alora. Ia hendak membuka stopmap tersebut, tetapi niatnya berhenti ketika menyadari jika kedua bodyguard Alora masih setia berdiri di depan pintu ruangannya.


"Kalian berdua bisa keluar sebentar? Saya mau ngomong hal yang penting sama Alora."


"Maaf kam--"


"Sepuluh menit. Tunggu saya sepuluh menit di luar."


Alora memotong ucapan bodyguardnya dan melemparkan tatapan tajamnya. Melihat itu, kedua bodyguard tersebut pun mengalah. Mereka berjalan keluar dari ruangan Bara.


Sepeninggalan mereka, Bara pun menyerahkan stopmap yang ia pegang kepada Alora. Alora mulai membuka stopmap tersebut dan melebarkan kedua matanya ketika membaca selembar kertas yang ada di baliknya.


"Lo gila?!" tanya Alora langsung.


"Hampir sih.. tapi ini semua demi kebaikan lo. Gue tau pernikahan lo itu terpaksa, karena itu gue pikir udah saatnya lo keluar dari pernikahan itu."


"Gue ngelakuin ini untuk keluarga kita, Bara. Kalau gue minta cerai sekarang, disaat kondisi keluarga kita masih seperti ini, gue rasa kita akan benar-benar hancur. Perusahaan lo, perusahaan papa.. Lo gak mikir apa?"


Alora menutup kembali map tersebut dan memberikannya kepada Bara dengan sedikit kasar.


"Karena gue yakin kita gak akan hancur, makanya gue suruh Lo untuk cerai."


Alora mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti perkataan yang Bara lontarkan. "Maksud lo?"


"Gue dapat kolega yang udah ngasih saham di perusahaan gue. Sekarang perusahaan gue setara sama perusahaan Reinal. Dia gak mungkin bisa ngehancurin kita lagi dengan ancamannya itu. Karena itu.. setelah lo cerai dengan Reinal, Lo bisa kembali sama Dimas. Gue gak mau lo terus yang bekorban. Kejar impian lo, Lora."


Untuk sesaat Alora merasa ingin menangis mendengar perkataan Bara. Ia ternyata memiliki saudara yang sangat perhatian kepada dirinya. Tetapi Alora tidak mungkin melakukan itu, ia tidak tau apa hal gila yang bisa Reinal lakukan selanjutnya.


"Gue bisa aja minta cerai sama Reinal sekarang, tapi kita enggak tau kedepannya gimana. Kita gak tau apa yang bisa Reinal lakukan nantinya. Gue takut dia akan melakukan sesuatu yang lebih dari kemarin."


Bara bangkit dari duduknya dan berpindah tepat di samping Alora. Ia menggenggam tangan Alora.


"Ada gue, Alora. Gue yang akan ngelindungi lo dan orang tua kita mulai sekarang. Gue akan ngelakuin apa aja untuk ngejaga kalian, lo tenang aja. Sekarang yang terpenting, Lo harus bahagia dulu. Gue gak mau gue akan semakin merasa bersalah karena udah buat Lo untuk menikah sama Reinal."


Setelah mendengar perkataan Bara, Alora memeluk tubuh Bara. "Gue akan memikirkan semua ini dulu. Kasih gue waktu seminggu untuk memikirkan semuanya. Keputusan cerai atau enggak, akan gue kasih tau lo nanti."


***