
Memandang wajah Radeva merupakan kebiasaan baru yang sangat Alora sukai. Wajah terlalap Radeva membuat Alora tidak bisa menghentikan rasa kagumnya dan rasa bahagianya.
Kalau dipikir-pikir, jika ia dulu bersikeras untuk bercerai dengan Reinal, mungkin Radeva tidak akan pernah ada. Oleh karena itu, Alora tidak pernah menyesali keputusan yang sudah ia buat.
"Daripada kamu lihat wajah Radeva terus, mendingan kamu lihat wajah saya saja Alora," tutur Reinal sembari mengerjakan urusan pekerjaannya.
"Wajah kamu ngebosenin. Kalau wajah Radeva ngangenin," jawab Alora sembari mengelus pipi Radeva dengan pelan.
Senyum tipis terukir di wajah Reinal. Pasalnya wajah Radeva sangat mirip dengan dirinya. Tidak mungkin kalau wajah Reinal membosankan untuk Alora.
Alora menoleh ke arah Reinal dan mulai menatap Reinal dengan serius. Melihat Reinal yang fokus dengan pekerjaannya membuat Alora merasa ada sesuatu yang sedikit berbeda.
Alora tidak tau apakah ia akan bisa kembali bekerja atau tidak. Apalagi sekarang Radeva sudah lahir. Alora akan semakin memiliki kesibukan di rumah ini.
"Kamu mikirin apa sih? Wajahnya serius banget," tutur Reinal. Biarpun dia fokus dengan laptopnya, sesekali Reinal tetap memperhatikan gerak-gerik Alora.
"Lihat kamu seperti ini, aku jadi kepikiran untuk kerja deh. Pengen aja ngelakuin sesuatu di luar rumah ini."
Helaan napas Reinal mulai terdengar. Alora merasa sedikit cemas jika Reinal telah mengeluarkan napas beratnya itu. Reinal juga menutup laptopnya dan meletakkannya di meja kecil yang ada di sebelahnya.
"Aku cuman bilang kok, Rei. Gak maksud apa-apa. Lagian ini cuman ide-ide aneh aku aja. Jadi kamu enggak usah merasa te--" Reinal langsung menyela ucapan Alora yang masih belum selesai sembari menggenggam tangan Alora.
"Alora.. saya gak masalah kok kalau kamu kerja. Tapi tentu saja tidak sekarang. Tunggu sampai Radeva udah bisa kita tinggal bersama dengan pengasuh."
Senyuman tipis Alora terlihat jelas di wajahnya. Entah kenapa izin dari Reinal ini membuatnya merasa bahagia. Biarpun dia tidak tau kapan dia akan bekerja. Setidaknya, Reinal sudah memberikannya izin.
"Makasih udah kasih izin."
Kecupan singkat Alora berikan di pipi Reinal. Reinal ikut tersenyum melihat wajah sumringah Alora.
"Atau kamu jadi sekretaris saya saja? Kamu bisa kerja di perusahaan saya dan akan saya gaji dengan gaji yang besar."
Ekspresi wajah Alora seketika berubah mendengar ide Reinal. Jika ia bekerja dengan Reinal di kantor sama saja ia tidak akan mendapatkan pengalaman berbeda.
"Bosen lah! Di rumah aku lihat kamu, di kerjaan aku juga lihat kamu."
"Tapi saya enggak bosan lihat kamu terus," jawab Reinal dengan wajah polosnya. Alora tidak tau apakah ia harus senang mendengar jawaban polos Reinal atau malah sebaliknya.
"Saya malah bahagia kalau lihat kamu terus. Lihat kamu di rumah ngurus saya dan Radeva, setelah itu lihat kamu di perusahaan ngurus jadwal kerja saya. Pasti akan sangat menyenangkan bisa setiap hari sama kamu. Nanti kalau tidak ada pekerjaan, kita bisa menghabiskan waktu berdua di ruangan saya," ucap Reinal dengan wajah mesumnya.
Alora memukul pundak Reinal dengan sedikit keras. Pikiran kotor Reinal memang harus diperbaiki.
