
Alora tidak tau kenapa mama mertuanya ini kembali datang ke sini. Ia sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran mama mertuanya ini hanya saja kalo terakhir mamanya datang ke sini, ia mendapatkan sesuatu yang tidak terduga. Alora tidak mau ia akan kembali mendapatkan obat-obatan lainnya. Sudah cukup obat yang diberikan oleh mama mertuanya kemarin.
"Gimana keadaan kamu?" tanya mama kepada Alora.
"Baik ma.."
Wanita elegan itu menatap wajah Alora penuh selidik. Ia bukan hanya menatap wajah menantunya ini, tetapi ia juga mulai menatap seluruh tubuh Alora dari atas hingga bawah.
"Belum ada perkembangan?"
Alora mengernyitkan dahinya mendengar perkataan mama mertuanya itu. Ia tidak mengerti maksud dari 'perkembangan' yang beliau ucapkan.
"Kamu belum hamil?" tanyanya lagi. Kali ini ia langsung menanyakannya secara gamblang.
"Belum ma," jawab Alora langsung. Ia sangat bersyukur ia masih belum hamil sampai sekarang.
"Belum hamil atau belum kamu cek? Tidak mungkin hasilnya terlalu lama seperti ini. Kamu sudah cek ke Dokter?"
Alora diam sesaat. Ia memang belum memeriksakan kondisi tubuhnya ke Dokter. Tetapi Alora sangat yakin ia tidak hamil. Perlahan Alora pun menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia belum memeriksakan ke Dokter.
"Ya sudah. Kita ke Dokter sekarang. Saya ingin tau kamu sudah mengandung atau belum. Kalau kamu masih belum mengandung, obat yang saya kasih kemarin berarti harus diganti. Atau... kita langsung konsul ke Dokter saja."
Alora terdiam mendengar semua penuturan semangat mama mertuanya ini.
"Ayo.. kamu ganti baju, biar kita langsung berangkat," sambung mama mertua Alora lagi. Alora tersenyum tipis dan bangkit dari duduknya. Ia pun berjalan meninggalkan sang mertua untuk berganti pakaian.
***
Langkah kaki Alora terasa sangat berat saat ini. Ingin sekali ia berbalik arah dan berjalan pergi meninggalkan rumah sakit ibu dan Anak yang saat ini sedang ia kunjungi.
Alora saat ini sedang berpikir ide yang logis yang bisa ia berikan kepada mertuanya agar mereka tidak jadi mengecek kandungannya. Tetapi sampai saat ini Alora masih belum menemukan ide yang masuk akal untuk mengelabui mertuanya ini.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya seorang perawat kepada mereka.
"Saya sudah daftar atas nama Alora Abara," jawab mama mertua.
Alora menoleh ke arah sang mertua. Ia sedikit merasa aneh dengan nama belakangnya itu. Tetapi sekarang ia memang seharunya memakai nama belakang dari keluarga Reinal.
"Baik Bu.. mohon tunggu dulu ya.."
Mereka pun berjalan menuju ruang tunggu. Alora dan mama mertuanya duduk di sofa yang tersedia.
"Mama waktu hamil Reinal juga dulu kontrolnya di rumah sakit ini. Kalau kamu hamil, kamu juga akan kontrol di sini nanti. Kalau Reinal sibuk, biar mama yang temani kamu kontrol," tutur mama mertuanya dengan lembut.
Alora merasa tidak enak sekarang. Ia tidak tega membuat mertuanya merasa kecewa ketika mengetahui kalau ia tidak hamil. Alora sangat tau jika mertuanya ini sangat mengharapkan dirinya hamil.
"Ma.. sebenarnya Aku gak yakin kalau aku ini hamil. Aku takut kalau mama akan kecewa kalau tau aku belum hamil," ucap Alora.
Wanita paruh baya itu tersenyum lembut kepada Alora. Ia menggenggam tangan Alora lembut dan mengusapnya.
"Gak masalah, sayang. Mama enggak akan kecewa kalau hasilnya kamu tidak hamil. Kamu tenang aja. Mama akan tetap dampingi kamu sampai kamu hamil. Atau setelah ini kita bisa cari rekomendasi Dokter mana yang bisa nangani bayi tabung. Semuanya akan berjalan lancar, kamu tenang aja."
