Tears in Marriage

Tears in Marriage
Obat Hamil



Alora sedikit merasa gusar ketika dihadapkan dengan wanita yang ada di depannya ini. Pasalnya ini kali pertama wanita ini mengunjungi rumahnya. Alora tidak tau harus memulai pembicaraan dari mana.


Sudah lima menit berlalu, Alora hanya diam mengamati wanita paruh baya yang ada di depannya ini. Wanita yang anggun dan sangat cantik di usianya yang sudah mulai menua.


Hari ini, tanpa sepengetahuan Alora mertuanya datang ke rumahnya dengan alasan untuk berkunjung. Tentu saja Alora kaget mendengar kedatangan mertuanya ini. Apalagi ini kali pertama mertuanya mengunjunginya. Serta kali pertama Alora bertatap muka secara intens seperti ini.


"Gimana keadaan kamu?" tanya mertua Alora dengan lembut. Tutur katanya yang lembut membuat Alora sedikit merasa ada yang ganjal. Tidak mungkin mertuanya ini hanya datang untuk menanyakan kondisinya saja. Ia sangat tau mertuanya ini salah satu wanita yang sangat sibuk.


"Baik ma.." jawab Alora singkat.


"Kamu belum ada tanda-tanda hamil?"


Alora melebarkan kedua matanya mendengar pertanyaan itu. Bagaimana ia bisa hamil jika ia dan Reinal saja belum melakukan apapun. Alora hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan mertuanya itu.


"Saya dan papa mertua mu itu sudah tua, Alora. Kami tidak mau menunggu lama untuk mendengar kabar kamu hamil."


"Ma.. Pernikahan kami masih baru. Kami masih ingin menghabiskan waktu berdua saja dulu." Alora tidak tau harus menjawab apa selain jawabannya itu. Tidak mungkin ia menceritakan yang sesungguhnya kepada mertuanya ini.


"Setelah kalian punya anak, kalian juga bisa menghabiskan waktu berdua kan? Sudahlah.. saya tidak mau berbasa-basi lagi."


Mama mertua Alora mengeluarkan sebuah kotak dari paper bag yang ia bawa. Ia memberikannya kepada Alora.


"Ini obat tradisional biar kamu cepat hamil. Saya juga dulu mengkonsumsi ini. Kamu harus meminumnya setiap hari, kalau habis kamu bisa memberitahu saya biar saya kirimkan lagi."


"Baik ma.. terimakasih," balas Alora. Ia tidak tau mau mengatakan apa lagi selain mengucapkan terimakasih. Alora mendekatkan kotak yang diberikan oleh mama mertuanya ke depannya.


"Atau kalian berdua butuh honeymoon? Kamu dan Reinal belum honeymoon setelah menikah kan? Saya rasa seharusnya kalian mencari waktu yang senggang untuk pergi honeymoon."


Alora benar-benar tidak tahan dengan kedatangan mertuanya ini. Pertama obat hamil dan kedua honeymoon. Memikirkannya saja Alora sudah pusing.


"Baik ma.. nanti aku dan Reinal akan mencari waktu untuk pergi honeymoon."


Mama mertua Alora menganggukkan kepalanya. "Nanti kamu bilang saja sama say mau pergi ke mana. Untuk urusan tiket dan semuanya biar saya yang tanggung. Asalkan setelah kalian kembali dari honeymoon nanti, saya sudah mendengar kabar baik dari kamu."


"Baik ma," jawab Alora lagi. Ia mencoba untuk tetap bersikap sebagai menantu yang menurut kepada mertuanya. Alora tidak ingin ia di cap sebagai menantu yang buruk. Semua perkataan mertuanya akan diiyakan oleh Alora. Walaupun tidak akan Alora turuti.


Setelah menyampaikan niatnya itu, mama mertua Alora bangkit dari duduknya. "Saya akan menunggu kabar baik ini secepatnya." Setelah mengatakan itu, ia berjalan meninggalkan Alora dengan sekotak obat tradisional itu.