"Mesum!"
"Saya tidak mesum Alora. Saya mengatakannya kepada istri saya sendiri. Tidak ada salahnya kan?"
"Kamu ngelihat saya kok seperti itu? Ada apa lagi?" tanya Reinal.
"Kalau dipikir-pikir... kenapa kamu jadi lembut gini sih? ya.. sebelumnya kan kamu itu kasar, gak mau dibantah, semua hal harus sesuai sama keinginan kamu. Sekarang kamu beda."
Tawa Reinal pecah mendengar perkataan polos Alora. "Kamu lagi nanya atau lagi nyebutin semua sifat buruk saya?" tanya Reinal sembari mengangkat satu alisnya.
"Dua-duanya."
Reinal meraih tangan Alora dan mengecup tangan istrinya itu. Tatapan lembut Reinal ia berikan ke Alora. "Saya tidak mau membuat ibu dari anak saya merasa sedih. Mulai sekarang, kebahagiaan kamu itu prioritas saya."
Alora terdiam mendengar perkataan Reinal. Ia senang dengan perkataan Reinal. Hanya saja ketika Reinal mengatakan bahwa ia adalah ibu dari anaknya Reinal membuat Alora sedikit merasa berbeda.
"Jadi aku ini cuman ibu dari anak kamu?" tanya Alora dengan nada sindiran.
"Kamu itu segalanya untuk saya. Kamu ibu dari anak saya, menantu dari orang tua saya dan tentunya wanita yang saya cintai. Wanita yang berhasil membuat saya bersikap lembut seperti ini. Wanita yang berhasil membahagiakan saya dan memberikan segala hal yang belum pernah saya miliki sebelumnya. Kamu sangat berarti untuk saya, Alora. Saya bahkan rela mengorbankan apapun agar bisa hidup dengan kamu," tutur Reinal.
Kata-kata Reinal membuat Alora seperti terbang diatas awan. Baru kali ini ia mendengar pernyataan cinta Reinal untuknya.
Perlahan, Reinal mendekatkan wajahnya ke wajah Alora. Reinal mencium bibir merah Alora dengan lembut. Alora pun mulai meletakkan tangannya di pundak Reinal, menikmati ciuman manis yang Reinal berikan kepadanya.
Ciuman mesra mereka akhirnya terhenti ketika suara tangis Radeva pecah. Mau tidak mau Reinal melepaskan Alora dengan berat hati.
Dengan segera, Alora meraih tubuh Radeva dan menimang-nimang putranya itu. Mendapatkan kehangatan dari Alora seketika membuat Radeva diam dari tangisannya.
"Dia tidak bisa melihat papanya bahagia. Tangisannya menghentikan suasana romantis kita," seru Reinal dengan sedikit kesal. Alora tersenyum geli mendengar seruan Reinal.
"Radeva tidak suka kamu dengan dengan mamanya.. Sekarang kamu memiliki saingan kecil ini," balas Alora.
"Sepertinya kita harus memiliki anak perempuan, Alora. Biar kamu memiliki saingan juga."
"Tentu saja harus. Setelah Radeva berumur lima tahun nanti. Baru kita akan memiliki anak lagi."
Reinal mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Alora. "Lima tahun? Bukankah itu terlalu lama?" tanyanya dengan sedikit bingung.
"Tentu saja tidak. Kita harus fokus dengan Radeva dulu. Setelah itu, baru kita memiliki anak lagi. Tidak perlu terburu-buru kan?"
"Ya memang tidak perlu terlalu buru-buru.. Jadi bagaimana kalau kamu hamil sebelum Radeva berusia lima tahun?"
"Ya.. berarti sudah takdirnya kira punya anak lagi," ucap Alora sembari menimang Radeva.
Reinal menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia kembali mengambil laptopnya sembari tersenyum. Saat ini ia telah memikirkan sesuatu. Ide agar Alora hamil lagi sebelum Radeva berumur lima tahun. Mungkin dia harus memikirkan ide liciknya itu dari sekarang.
***