
"Hai anak papa.. Baik-baik yang di sana. Jangan buat mama kamu kesakitan yaa," ucap Reinal sembari mengelus perut Alora.
Setelah mereka kembali ke rumah, Alora sama sekali tidak bisa bergerak. Ia hanya berada di atas kasur tanpa melakukan apapun. Padahal sebelum Alora hamil, ia juga tidak pernah melakukan apapun. Alora tidak habis pikir dengan perlakuan Reinal yang tiba-tiba menjadi protective seperti ini.
"Kamu pasti bahagia kan mendengar kehamilan ini? Misi kamu untuk punya anak dari aku akhirnya tercapai. Setelah ini... apa lagi?" tanya Alora. Alora mash mengingat jelas perkataan Reinal yang membuatnya masih kesal hingga saat ini.
Reinal memasang wajah berpikirnya. Hingga beberapa saat kemudian, dia menatap wajah Alora dengan senyuman tipisnya. "Buat adik untuk anak kita? Aku tuh anak tunggal, jadi aku mau punya anak lebih dari satu. Minimal 4 sih.."
Alora mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar perkataan Reinal. Bukan itu jawaban yang Alora inginkan. Tetapi jawaban yang diberikan Reinal mampu membuat Alora diam seribu bahasa. Reinal yang melihat wajah syok Alora semakin tersenyum lebar. Ia sangat gemas melihat wajah istrinya yang seperti itu. Perlahan tangan Reinal meraih puncak kepala Alora dan mengacak lembut rambut Alora. Setelahnya, satu kecupan singkat mendarat di bibir Alora.
Setela mengecup bibir Alora, Reinal menundukkan badannya dan mengecup perut Alora. Ia meletakkan telinga nya di perut Alora, berharap ia bisa mendengar tendangan dari calon anaknya itu. "Saya tidak sabar bisa mendengar gerakkan dari anak kita." Perlahan Alora mulai tersenyum ketika mendengar Reinal menyebut kata 'anak kita'.
***
"Lo kok bisa hamil sih?"
Pertanyaan frustasi dari Bara membuat Alora hanya bisa menghela napasnya berat. Sudah tiga kali Bara bertanya hal yang serupa kepada Alora.
"Ya bisa lah. Lo kan udah sering ngelakuinnya, cuman gak jadi aja tuh baby nya," jawab Alora sembari menyindir Bara. Bara kembali duduk di samping Alora sembari menatap kearah perut rata Alora.
"Kalo lo hamil.. lo gak mungkin cerai dari Reinal, Alora. Reinal gak mungkin biarin ini terjadi. Pilihannya cuman dua. Lo tetap hidup dengan Reinal selamanya atau lo serahin anak ini sama Reinal."
Menyerahkan anaknya dengan Reinal. Alora yang baru mendengar itu saja sudah merasa hancur, apalagi jika ia melakukan hal tersebut.
"Gue gak mungkin menyerahkan anak gue sama dia. Walaupun gue benci sama Reinal, tapi gue gak mau melakukan itu," putus Alora.
Bara tau jawaban itu yang akan Alora keluarkan dari mulutnya. Memikirkan semua ini membuatnya semakin pusing.
"Jadi keputusan lo adalah bertahan dengan Reinal? Seumur hidup lo?"
Anggukkan kecil Alora berikan untuk menjawab pertanyaan Bara. Mungkin akan lebih baik ia bertahan bersama dengan Reinal ketimbang menyerahkan anaknya kepada Reinal. Apalagi jika Reinal menikah nantinya dan anaknya akan memanggil wanita itu dengan sebutan mama. Alora tidak bisa membayangkan semua itu.
"Kalau Lo melakukan itu semua, gimana dengan Dimas?"
"Gue juga gak tau, Bar. Gue memang jahat banget sama Dimas. Tapi saat ini, keputusan gue adalah yang terbaik. Dimas pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari gue. Dia bisa memulai kehidupannya lagi nanti."
Tawa Bara mulai terdengar di ruangan ini. Ia sangat geli mendengar jawaban klise yang Alora berikan.
