Tears in Marriage

Tears in Marriage
Undangan



"Non... Ada kiriman."


Alora menatap seorang pelayan di rumahnya yang baru saja datang ke kamarnya. Tanpa menjawab perkataan pelayannya, Alora segera bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju ruang tamu.


Ia dapat melihat sebuah box cantik berwana silver sudah berada di atas meja ruang tamu. Alora pun berjalan medekat dan duduk di sofa. Perlahan ia mulai membuka box silver tersebut.


Kedua mata Alora seketika melebar ketika melihat isi dari box tersebut. Sejumlah undangan berada di dalam box tersebut.


Alora menatap undangan pernikahan yang ada di hadapannya. Cover depan undangan tersebut tertera dengan jelas nama lengkap Alora dan juga Reinal. Baru semalam ia menyetujui pernikahan dengan Reinal dan sekarang, Reinal mengirimkan undangan yang sudah ia buat ke rumah.


Beberapa undangan yang ada di depannya ini rencananya akan di bagikan untuk rekan-rekan keluarganya. Alora tidak pernah membayangkan hal ini akan seger terjadi. Bahkan tanggal pernikahan mereka yang akan dilaksanakan enam hari lagi.


Alora tersenyum tipis membaca undangan yang Reinal kirim. Bahkan ia sudah menyewa gedung untuk pernikahan mereka. Alora sama sekali tidak diberitahu oleh Reinal mengenai semua ini.


"Sayang... mama gak sabar lihat kamu nikah nanti."


Alora mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang sudah ada di sebelahnya ini. Ia memberikan senyuman tipisnya kepada mamanya.


"Mama akan undang semua teman-teman mama nanti. Biar mereka tau kalau kamu akan menikah dengan keluarga Abara," Sambung mama Alora dengan bangga.


Alora sangat ingin menghentikan kebahagiaan mamanya ini. Ia sangat ingin mengatakan kepada mamanya bahwa ia tidak ingin menikah. Ia tidak mau menikah dengan Reinal. Tetapi semua itu tidak akan bisa ia lakukan.


Satu undangan dari meja Alora ambil. Alora memegang undangan tersebut dan segera berdiri dari duduknya. Mamanya yang melihat itu seketika menghentikan senyumannya dan menatap bingung kepada Alora.


"Kamu mau kemana?" tanyanya dengan lembut.


"Mau ketemu Dimas. Mau ngasih tau kalau aku akan nikah sama pria lain," ucap Alora dengan ketus. Setelah mengatakan itu, Alora segera berjalan pergi meninggalkan mamanya yang masih diam melihat kepergian Alora.


Sebenarnya mamanya sangat ingin memeluk tubuh Alora. Ia sangat tau jika Alora sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini, tetapi jika Alora tidak melakukannya, nasib keluarga mereka akan terancam.


***


Senyuman di wajah Dimas membuat Alora tidak tega untuk memberitahukan niatnya kepada Dimas.


"Kamu mau ngomong apa sayang?" tanya Dimas dengan nada lembutnya. Dimas menggenggam tanggan Alora sembari menatap wajah Alora.


"Maaf karena udah minta ketemu di jam kerja kamu." Alora menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Dimas.


"Gak masalah. Aku tau kamu pasti mau ngomong hal yang penting, makannya kamu minta ketemu. Ada apa? cerita sama aku.."


Ia sangat ingin menceritakan semuanya, tetapi bibir Alora seolah kaku seketika. Ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun di depan Dimas.


Dimas yang menyadari itu mulai merasa ada yang aneh. Karena tidak biasanya Alora ingin bertemu di jam kerja dan sekarang Alora terlihat takut untuk mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.


Perlahan Dimas mengangkat dagu Alora agar Alora dapat melihat wajahnya. Dimas juga mengelus lembut pipi Alora agar Alora bisa sedikit tenang dan nyaman.


"Aku mau kita putus, Dim."


