Tears in Marriage

Tears in Marriage
Dengan Bara



Alora menatap dirinya di depan cermin kamar mandi. Seluruh badannya terasa sangat sakit. Beberapa tanda merah terdapat di leher Alora. Untuk yang sekian kalinya, Alora kembali meneteskan air matanya. Alora sama sekali tidak menyalahkan Reinal yang meminta haknya sebagai suami. Hanya saja, Reinal memintanya dengan cara paksa.


Bukan hanya sekali, Reinal melakukannya beberapa kali. Karena itu, tubuh Alora terasa sangat lemah.


Dering handphone Alora membuatnya kembali ke dunia nyata. Alora menghela napas panjang dan menghapus air matanya. setelahnya, ia berjalan keluar dari kamar mandi untuk melihat siapa yang menelepon dirinya.


Nama Bara tertera di layar handphone Alora. Dengan segera, Alora mengangkat panggilan tersebut.


"Keadaan Dimas gimana?" tanya Alora langsung. Sedari tadi Alora selalu terpikir mengenai keadaan Dimas.


"Udah sadar dia. Tapi harus opname. Ini gue masih disini dari semalam. Lo gak ada niat mau jenguk Dimas? Oh iya gue lupa. Gak diizinin Reinal ya?"


"Syukurlah kalau Dimas baik-baik aja. Makasih udah bawa dia ke rumah sakit."


Alora tidak menjawab pertanyaan Bara. Saat ini ia tidak mau membahas mengenai Reinal.


"Gue mau singgah ke rumah Lo sebelum gue ke kantor."


"Kita ketemu di luar aja," sahut Alora langsung. Melihat kondisinya seperti ini, Alora tidak mau Bara juga melihatnya. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Bara.


"Bentar lagi gue on the way ke rumah lo. Gue tutup telponnya, kita jumpa di sana."


Tanpa menunggu jawaban Alora, Bara langsung menutup panggilan mereka. Alora tidak bisa mengatakan apapun.


Setelah panggilan tersebut selesai, pintu kamar diketuk dari luar. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar Alora dengan membawa nampan yang berisi gelas.


Pelayan tersebut berjalan mendekati Alora yang sedang duduk di kasur. Ia meletakkan gelas tersebut di atas nakas yang ada di sebelah Alora.


"Pak Reinal tadi berpesan agar ibu meminum ini," ucap pelayan tersebut sembari menunjuk gelas yang ia letak tadi.


"Apa ini?"


"Obat herbal yang diberikan oleh mertua ibu."


Alora memejamkan matanya mendengar itu. Reinal benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan kemarin. Alora akan terus meminum obat ini sampai ia mengandung anaknya. Tetapi niat dan perkataan Reinal tidak akan pernah terjadi. Alora sama sekali tidak berniat untuk mengandung anak Reinal. Ia sangat ingin menjadi seorang ibu, tetapi tidak jika yang ia kandung adalah benih Reinal. Kekesalannya kepada Reinal selama ini membuat Alora memilih keputusan demikian.


"Baik.. nanti akan saya minum. Kamu bisa keluar," ucap Alora. Alora berniat untuk tidak meminum obat itu. Ia akan membuangnya setelah pelayan tersebut pergi dari kamarnya. Tetapi niat Alora tidak akan terjadi. Pelayan itu malah tetap berdiri di samping Alora. Menunggu Alora meminum obat tersebut.


"Maaf Bu.. Bapak bilang saya harus melihat sendiri ibu meminum obat ini."


Reinal sangat diluar dugaannya. Alora tidak habis pikir kenapa Reinal selalu bisa menebak niatnya.


Dengan sedikit kesal, Alora mengambil gelas tersebut dan meminumnya dengan sekali teguk kan. Setelah obat tersebut habis ia memberikan gelas itu ke pelayan yang ada di sampingnya.


"Iya Bu.. kalau gitu saya permisi keluar."


Pelayan tersebut pun berjalan keluar dari kamar.


