
Alora tidak tahu hal ini akan terjadi. Ia menatap foto wajah Bara dari layan handphone miliknya. Baru saja Bara mengabari dirinya bahwa Reinal datang ke perusahaannya dan memukul dirinya.
Lo tenang aja, gue tau kok dia pasti akan ngelakuin itu. Cuman gue gak sangka aja dia ngelakuinnya sekarang. Soalnya kan gue belum ada persiapan. Latihan tinju contohnya.
Pesan itu yang Bara berikan untuk menghibur Alora agar tidak terlalu khawatir terhadap Bara. Tetapi tetap saja, Alora merasa sangat khawatir dengan keadaan Bara sekarang. Ingin sekali ia segera bertemu dengan Bara dan melihat kondisi Bara secara langsung. Tetapi hal itu tidak bisa dikarenakan Reinal telah mengunci akses keluar Alora dari kamar ini.
Alora tidak tau harus melakukan apa sekarang. Ia hanya bisa menanyakan kabar Bara lewat handphone miliknya. Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka dan menampakkan seorang pelayan yang membawa sebuah nampan berisikan gelas. Pelayan tersebut masuk ke dalam kamar dan mendekati Alora yang sedang duduk di meja rias miliknya.
"Silahkan diminum Bu obatnya," tutur pelayan tersebut. Alora menatap lama gelas yang berusia obat herbal tersebut. Perkataan Reinal tadi membuatnya terus memikirkannya. Jika Alora hamil, akan semakin sulit ia keluar dari pernikahan ini. Alora tidak ingin berlama-lama berada dalam pernikahan ini, oleh karena itu ia tidak boleh hamil sampai perceraiannya nanti.
Ia mulai mengambil gelas tersebut dari nampan dan meletakkannya di atas meja riasnya. "Akan saya minum nanti. Kamu keluar saja," ucap Alora. Bukannya menuruti perkataan Alora, pelayan tersebut tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Maaf Bu.. saya harus menunggu ibu sampai meminum obat tersebut baru saya bisa keluar dari kamar ini," jelasnya. Alora sudah pernah mendengar perkataan itu sebelumnya. Ia pikir karena pelayan yang ini lebih mudah dari sebelumnya, akan mudah mengatasinya. Tetapi sepertinya Alora harus sedikit berusaha lebih keras.
"Saya akan meminumnya nanti. Kamu keluar saja." Kali Alora mengatakan dengan sedikit penekanan.
Pelayan tersebut diam mendengar perkataan Alora. Ia tidak tau harus melakukan apa sekarang. Jika ia meninggalkan Alora tanpa melihatnya meminum obat tersebut, Ia akan mendapatkan masalah. Tetapi jika ia tetap diam di sini, dia akan mendapatkan masalah juga.
"Bu.. ta--" ucapan pelayan tersebut terpotong oleh seseorang.
"Minum Alora!"
Alora dan pelayan tersebut menoleh ke sumber suara. Mereka dapat melihat Reinal yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.
Reinal kembali berjalan mendekat. Dengan isyarat mata, ia menyuruh pelayan tersebut keluar dari kamar. Pelayan tersebut pun berjalan keluar dari kamar meninggalkan Reinal dan Alora.
Sepeninggalan pelayan tersebut, Alora hanya diam dan menatap ke arah gelas. Melihat itu, Reinal mengangkat gelas yang ada di atas meja dan menyodorkannya kepada Alora.
"Minum!" perintah Reinal.
Dengan terpaksa Alora mengambil gelas tersebut dari Reinal dan meminum habis obat itu.
Senyuman tipis tercipta di wajah Reinal. Ia menjulurkan tangannya dan mengelus lembut rambut Alora. "Kalau kamu nurut seperti ini kan saya tidak perlu memarahi kamu," tutur Reinal sembari mengelus rambut Alora. Alora hanya diam ia bahkan tidak menatap wajah Reinal.
Beberapa detik kemudian, Alora menyingkirkan tangan Reinal dari kepalanya. Suasana hatinya kembali berubah ketika mengingat apa yang Reinal lakukan kepada Bara.
"Apa yang udah kamu lakuin ke Bara?"