Aliran darah Dimas seperti berhenti ketika mendengar perkataan Alora. Ekspresi wajah serius Alora membuat Dimas yakin jika Alora tidak main-main dengan perkataannya. Dimas menjauhkan tangannya dari wajah Alora.


"Kamu kenapa, Alora? Aku salah apa sampai kamu bilang begitu? Hubungan kita enggak main-main kan selama ini? Aku sayang sama kamu, Alora."


Alora kembali menundukkan kepalanya. Ia tidak tau harus mulai dari mana, ia tidak tau bagaimana menceritakan semuanya kepada Dimas.


"Kita gak mungkin bisa sama, Dim. Kita... kita beda," Ucap Alora.


Dimas tertawa mendengar ucapan Alora. Ia sangat tau maksud beda yang Alora ucapkan. Mereka berdua memang sangat berbeda, tetapi semua itu yang membuat mereka sampai sekarang. Bahkan Alora lah yang meyakinkan dirinya untuk tidak memikirkan semua perbedaan itu. Tetapi sekarang, Alora sendiri yang memutuskan hubungan dengan alasan mereka berbeda. Menurut Dimas semua ini sangat tidak masuk akal.


"Beda karena aku lebih miskin dari kamu?" tanya Dimas dengan kasar. Ia sudah tidak bersikap lembut lagi kepada Alora.


"Itu salah satunya. Aku tau selama ini aku sangat menunda hubungan kita. Karena itu, Dim. Karena status sosial kita, keluarga aku gak akan mungkin mau menerima kamu. Aku udah berusaha untuk membawa kamu masuk ke dalam keluarga, tetapi kamu tetap tidak akan pernah bisa masuk lebih jauh lagi, Dim. Aku minta maaf.."


Dimas mengalihkan pandangannya dari Alora. Ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menetes di hadapan Alora. Apa yang Alora katakan sangat menusuk hatinya.


"Aku juga berusaha, Alora. Aku juga berusaha dengan keras agar aku bisa buktikan sama keluarga kamu kalau aku mampu. Karena itu aku butuh dukungan kamu, Alora. Sedikit lagi... aku mau kita nikah," pinta Dimas.


Alora menjawabnya dengan gelengan tipis. Melihat gelengan kepala Alora, Dimas semakin tersulut emosi.


"Segampang itu? segampang itu kamu memutuskan hubungan kita, Alora?!" Bentak Dimas.


Mata Alora terasa sangat panas mendengar bentakan dari Dimas. Perlahan air mata Alora mulai keluar membasahi kedua pipinya.


"Enggak, Dim. Gak segampang itu memang, tapi cepat atau lambat ini memang harus diakhiri. Aku juga udah memikirkan semua ini dari jauh hari, Kita memang enggak bisa bersama." Alora menghapus air matanya dengan kasar.


"Please Alora.. satu kali lagi. Kasih aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan semuanya. Aku memang gak akan pernah bisa menjadi kaya seperti keluarga kamu, tapi aku mohon kasih aku kesempatan sekali lagi."


Perasaan Alora semakin tak karuan setelah melihat Dimas telah meneteskan air matanya. Ia tidak bisa melihat Dimas seperti itu di hadapannya.


Alora pun segera membuka tasnya dan mengambil sebuah undangan yang memang ia bawa sedari tadi. Ia pun memberikan undangan tersebut kepada Dimas.


"Aku akan segera menikah dengan pilihan orang tua ku, Dim. Mungkin ini pilihan terbaik yang pernah aku buat. Memang tidak ada cinta di pernikahan kami ini, tapi aku yakin nanti aku akan bisa mencintai dia," tutur Alora. Dimas sudah tidak bisa berkata apapun. Ia hanya bisa meratapi undangan pernikahan yang ada di depan matanya ini. Undangan yang bertuliskan nama Alora dengan pria lain.


Keinginan Dimas selama ini untuk menikah dengan Alora sekarang tidak akan pernah bisa terjadi. Alora akan menikah dengan pria yang lebih dari dirinya dari segi manapun.


"Aku harap.. kamu bisa melupakan aku."


***