
Genggaman tangan dari Dimas sangat membantu Alora untuk menenangkan dirinya. Alora tidak ingin melepaskan genggaman tangan Dimas untuk saat ini.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Alora dan Dimas sama-sama berada pada pikiran masing-masing. Tetapi kediaman mereka sudah membuat mereka berdua merasa bahagia.
Saat ini Alora tidak perduli mengenai masalahnya dengan Reinal. Ia hanya ingin bersama dengan Dimas berdua saja. Sudah cukup untuk Alora jika ada Dimas di sampingnya.
"Aku gak akan bertanya apapun sama kamu jika kamu tidak ingin menceritakannya. Pria itu, aku harap dia tidak menyakiti perasaan kamu terlalu jauh, Alora. Jika dia sudah melakukannya, aku rasa lebih baik kamu keluar dari pernikahan itu."
Perkataan Dimas hampir sama dengan yang Bara katakan. Mereka berdua sama-sama menyuruh Alora untuk keluar dari pernikahannya. Pernikahan yang Tidak pernah Alora rasa kebahagiaannya.
"Kalau aja aku bisa, mungkin dari awal aku tidak akan pernah masuk ke pernikahan ini. Kalau aja aku punya keberanian, mungkin aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Dim. Karena keberanianku yang lemah, semua ini terjadi."
Dimas diam mendengar perkataan Alora. Perpisahannya dengan Alora masih belum bisa ia terima. Alora sudah berhasil membuat Dimas tidak bisa lepas darinya.
"Tawaranku waktu itu, sudah kamu pikirkan?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.
Anggukan kepala Alora membuat Dimas sedikit gugup. Ia sangat menunggu jawaban yang akan Alora berikan kepada dirinya.
"Jika aku menerimanya, bukannya itu berarti aku telah mengkhianati pernikahan ini?" tanya balik Alora.
"Bukannya dia yang terlebih dahulu mengkhianati pernikahan kalian?"
Alora tersenyum tipis. Reinal memang orang pertama yang mengkhianati pernikahan mereka. Bahkan di awal pernikahan ini.
"Tapi jika aku juga melakukan hal yang sama, pernikahan ini akan benar-benar hancur, Dim."
Genggaman tangan Dimas perlahan mulai ia lepaskan. Dimas juga mengalihkan pandangannya dari Alora. Ia menatap ke arah Danau dan mencoba untuk mengatur napasnya.
Alora yang melihat itu, merasa telah melakukan kesalahan. Perubahan sikap tiba-tiba Dimas membuatnya sedikit bingung.
"Mendengar jawaban kamu barusan, aku rasa kamu benar-benar menikmati pernikahan ini. Apa kamu sudah mulai mencintai dia? Perasaan kamu terhadap hubungan kita apa sudah tidak ada lagi, Alora?"
"Dimas.. ak--"
"Waktu itu, aku pikir kamu melakukannya hanya karena untuk menyelamatkan keluarga mu. Belum sampai satu Minggu pernikahan kalian, kamu sudah benar-benar jatuh cinta dengan pria itu." Mata Alora memanas mendengar perkataan Dimas. Ia bahkan tidak pernah menyadari perasaannya kepada Reinal.
"Hubungan kita.. apakah benar-benar sudah berakhir?"
Air mata Alora kembali menetes. Pertanyaan dari Dimas membuat Alora tidak bisa berkata apapun. Tetapi rasanya sangat sakit mendengar pertanyaan itu.
***
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Alora baru saja pulang dari menenangkan dirinya. Dengan santai, Alora melangkah memasuki rumah. Sebenarnya Alora tidak ingin untuk pulang ke rumah ini, tetapi ia tidak memiliki tujuan lain selain rumah ini. Jika Alora pulang ke rumah orang taunya, akan banyak sekali pertanyaan yang akan ia terima.
Langkah Alora berhenti ketika melihat kedua bodyguardnya yang sedang mengompres pipi dan pelipis mereka. Melihat itu, Alora berjalan mendekati mereka. Melihat Alora mendekat, kedua bodyguard tersebut seketika berdiri. Mereka tidak berani untuk menatap mata Alora.
"Reinal yang buat?" tanya Alora langsung. Ia sebenarnya sudah bisa menebak siapa yang melakukan kekeran itu kepada kedua bodyguardnya.