Reinal tersenyum lebar mendengar pertanyaan yang Alora lontarkan. "Dia ngadu sama kamu?" tanya balik Reinal.
Alora berdiri dari duduknya dan menatap wajah Reinal tajam. "Kamu boleh nyakitin aku, Reinal. Tapi tidak untuk keluargaku. Berhenti libatkan orang lain dalam masalah kita!"
"Kamu mau tau apa yang Bara bilang? dia bilang aku gak perlu lagi mementingkan. kebahagiaan keluarga aku. Dia bilang aku harus bahagia dan keluar dari pernikahan ini. Aku rasa apa yang Bara bilang ada benarnya."
Reinal mencoba untuk menahan emosinya. Ia tidak ingin membuat Alora semakin ingin bercerai dengan dirinya. Saat ini, Reinal akan mengalah untuk beberapa waktu. Setidaknya sampai masalah perceraian ini dilupakan oleh Alora.
"Lebih baik kamu melupakan apa yang Bara katakan. Cepat atau lambat kamu juga akan bahagia dengan pernikahan ini. Apalagi kalau seorang anak hadir dalam pernikahan ini," tutur Reinal dengan santai. Alora terdiam mendengar penuturan Reinal. Selepas mengatakan itu, Reinal berlalu pergi meninggalkan
Alora.
Alora kembali duduk di kursinya dan memikirkan perkataan yang Reinal ucapkan barusan. Saat ini Alora memang masih ragu dengan keputusannya. Apakah ia akan bercerai atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan hidup bersama Reinal. Tetapi sikap Reinal yang sering berubah membuatnya tidak tahan dengan pernikahan ini.
***
"Hari ini aku mau ke rumah papa." Alora menatap wajah Reinal yang sedang sarapan sembari menatap layar handphone miliknya.
Reinal yang mendengar itu segera mematikan layar handphonenya dan menatap Alora balik. Ia berpikir untuk beberapa saat hingga Reinal akhirnya menganggukkan kepalanya. "Oke.."
Untuk sesaat Alora syok dengan izin yang Reinal berikan. Biasanya akan ada beberapa pertanyaan terlebih dahulu sebelum ia menyetujui permintaan Alora.
"Tapi aku gak mau diikuti sama bodyguard itu. Aku juga mau nyetir sendiri,"sambung Alora lagi.
"Boleh.Tapi jam delapan malam kamu harus udah di rumah."
Sekali lagi Alora syok mendengarnya. Reinal terlihat sangat santai dan tidak masalah dengan permintaan Alora. Melihat itu, Alora refleks memegang dahi Reinal dan mengukur suhu tubuh Reinal dengan telapak tangannya itu. Reinal mengernyitkan dahinya melihat apa yang Alora lakukan.
"Kamu kenapa?" tanya Reinal.
"Kamu sakit ya?" tanya balik Alora.
Beberapa detik kemudian Reinal tertawa pecah setelah menyadari maksud Alora. Beberapa pelayan yang mendengar tawa Reinal menatap takjub. Baru kali ini mereka melihat majikannya itu tertawa lepas. Perlahan Reinal meredakan tawanya. Ia tersenyum memandang wajah Alora yang masih diam menatapnya. Reinal perlahan meraih tangan Alora dan menggenggam tangan istrinya itu.
"Saya sudah menyadarinya. Selama ini saya terlalu mengekang kamu kan? Kali ini saya akan sedikit memberikan kamu kelonggaran. Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau selama itu tidak bersangkutan dengan Dimas. Tetapi saya harap.. kamu jangan pernah sekalipun merusak kepercayaan saya ini, Alora."
Alora seketika menganggukkan kepalanya. Ia seperti tersihir dengan kata-kata yang Reinal berikan untuknya. Alora merasa sedikit bahagia melihat perubahan kecil yang Reinal berikan untuknya.
"Saya senang kalau istri saya nurut dengan saya," sambung Reinal lagi. Alora menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis mendengar Reinal menyebut kata 'istri' kepada dirinya.
Alora bahkan tidak tau apa yang terjadi kepadanya saat ini. Perasaannya kepada Reinal seolah sangat tidak stabil. Belum lama mereka bertengkar dan sekarang jantungnya malah berdetak kencang mendengar dan mendapatkan perlakuan manis dari Reinal.
***