Alora merutuki dirinya. Ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Ia pikir mama mertuanya ini akan berhenti memaksakan keinginannya itu. Tetapi malah sebaliknya.
Ingin sekali Alora mengatakan kepada mama mertuanya ini kalau ia ingin bercerai dengan putranya. Alora tidak akan pernah mengandung cucunya. Tetapi tidak mungkin Alora mengatakan demikian.
"Ma.. ka--"
"Ibu Alora Abara?"
"Iya!"
"Silahkan masuk ya Bu.."
Alora dan mama mertuanya pun bangkit dari duduknya. Mereka berdua mulai berjalan menuju ruangan Dokter.
Jantung Alora perlahan mulai berdetak tak beraturan. Bahkan ujung jari-jarinya sudah terasa dingin sekarang.
"Ibu Risa silahkan duduk. Dulu saya periksa ibu, sekarang menantu ibu juga saya yang periksa."
Seorang Dokter pria yang sudah berumur menyambut ramah Alora dan mertuanya itu.
"Saya percaya sama Dokter, makannya saya rekomendasikan Dokter untuk menantu saya."
"Makin erat hubungan kita kalau begini.."
Candaan dari Dokter tersebut membuat mertuanya tertawa lepas. Tetapi tentu saja tidak dengan Alora. Ia masih belum bisa tertawa maupun tersenyum untuk saat ini.
"Yasudah.. langsung kita cek saja sekarang."
Mereka bertiga berdiri dari duduknya. Alora berjalan menuju kasur tempat pemeriksaan. Ia pun mulai naik ke atas dan membaringkan tubuhnya. Baju Alora dinaikkan oleh mertuanya dan menampakkan perutnya.
Dokter mulai mengoleskan jel keatas perut Alora. Sebuah alat mulai diletakkan ke atas perut Alora. Fokus mertua dan Dokter tersebut mengarah ke arah monitor.
"Gimana Dok?" tanya mertua Alora dengan nada serius.
Alora tidak berani untuk melihat ke arah monitor. Ia bahkan memejamkan matanya agar ia tidak melihat hasil yang tidak ingin ia dengar.
"Sebentar lagi ibu Risa gendong cucu nih. Itu kantung kandungannya udah ada isinya. Selamat ya.. kamu hamil."
"Tuh kan.. mama udah duga kamu Hamil!"
Semua perkataan itu membuat Alora diam membeku. Perlahan ia membuka mata dan menoleh ke arah monitor. Ia menatap ke arah gambar yang ditunjuk oleh Dokter.
Alora tidak tau harus bahagia atau tidak. Ia masih tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi sekarang. Teriakkan senang dari mama mertuanya tidak lagi Alora dengar. Semuanya terasa sangat tiba-tiba menurutnya.
***
"Kita ke kantor Reinal ya sekarang. Mama mau ngasih tau kabar gembira ini secara langsung sama Reinal. Kebetulan papa kamu juga ada di sana," tutur Risa dengan semangat.
Saat ini Alora masih banyak diam. Sesekali ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
Tangan Alora perlahan menyentuh perutnya yang masih rata tersebut. Bagaimana bisa ia tidak menyadari bahwa ia sedang mengandung. Dokter mengatakan kandungannya sudah berjalan tiga Minggu.
"Papa kamu pasti senang banget kalau dia tau sebentar lagi dia akan punya cucu. Setiap hari, dia selalu nanya sama mama kapan kamu hamil. Akhirnya.. doa dia dikabulkan juga." Alora tidak merespon perkataan mamanya ini. Pandangan Alora teralihkan ke arah handphone miliknya yang menandakan sebuah pesan masuk.
Pesan dari seseorang yang membuatnya seketika kembali dilema. Pesan yang mampu membuat Alora kembali merasa bersalah.
Lora.. kamu apa kabar? Aku kangen sama kamu, bisa kita ketemu?
Semakin sulit keadaan Alora saat ini. Dimas, dan kehamilannya saat ini membuatnya semakin stress. Dengan kehamilannya saat ini, Alora sangat yakin ia akan semakin sulit lepas dari genggaman Reinal.
***