Alora tidak mengantar mama mertuanya itu sampai ke depan. Ia terlalu malas untuk melakukan itu, lagian ia sangat yakin mama mertuanya tidak memerlukan itu.


Alora kembali diam sembari menatap sekotak obat yang ada di depannya. Ia tidak tau harus melakukan apa dengan obat itu.


Alora mengambil gunting yang tak jauh darinya dan mulai membuka sebungkus obat itu dengan gunting. Setelahnya, Alora membuang cairan berwarna kuning itu ke wastafel yang ada di depannya.


Beberapa pelayan yang melihat tindakan Alora hanya diam tanpa mengatakan apapun. Mereka sebenarnya terkejut dengan tindakan yang Alora lakukan, tetapi mereka tidak berani untuk menegur Alora.


Dipertengahan Alora membuang obat herbal itu, Reinal tiba-tiba datang dan sudah berdiri di sampingnya. Ia melihat tindakan yang Alora lakukan.


"Ngapain kamu?"


Alora tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia menoleh dan mendapati Reinal berdiri di sampingnya. Hanya sebentar, setelahnya Alora kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


"Mama kamu kasih obat herbal ini, katanya biar aku cepat hamil. Tapi kita gak perlu obat ini kan? gak guna juga. Jadi lebih baik di buang saja, setelah itu bilang ke mama kamu kalau obatnya udah habis. Beres," jelas Alora dengan santai.


Reinal yang mendengar itu seketika menghentikan kegiatan Alora dengan mengambil gunting yang sedang Alora pegang itu. Reinal mencampakkan gunting yang sudah ia rebut dari Alora ke sembarang arah.


"Itu artinya, kamu tidak menghargai pemberian dari mama saya, Alora."


"Aku menghargainya Reinal. Tapi untuk apa aku minum? aku juga tidak akan pernah hamil anak kamu. Tidak akan."


"Alora!" teriak Reinal tepat di depan Alora. Beberapa pelayan yang mendengar itu seketika menjauh. Mereka tidak ingin terlibat dalam pertengkaran kedua majikannya ini.


"Kenapa? Oh.. seharusnya aku kasih aja ke Sekretaris kamu ya? Biar dia yang minum dan hamil anak kamu. Kalian pasti sering kan berhubungan? Dengan obat ini pasti dia segera hamil. Untung obatnya masih sisa setengah lagi. Kamu bisa membawanya dan memberikannya kepada wanita itu besok," sindir Alora.


Ekspresi Reinal seketika berubah mendengar perkataan Alora itu. Reinal pun mengambil sebungkus obat herbal itu dan membukanya dengan giginya. Detik berikutnya Reinal memberikan obat yang sudah ia buka kepada Alora.


"Minum!"


Alora melirik obat itu sekilas. "Makasih tapi aku gak akan pernah minu--- mm.. Reinal.."


Reinal dengan paksa memberikan obat itu kepada Alora. ia menahan tengkuk Alora dengan tangan kanannya dan tangan kiri Reinal memaksa Alora untuk meminum obat itu.


Alora mencoba untuk menutup mulutnya dan keluar dari cengkraman Reinal, tetapi usahanya sia-sia. Reinal menahannya dengan sangat kuat.


setelah obat itu habis, Reinal baru melepaskan Alora. Reinal mencampakkan bungkus obat tersebut ke wastafel dengan kasar.


"Mulai sekarang, kamu akan terus mengkonsumsi obat ini. Sampai kamu hamil anak saya," ucap Reinal.


Reinal berjalan pergi meninggalkan Alora yang sedang membersihkan tumbuhan obat itu dari bajunya. Alora sama sekali tidak perduli dengan perkataan Reinal. Menurutnya Reinal hanya mengatakan itu untuk ancamannya semata.


Reinal tidak akan mungkin menyentuhnya, ia sangat yakin itu. Janji yang Reinal ucapkan di malam pertama mereka tidak mungkin ia ingkari. Lagian pernikahan ini tidak ada artinya untuk Reinal. Alora sangat yakin, Reinal tidak pernah berpikiran untuk memilik anak dengan dirinya.