Sebenarnya Alora tidak terlalu mempercayai khasiat dari obat itu. Alora lebih percaya dengan hal-hal modern dan ilmiah ketimbang tradisional seperti itu. Jadi menurutnya, ia tidak akan hamil hanya karena meminum obat herbal tersebut.


***


Tatapan mata Bara tidak lepas dari tubuh Alora. Ia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari tubuh mungil adiknya ini.


"Lo diapain aja sama Reinal?" tanya Bara langsung.


"Harus gue ceritain sama Lo semuanya?"


Helaan napas Bara membuat Alora tersenyum tipis. Ia sangat tau jika Bara sedang sangat khawatir kepada dirinya. Alora sangat menyadari hal itu.


"Gue udah bilang kan sama lo, pisah lebih baik Alora. Gue gak tahan lihat lo begini."


"Gue masih tahan kok. Kalau nanti gue udah gak tahan sama semuanya, gue pasti pergi. Dan lo.. orang pertama yang akan gue jumpai ketika gue pergi nanti."


Alora meraih tangan Bara dan menggenggam erat tangan Bara. Ia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak menetes. "Gue tau lo sayang sama gue dan begitu juga sebaliknya. Gue masih belum bisa memutuskan mau pisah atau tidak, karena gue belum yakin. Gue takut, perusahaan lo, keluarga kita.. gue takut kita hancur. Kalau hanya gue yang hancur, gue gak masalah. Asalkan bukan kalian."


"Lo gak seharunya mengorbankan diri lo seperti ini, Alora. Gue udah bilang kalau semuanya akan baik-baik aja sekarang. Kita akan baik-baik aja kalau Lo pisah sama Reinal."


Alora menundukkan kepalanya. Ia percaya dengan apa yang Bara katakan. "Kita memang akan baik-baik saja. Tapi sekarang, Reinal selalu membawa Dimas dalam permasalahan kami. Gue tau lo akan menyelamatkan keluarga kita dari Reinal, tepi Dimas? gue gak mau dia ikut terluka hanya karena masalah pribadi gue. Dia udah banyak menderita karena gue, Bar."


Tidak bisa.. Alora tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar. Semua usahanya untuk terlihat tegar di mata Bara akhirnya gagal.


Bara yang melihat itu menarik dagu Alora dan menghapus air matanya. "Malahan sebaliknya. Dimas akan terluka lihat Lo begini. Lo tau, apa yang di tanyakan ketika baru membuka matanya tadi? Elo. Dia nanya keadaan lo, Alora. Dia yang meminta gue untuk cek keadaan lo. Dia takut lo kenapa-napa. Lo enggak pernah buat dia merasa menderita."


Air mata Alora semakin menetes mendengar itu. Ia sangat beruntung memiliki orang-orang yang menyayanginya. Bara yang melihat Alora menangis, berinisiatif untuk membawa Alora kedalam dekapannya. Elusan lembut di punggung Alora yang Bara berikan membuat Alora semakin mengeluarkan kesedihannya.


"Jangan pernah mengorbankan diri lo demi orang lain, termasuk keluarga Lo sendiri.. jangan pernah, Alora."


"Makasih, Bar. Gue beruntung punya Abang kayak lo."


"Gue yang beruntung bisa punya adik kaya lo. Maaf karena gue pernah egois. Gue maksa Lo untuk menyelamatkan perusahaan gue dan membuat Lo menikah dengan Reinal. Gue nyesal pernah melakukan itu, Alora. Kalau waktu bisa diputar, gue akan lebih memilih perusahaan gue hancur ketimbang adik gue yang hancur." Air mata Bara ikut keluar ketika menyatakan penyesalannya.


Mendengar semua perkataan Bara membuat Alora semakin kuat untuk membuat keputusan. Alora tidak pernah seyakin ini untuk membuat keputusan. Berpisah dengan Reinal mungkin akan lebih baik daripada terus berada di dalam pernikahan yang tidak membuatnya bahagia.


***