
"Dia gak mirip sama kamu."
Senyum Alora merekah mendengar perkataan Dimas. Alora sangat bahagia bisa melihat Dimas seperti sekarang. Dimas yang datang dengan niat baik untuk bertemu dengan dirinya dan anaknya.
"Kalau kamu besar nanti.. Jangan seperti papa mu. Merebut kepunyaan orang lain," sambung Dimas lagi.
"Aku tidak akan mendidiknya seperti itu, Dimas. Kamu tenang saja," Sahut Alora.
Dimas menganggukkan kepalanya. Dia sangat yakin Alora tidak akan mendidik anaknya seperti itu. Langkah Dimas mendekat ke arah Alora. Dia pun memberikan Radeva kepada Alora dan kembali duduk sofa yang ada di depan Alora.
Dimas tersenyum tipis melihat bagaimana Alora menimang Radeva dengan hangat. Dia sangat bahagia melihat Alora bisa menjadi ibu seperti sekarang. Dimas sangat ingat bahwa Alora ingin mendidik anaknya dengan baik, dia tidak ingin mendidik anaknya seperti orang tuanya mendidiknya dulu. Mengingat keinginan-keinginan kecil Alora yang mulai terwujud membuat Dimas merasa bahagia. Walaupun bukan dia yang mewujudkan keinginan itu.
"Aku senang akhirnya kamu bisa menimang anak kamu sendiri, Lora. Impian kecil kamu itu akhirnya terwujud juga."
Tatapan Alora tertuju kepada wajah Dimas yang terlihat sangat sedih. Dia sangat tau Dimas tidak sebahagianya apa yang ia katakan. Dimas hanya menutup kesedihannya dengan mengatakan demikian.
"Maaf Dimas.. Aku sudah melanggar janji aku. Seharusnya aku tidak tidak berjanji pada kamu saat itu."
Flashback
"Kamu ngapain gendong boneka kayak gendong bayi. Aneh banget!"
Dimas menatap Alora yang sedang menimbang boneka Beruang seperti menimang seorang bayi. Alora bahkan menantikan sebuah lagi tidur untuk boneka itu.
"Aku lagi belajar tau! Nanti kalau kita punya anak, aku jadi enggak kaku gendongnya."
Dimas tertawa mendengar alasan Alora. Ia berjalan mendekati Alora dan mengambil boneka dari tangan Alora. Mengembalikkan boneka tersebut kembali ke rak yang ada di depan mereka.
"Boneka sama bayi itu beda, Alora. Lagian kamu cepat banget kepikiran punya anak. Bapaknya siapa emangnya?"
"Ya kamu lah! Siapa lagi kalau bukan kamu, Dimas? Pertanyaan kamu aneh."
Langkah Dimas menjauh dari Alora. Ia meninggalkan Alora yang masih diam di tempat. Melihat Dimas yang meninggalkannya, Alora mulai sedikit berlari untuk meraih Dimas. Setelah berada di samping Dimas, Alora segera menggenggam tangan Dimas erat.
"Nanti kalau kita punya anak, aku kepengen dia manggil kamu Ayah dan manggil aku Ibu. Aku gak mau punya anak banya, Dim. Dua aja... Satu cewek dan satu cowok. Cewek mirip kamu dan yang cowok mirip aku. Pasti anak kita nanti imut-imut deh."
Langkah Dimas berhenti. Mendengar perkataan Alora membuatnya semakin berharap dengan perkataan Alora itu.
"Kalau bukan aku ayah dari anak kamu gimana?"
"Gak mungkin lah.. Dengar ya, Alora Dwana berjanji akan menikah dengan Dimas Saputra dan mereka akan hidup bahagia bersama dengan putra putri mereka nantinya," ucap Alora dengan suara lantangnya.
Senyum tipis tercipta di wajah Dimas. Entah mengapa dia merasa perkataan Alora sangat menjanjikan untuk dirinya.
"Bisa aku pegang gak janjinya?" tanya Dimas dengan ragu.
Alora mengambil tangan Dimas dan menggenggam tangan besar Dimas. "Bisa," ucapnya dengan yakin. Senyum di wajah Dimas seketika tercipta. Hatinya merasa tenang mendapatkan janji yang Alora berikan.
"Janji itu hanya sebuah ucapan. Kamu bisa melupakan ucapan kamu kapanpun Alora. Aku akan sangat bahagia kalau kamu dapat melupakan janji itu. Melihat kamu bahagia sekarang, membuat aku lega dan bersyukur. Aku tidak tau apakah aku bisa membuat kamu sebahagia ini kalau kita bersama. Terimakasih sudah bahagia dengan keluarga kecil mu ini. Jangan pikirkan tentang diriku, aku juga akan mendapatkan kebahagiaanku nantinya."