"Lo gak bisa bilang semua ini dari perspektif Lo aja, Alora. Apa Lo pernah nanya sama Dimas mengenai semua ini? Dia mungkin masih nungguin keputusan lo, dia mungkin masih nunggu lo balik sama dia. Bahkan yang lebih parahnya lagi, mungkin Dimas enggak akan pernah memulai kehidupannya lagi. Dia akan tetap stuck mikirin lo."
Helaan napas berat Alora mulai terdengar. Ia juga sempat berpikir demikian. Dimas selalu bilang kalau hanya Alora yang ia punya.
"Gue akan semakin jahat kalau gue masih terus berhubungan dengan dia. Apalagi sekarang gue hamil. Gue gak bisa bayangin betapa kecewanya dia sama gue," tutur Alora lirih.
Mereka berdua hanya diam dan berkelit dengan pemikiran masing-masing. Hingga suara langkah kaki mendengat ke arah mereka.
Pemilik langkah kaki tersebut duduk di sofa tepat di sebelah Alora. Saat ini Alora berada diantara Bara dan juga Reinal.
"Hai sayang.."
Reinal memberikan kecupan singkat di bibir Alora. Bara yang mendengar suara Reinal ingin sekali tetap berada di posisinya ini. Ia sedang tidak ingin berbincang dengan Reinal. Mengingat pertemuan terakhirnya dengan Reinal tidak berjalan dengan baik.
"Ngapain dia kesini?" tanya Reinal kepada Alora dengan berbisik. Tetapi bisikan Reinal masih terdengar oleh Bara.
"Bara cuman berkunjung saja."
"Dia enggak menghasut kamu lagi kan?" tanya Reinal lagi.
Bara yang mendengar itu akhirnya memutuskan untuk membuka matanya dan menegakkan badannya. Ia menatap Reinal dengan tatapan tajamnya. Reinal yang mendapatkan tatapan itu sama sekali tidak perduli. Ia bersikap seolah-olah Bara tidak menatap dirinya.
"Kalau ngomong tuh dijaga! Sejak kapan gue menghasut Alora?!"
"Melihat tampang lo seperti ini, semua orang langsung tau kalau lo itu laki-laki yang suka memprovokasi orang. Alora minta cerai gara-gara lo kan? Lo juga yang udah menyiapkan surat cerai itu. Apa namanya itu kalau bukan menghasut?"
Alora yang mendengar perdebatan kedua orang ini hanya bisa menghela napas. Dia sudah sangat pusing dengan keadaanya ditambah lagi dengan pertengkaran kedua orang ini.
"Gue sebagai seorang Abang hanya menyarankan. Gue sama sekali enggak menghasut!" sahut Bara dengan sewot. Dia masih belum terima dikatakan sebagai penghasut.
"Menyarankan? lo menyarankan sampai nyewa pengacara dan buat surat cerai? itu namanya bukan menyarankan!"
"Ya.. cara gue menyarankan memang seperti itu."
"Reinal.. gak usah dibahas lagi ya." Alora akhirnya mengeluarkan suaranya. Ia sudah tidak tahan dengan kedua orang yang ada di sampingnya.
"Abang kamu ini membuat darah saya mendidih, Alora."
Bara memutar kedua bola matanya mendengar perkataan Reinal. "Ck..ck.. Suami Lo ini buat gue kesal, Alora." Bara sama sekali tidak mau kalah dengan Reinal.
"Oh.. Lo kesal? kesal karena Alora hamil sehingga niat busuk Lo itu gak berhasil kan? Lihat Alora.. Abang kamu ini sama sekali tidak gembira dengan kehamilan kamu. Dia mungkin tidak akan menyayangi calon keponakannya nanti," ucap Reinal.
"Heh dengar ya.. biarpun gue benci, muak, jijik dan kesal sama lo, tapi gue akan tetap sayang sama keponakan gue. Gue berharap keponakan gue gak akan kayak bapaknya!"
Alora sudah tidak sanggup lagi. Dia pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa yang berada di sebelahnya. Alora duduk dan menyilangkan kakinya serta tangannya dan meletakkannya di dadanya. Melihat kegaduhan yang masih terjadi di depannya dengan santai.
***