
Alora menyantap makanan yang ada di depannya. Beberapa Pelayannya menatapnya dengan raut wajah kasihan. Bekas tamparan yang Reinal berikan masih membuat pipi Alora memerah.
"Bu.. setelah ini mau saya ambilkan es batu untuk mengkomres pipi ibu?" tanya seorang pelayan kepada Alora dengan sedikit takut.
Jika pipi Alora sudah tidak memarah lagi, mungkin pelayan tersebut tidak akan menawarkan kompresan untuk Alora. Mereka merasa kasihan kepada Alora yang mendapatkan perlakukan kasar dari Reinal.
"Boleh bi.. Terimasih sudah menawarkan dan maaf kalau saya merepotkan," tutur Alora.
"Enggak Bu.. Sama sekali tidak merepotkan, lagian kan sudah tugas saya untuk direpotkan sama ibu." Pelayan tersebut tersenyum dengan tulus kepada Alora. Alora ikut membalas senyuman tersebut dan kembali melanjutkan makanannya.
Setelah selesai dengan makannya, Alora segera kembali ke kamar untuk merebahkan dirinya. Tak lama kemudian seorang pelayan yang tadi menawarkan kompresan masuk ke kamar dan memberikannya kepada Alora.
Wanita paruh baya itu menatap Alora dengan penuh iba. Alora yang menyadari tatapan itu segera menatap wanita itu. "Kenapa bi?" tanya Alora.
"Selama saya bekerja dengan Pak Reinal, saya belum pernah melihat pak Reinal kasar seperti ini. Saya juga tidak mau menyalahkan ibu. Hanya saja, saya pikir mungkin ibu harus lebih sabar menghadapi pak Reinal. Ibu juga harus lebih banyak mengalahnya Bu.."
Alora diam mendengar saran yang diberikan oleh wanita yang ada di depannya. Berarti selama ini sikap Reinal sangat baik dan hanya kepada dirinya saja Reinal bersikap kasar.
Mungkin apa yang Reinal katakan benar adanya. Alora hanya sebuah boneka untuk Reinal uang harus diam menurut kepada Reinal. Tetapi hal itu akan sangat sulit Alora lakukan, bahkan kepada kedua orangtuanya saja Alora sangat jarang untuk menurut. Apalagi dengan Reinal.
"Maaf bi.. kalau saya boleh tau, bibi sudah bekerja sama Reinal berapa lama?"
"Saya sudah bekerja di sini hampir enam tahun, Bu."
Alora mengangguk kepalanya mendengar jawaban tersebut. Ia ingin mencari tau sedikit mengenai Reinal. Mencari tau mengenai apapun yang bisa membuat Alora sedikit mengel Reinal.
"Kalau bibi enggak keberatan, boleh gak ceritain sedikit saja apapun mengenai Reinal? bibi tau sendiri kan, saya dan Reinal menikah karena perjodohan. Saya rasa, pengetahuan saya tentang Reinal sangat minim."
Pelayan tersebut tersenyum tipis mendengar permintaan Alora. Tanpa berpikir panjang, pelayan tersebut menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia sama sekali tidak keberatan untuk menceritakan apapun mengenai Reinal.
"Pak Reinal itu sangat tertutup. Jarang banget ngomong sama pelayan di sini kalau enggak penting. Waktunya ia habiskan untuk pekerjaannya. Bahkan pak Reinal pernah tidak pulang ke rumah selama 3 hari karena masa krisis di perusahaannya. Tapi setelah kami mendengar pak Reinal akan menikah, kami sangat senang Bu. Akhirnya pak Reinal memiliki teman untuk ia bercerita dan tidak hanya tentang pekerjaan," jelas pelayan tersebut kepada Alora.
Alora hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Ia pun kembali mengompres pipinya.
***
Langkah kaki yang mendekati kamar membuat Alora memejamkan kedua matanya. Ia berniat untuk berpura-pura tidur agar ia tidak melihat wajah Reinal. Alora masih tidak ingin bertatapan dengan Reinal untuk saat ini.
Alora mulai merasakan elusan di pipinya. Pipi yang tadi Reinal tampar. Perlahan jantung Alora mulai berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak tau kenapa hal itu bisa terjadi.