Air mata Alora kembali lolos keluar dari kelopak matanya itu. Ucapan tulus yang Dimas katakan membuatnya semakin merasa bersalah sekaligus lega. Dia lega Dimas tidak menyalahkan dirinya.
"Terimakasih sudah mengalah, Dimas. Terimakasih sudah melepaskan ku. Aku janji.. Aku akan bahagia bersama dengan keluarga kecilku ini," balas Alora sembari menghapus air matanya.
"Kali ini... Kamu harus memegang janji mu itu. Aku tidak ingin memiliki penyesalan karena telah melepaskan mu," sahut Dimas.
Alora menganggukkan kepalanya. Dia dan Dimas saling melemparkan senyum bahagia. Dimas mengalihkan tatapannya kearah Radeva. Dia sangat berharap Radeva akan menjaga wanita yang ia cintai ini. Karena setelah Reinal, kewajiban melindungi Alora adalah tugas Radeva.
***
Kali ini berbeda dari sebelumnya. Dimas berjalan dengan tegak keluar dari rumah Reinal. Tidak ada kesedihan maupun penyesalan dari diri Reinal karena telah melepaskan dan merelakan Alora.
Langkah Dimas berhenti ketika melihat Reinal yang sudah berdiri tepat di depannya. Melihat Dimas berhenti, Reinal berjalan menghampiri Dimas.
"Saya tidak akan mengambil Alora dari anda. Mulai sekarang, Alora sepenuhnya milik anda. Saya tidak ada hubungan apapun lagi dengan Alora."
Dimas menatap wajah tegas Reinal dengan mantap. Tidak ada rasa takut ataupun kebencian dalam diri Dimas kepada Reinal lagi. Semuanya sudah selesai sampai disini.
Reinal mulai tersenyum tipis dan menepuk pundak Dimas dua kali. "Terimakasih sudah mengikhlaskan Alora untuk saya. Mulai saat ini dan seterusnya Alora akan aman bersama saya. Anda tidak perlu mengawatirkan apapun mengenai Alora. Wanita yang kita cintai itu, akan selalu saya buat bahagia."
Dimas menganggukkan kepalanya. Sekarang dia mengerti mengapa orang tua Alora memilih Reinal sebagai suami Alora ketimbang dirinya. Dimas masih belum pantas untuk menjadi suami Alora. bermodalkan cinta, Alora tidak akan pernah bahagia.
"Saya percaya anda mampu melakukan itu. Saya juga akan selalu memantau anda, tuan Reinal. Jika Alora Adan buat terluka ataupun sedih sekali saja, saya akan kembali mengambil Alora dari Anda!" Ancam Dimas kepada Reinal.
"Saya pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena sekarang, kebahagiaan Alora adalah prioritas utama saya," balas Reinal.
Dari kejauhan Alora menatap Reinal dan Dimas dengan penuh selidik. Dia merasa cemas Reinal akan melakukan sesuatu diluar kendalinya. Kali terkahir Dimas dan Reinal bertemu, Dimas berakhir di rumah sakit dengan penuh luka.
Tetapi sepertinya kali ini berbeda. Reinal malah tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan Dimas. Alora merasa sedikit lega karena hal itu.
Senyuman di wajah Alora merekah ketika melihat Reinal mendekat ke arahnya. Reinal memeluk tubuh Alora ketika sudah berada di depan Alora. Tak lupa kecupan singkat di dahi Alora diberikan oleh Reinal.
"Sepertinya kali ini saya harus mengenal Dimas lebih dekat lagi. Dia terlihat seperti pria baik-baik," tutur Reinal sembari melepaskan pelukannya dari Alora.
"Kalau Dimas gak baik, aku gak mungkin bisa dekat sama dia. Dimas adalah salah satu pria terbaik yang pernah aku kenal."
Reinal menganggukkan kepalanya, setuju dengan perkataan Alora. "Sekarang.. Saya mau bertemu dan bermain sama Radeva serta mamanya ini," ucap Reinal mengalihkan pembicaraan. Alora terkekeh dan mereka pun berjalan menuju kamar Radeva untuk bermain bersama buah hati mereka itu.
Pandangan Alora menoleh ke arah Dimas yang mulai menjauh dari halaman rumahnya. Melihat punggung Dimas saat ini membuat Alora merasa beruntung bertemu dengan Dimas.
Tetapi Alora selalu berdoa dan berharap, jika ada kehidupan selanjutnya, dia tidak ingin bertemu dengan Dimas lagi. Dia tidak ingin mengenal Dimas lagi. Karena jika mereka kembali bertemu di kehidupan selanjutnya, Alora takut ia akan lebih menyakiti Dimas. Pria baik yang akan selalu ia ingat seumur hidupnya dan mungkin Radeva serta adik-adiknya nanti akan mengenal Dimas dengan sebutan om baik yang mencintai ibu mereka.
...END...