"Ini juga salah kami, bu. Seharunya kami tidak lalai dalam menjaga ibu," jawab salah satu diantara mereka.
Tanpa menjawab lagi, Alora berjalan meninggalkan mereka dan menuju kamar. Langkahnya mulai ia percepat. Saat ini Alora sudah benar-benar tidak tahan dengan sikap Reinal yang semena-mena dengan bawahannya.
"Dari mana saja kamu?" tanya Reinal ketika ia menyadari kehadiran Alora.
"Kamu memang selalu melakukan kekerasan ya?" tanya Alora balik.
"Mereka lalai menjaga kamu. Jadi saya pikir mereka harus sedikit diberi peringatan."
"Dengan cara memukul? Oh.. atau memang cara kamu untuk memperingat orang lain itu dengan cara memukul dan melakukan kekerasan?"
Brak!
Alora tersentak ketika Reinal memukul meja dengan keras. Reinal mulai bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Alora.
"Kamu bertemu dengan pria itu kan? Apa yang kalian lakukan?"
Senyum tipis tercipta di wajah Alora. "Sama seperti apa yang kamu lakukan dengan sekretaris mu."
"ALORA!"
Teriakan Reinal membuat nyali Alora sedikit menciut. Tetapi ia berusaha untuk tidak gentar. "Kenapa?! Kamu saja bisa bersenang-senang dengan wanita yang bahkan lebih dari satu. Tentu saja aku juga bisa melakukan hal yang sama. Jadi kita impas," balas Alora dengan santai.
"Kamu sekarang sudah berani dengan saya? Apa karena saya sudah bersikap lembut kepada kamu, jadi kamu berani menentang saya, Alora?!"
Tanpa membalas perkataan Reinal, Alora berjalan menjauh dari Reinal. Ia tidak ingin lagi berbicara dengan Reinal dengan emosi yang masih menggebu.
"Jika sekali lagi saya tau kalau kamu bertemu dengan dia, saya tidak akan diam Alora."
Alora menghentikan langkahnya. Alora menatap sekelilingnya. Tatapannya berhenti di sebuah vas bunga yang ia letakkan sendiri di meja riasnya. Dengan kesal, Alora mengambil vas bunga tersebut dan membantingnya ke lantai. Alora menatap wajah Reinal dengan tatapan tajamnya. Ia tidak mengeluarkan satu kata pun, hanya sebuah tatapan yang mampu membuat Reinal diam membeku.
Kepingan vas bunga itu telah hancur berkeping di lantai beserta bunga Tulip yang kemarin Reinal berikan untuknya. Bunga pertama yang Alora dapat dari Reinal. Bunga tanda permintaan maaf Reinal kepadanya. Sekarang bunga itu sudah tidak lagi Alora butuhkan. Permintaan maaf Reinal sudah tidak akan pernah lagi Alora harapkan.
Air mata Alora perlahan menetes ketika melihat bunga yang ada di lantai. Reinal yang melihat Alora menangis seketika kembali merasa bersalah.
"Jangan pernah libatkan Dimas untuk menutupi kesalahan kamu," tutur Alora sembari menghapus air matanya. Setelah mengatakan hal tersebut, Alora kembali berjalan meninggalkan Reinal sendiri.
Sepeninggalan Alora, Reinal memanggil salah seorang pelayannya untuk membersihkan kekacauan yang terjadi di dalam kamar. Tak menunggu lama, kamar Reinal kembali bersih tanpa serpihan kaca.
Pelayan tersebut hendak mengambil bunga Tulip yang tergeletak di lantai untuk dibuang. Tetapi Reinal langsung menghentikan pelayan tersebut.
"Jangan di buang. Letakkan lagi bunga itu di vas yang baru!" perintah Reinal.
"Buang aja bunganya. Udah gak guna lagi itu bunga," sahut Alora yang tiba-tiba muncul dari kamar mandi.
"Tapi bunganya masih bagus Bu," tutur perlahan tersebut sembari menunjukkan bunga Tulip yang sedang ia pegang. Mendengar itu, Alora berjalan menuju pelayan tersebut dan mencabut bunga tulip itu dari tangkainya.
"Udah gak bagus kan sekarang? Buang bunganya."
Reinal hanya diam melihat tindakan Alora. Ia tidak berani untuk mengatakan sepatah katapun lagi.
***