"Maaf sudah menampar kamu," tutur Reinal dengan suara lembutnya. Untuk sesaat kekesalan Alora kepada Reinal sedikit berkurang ketika mendengar permintaan maaf yang Reinal ucapkan.
Reinal melepaskan tangannya dari pipi Alora. Ia pun berjalan menjauh dari Alora untuk berganti pakaian dan juga membersihkan dirinya. Sepeninggalan Reinal, Alora mulai membuka matanya perlahan. Ia seketika langsung memegang dadanya dan Alora dapat merasakan detakkan jantungnya yang sedikit cepat dari biasanya.
Alora menggelengkan kepalnya, ia tidak boleh merasakan hal ini. Jantung yang biasanya berdetak ketika ia bersama dengan Dimas, sekarang berdetak ketika Reinal memegang pipinya. Alora tidak mungkin secepat ini melupakan Dimas.
Pandangan Alora teralihkan ke arah kiri. Ia dapat melihat sebuket bunga tulip bewarna putih. Alora tidak menyadari jika Reinal meletakkan bunga itu di sebelahnya. Senyum tipis mulai tercipta di wajah Alora. Kadang ia sangat membenci Reinal, tetapi melihat perlakukan manis yang Reinal berikan kepadanya perlahan mulai meluluhkan hati Alora.
Alora perlahan bangkit dari tidurnya. Ia membawa buket bunga yang Reinal berikan untuknya keluar kamar. Alora berniat meletakkan bunga itu kedalam vas bunga dan meletakkanya di kamar.
Beberapa pelayan yang melihat Alora membawa bunga itu tersenyum. Mereka ikut bahagia melihat kedua majikannya itu sudah berbaikkan.
"Bi.. bisa tolong ambilkan vas bunga untuk saya?" Pinta Alora kepada seorang pelayan yang dekat dengannya. Pelayan tersebut dengan cepat menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi untuk mengambil vas bunga yang Alora minta.
Menunggu vas bunga tersebut, Alora mulai mengeluarkan bunga dari buketnya. Ia mengeluarkan bunga tersebut dengan sangat hati-hati. Alora tidak ingin merusak bunga Tulip pertamanya yang ia dapat dari Reinal.
Tak beberapa lama kemudian, pelayan tadi datang dengan vas bunga ditangannya. Alora dengan segera mengambil vas tersebut dan mengisinya dengan air. Setelahnya, Alora memasukkan bunga tulip putih itu kedalam Vas.
Setelah selesai dengan bunga tersebut, Alora kembali berjalan menuju kamar dengan membawa vas bunga yang berisikan bunga tuli pemberian Reinal.
Baru saja Aloa masuk ke dalam kamar, Ia dapat melihat Reinal yang sedang duduk di kasur. Suasana canggung seketika kembali terasa diantara mereka berdua.
"Kamu suka sama bunganya?" Tanya Reinal sedikit kaku. Alora menganggukkan kepalnya ketika mendengar pertanyaan dari Reinal. Ia kembai berjalan menuju meja riasnya. Alora meletakkan vas bunga tersebut disana.
Setelah meletakkan vas bunga tersebut, Alora kembali berjalan menuju kearah Reinal. Alora baru menyadarinya, jika tamparan yang Reinal berikan tidak sepenuhnya salah Reinal. Jika Alora tidak memancing amarah pria itu, mungkin tamparan tesebut tidak akan pernah ia dapatkan.
Alora berhenti tepat di depan Reinal, menatap mata Reinal dengan lembut dan memberikan senyuman tipinya. "Maaf udah buat kamu emosi."
Reinal terdiam mendengar permintaan maaf Alora. Ia mengulum bibirnya ketika meihat tatapan yang Alora berikan kepda dirinya. Perlahan Reinal bangkit darinya. Reinal membuat jarak antara dirinya dan Alora semakin dekat dan tanpa berpikir panjang, Reinal seketika mencium bibir merah Alora. Alora yang awalnya terkejut dengan tindakan Reinal perlahan mulai membalas ciuman tersebut.
Alora sama sekali tidak berpikir hal ini akan terjadi. Ciuman lembut dari Reinal benar-benar membuatnya terlena. Reinal sudah membuat Alora membuka hatinya untuk Reinal.