Tears in Marriage

Tears in Marriage
Tamparan



Tatapan tajam Reinal membuat nyali Alora seketika menciut. "Emangnya kenapa kalau aku belanja sama Dimas? Kamu aja mabuk-mabukan sama wanita lain aku gak masalah," jawab Alora dengan santai. Ia berusaha untuk tidak memperlihatkan ketakutan kepada Reinal.


Alora bahkan menatap Reinal dengan tak kalah tajamnya. Ia tidak mau Reinal terus-terusan membuatnya seperti boneka di rumah ini. Ia juga akan memulai menunjukkan sifat aslinya kepada Reinal agar Reinal tidak selalu merendahkan dirinya.


Tetapi sepertinya, keputusan Alora yang mencoba untuk menantang Reinal salah besar.


"Bukan berarti kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau diluar sana, Alora! Terlebih lagi bersama dengan Dimas. Saya paling gak suka kamu berhubungan dengan dia," Sahut Reinal.


Setiap perkataan yang Reinal katakan mampu membuat Alora tidak bisa berkata apapun untuk sesaat. Ia memang berkata dengan santai, tetapi ekspresi wajah Reinal sangat menakutkan.


"Dari mana uang kamu belanja semua barang-barang ini?"


"Bukan urusanmu."


Entah dari mana keberanian Alora mengatakan hal tersebut. Ia hanya mengatakan apapun tanpa berpikir terlebih dahulu.


Reinal menghela napas panjang mendengar jawaban yang Alora berikan. Ia mengambil dompet miliknya dari saku celananya. Reinal mengeluarkan sebuah kartu berwana hitam. Kartu yang bisa membeli apapun uang Alora inginkan.


Reinal mencampakkan kartu tersebut di atas kasur. "Mulai sekarang kamu gunakan kartu itu untuk membeli keperluanmu."


"Aku masih bisa kerja dan cari penghasilan sendiri untuk keperluanku. Lagian hubungan kita cuman di atas kertas kan? Gak ingat ucapakan kamu semalam? aku cuman boneka di rumah ini. Jadi aku harap, kedepannya kita gak usah terlalu ikut campur dalam masalah pribadi."


Emosi Reinal seketika meningkat mendengar apa yang Alora ucapkan. Ia sama sekali tidak tahan melihat Alora yang melawannya seperti sekarang.


"Saya tidak mau bertindak jauh seperti ini, Alora. Tetapi kamu yang telah memulai semuanya!"


Setelah mengatakan itu, Reinal berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil handphone miliknya. Alora sama sekali tidak tau apa yang akan Reinal lakukan. Gerak-gerik Reinal tetap Alora pantau.


Reinal menghubungi seseorang. Ia menatap Alora tajam sambil meletakkan handphonenya di telinganya.


"Frans? Iya gue mau minta tolong sama lo. Salah satu karyawan Lo ada yang bernama Dimas Saputra kan?"


Alora melebarkan matanya mendengar Reinal menyebut nama Dimas. Seketika terbesit kekhawatiran dari wajah Alora ketika Reinal menyebut nama Dimas.


"Iya Frans. Gue ada sedikit masalah sama nih orang. Kalau Lo berkenan gue mau lo segera mengeluarkan Dimas dari kantor lo," sambung Reinal sembari menatap Alora dengan raut wajah kemenangan.


Alora yang mendengar itu segera berjalan mendekati Reinal. "Jangan lakuin itu, please."


Reinal tersenyum melihat Alora yang memohon kepada dirinya. Ia mencoba untuk mengabaikan Alora.


"Reinal aku mohon.."


Kali ini Alora mengaku kalah. Ia tidak mau Dimas sampai kehilangan pekerjaan karena keegoisan dirinya. Karena ketidakpatuhan Alora kepada Reinal. Alora tidak mau Dimas terlibat dalam masalah ini.


"Nanti gue hubungi lagi ya, Frans."


Reinal menutup panggilannya. Ia menatap wajah Alora dan memberikan senyuman manisnya. Reinal mulai meraih pipi Alora dan mengelus pipi Alora dengan lembut, seolah ia mencintai Alora dengan tulus.


Alora menganggukkan kepalanya. Reinal tersenyum melihat Alora yang nurut kepadanya. Ia pun mengecup kening Alora lembut. Setelahnya, Reinal melepaskan tangannya dari pipi Alora.


Reinal berjalan menuju kearah pintu dan membuka pintu kamar. Kedua Bodyguard Reinal masuk ke dalam kamar dan menunduk kepada Alora. Alora yang melihat itu sedikit bingung, ia tidak tau alasan mengapa Reinal menyuruh kedua bodyguardnya masuk ke kamar.


"Mulai hari ini, mereka berdua akan terus menjaga kamu." Reinal kembali berjalan mendekati Alora.


"Menjaga? untuk apa?" tanya Alora.


"Menjaga kamu biar kamu gak dekat sama Dimas, sayang. Mereka berdua akan selalu ada di samping kamu ketika kamu keluar dari rumah ini. Jadi apapun yang kamu lakukan di luar sana, mereka akan segera melapor ke saya."


Alora terdiam mendengar pernyataan Reinal. Apa yang Reinal lakukan saat ini benar-benar sudah diluar nalar. Alora bahkan tidak pernah mendapatkan perlakukan seketat ini sebelumnya.


Kedua bodyguard Reinal keluar dari kamar ketika Reinal memberi isyarat dengan matanya. Sepeninggalan kedua bodyguard itu, Alora langsung menatap Reinal.


"Aku gak perlu kedua bodyguard kamu itu. Aku bisa jaga diri dan aku enggak akan bertemu dengan Dimas lagi," ucap Alora menolak ide dari Reinal.


"Sayang.. aku enggak akan pernah percaya sama ucapan kamu itu. Jadi kamu tetap harus dijaga oleh mereka berdua. Atau kamu di rumah ini aja selamanya, biar mereka gak ngikutin kamu terus."


Emosi Alora sudah tidak bisa ia tahan lagi. Reinal sangat semena-mena dengan dirinya.


"Gue bukan boneka lo, Reinal. Pernikahan ini enggak ada artinya sama gue. Jangan pernah ngatur gue dan mengekang gue seperti ini!" Teriak Alora di depan Reinal. Reinal yang mendengar itu juga ikut tersulut emosi.


Tangan Reinal perlahan melayang ke udara dan tanpa menunggu lama, satu tamparan mendarat di pipi kiri Alora.


Plak.


Suara nyaring itu terdengar di dalam kamar mereka. Alora terdiam sesaat dan seketika ia merasakan perih yang amat sangat di daerah pipinya. Pipi Alora mulai memerah menandakan jika Reinal baru saja menampar pipinya itu.


"Lo.. Lo nampar gue?"


Air mata Alora perlahan mulai keluar dan membuat Reinal seketika tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Gue benci sama lo, Reinal!" Teriak Alora tepat di depan wajah Reinal. Isakan tangis Alora mulai terdengar. Di dalam lubuk hati Reinal, ia ingin sekali memeluk tubuh Alora dan meminta maaf kepada Alora. Tetapi gengsinya lebih besar dari itu semua.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Reinal berjalan pergi meninggalkan Alora yang masih menangis karena tamparan yang ia berikan.


Reinal keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan kasar. Ia mencoba untuk mengatur napasnya yang mulai memburu karena emosinya yang menggebu-gebu. Ia kembali melihat tangannya yang tadi ia gunakan untuk menampar Alora. Terasa perih.


Bruk! Reinal memukul dinding yang ada di dekatnya untuk melampiaskan rasa bersalahnya. Darah segar mulai keluar karena ia memukul dinding dengan keras.


Beberapa asisten rumah tangga yang melihat Reinal melukai dirinya hanya bisa diam dan menjahui Reinal. Mereka takut akan menjadi sasaran selanjutnya dari emosi Reinal.


Di dalam kamar, Alora masih terus menangis. Hatinya terasa sangat sakit mendapatkan perlakukan kasar Reinal. Bahkan sekarang, sakit di pipinya tidak sebanding dengan sakit hati yang Alora rasakan.


***