Tears in Marriage

Tears in Marriage
Apartemen Dimas



Alora membaca pesan yang dikirim oleh Dimas dengan perasaan khawatir. Ia baru saja mengetahui jika sekarang Dimas sedang dalam keadaan sakit.


Alora sangat tau jika Dimas sakit, ia tidak akan mau pergi berobat. Dimas hanya akan mengurung dirinya di kamar hingga merasa baikan. Sedari dulu Dimas hanya melakukan hal itu. Karena itu, Alora selalu ada di samping Dimas saat pria itu sakit. Sekarang, Alora seharunya juga berada di samping Dimas. Tetapi ia tidak tau harus bagaimana keluar dari rumah ini tanpa kedua bodyguardnya. Tidak mungkin Alora mengajak mereka ke apartemen Dimas.


Tetapi niat Alora sudah bulat. Ia akan tetap pergi menemui Dimas dan berada di samping Dimas untuk sementara waktu. Alora pun mulai bersiap-siap untuk berangkat ke apartemen Dimas.


Setelah selesai bersiap, Alora berjalan keluar dari kamar. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan garasi. Seperti biasa kedua bodyguard Alora segera bersiap ketika melihat Alora yang ingin pergi dari rumah. Pak Tanto juga bersiap untuk ikut bersama Alora.


"Pak.. saya nyetir sendiri saja. Bapak tidak usah ikut."


"Tapi Bu.."


"Bodyguard saya kan sudah ikut dengan saya. Jadi bapak tenang saja, saya akan baik-baik saja."


Tanpa menunggu jawaban dari pak Tanto, Alora segera masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobil. Kedua bodyguard Alora mengikutinya dari belakang dengan mobil yang berbeda.


Kecepatan mobil Alora sengaja ia percepat. Ia ingin segera bertemu dengan Dimas dan melihat kondisi Dimas.


Hampir setengah jam berlalu, Akhirnya Alora sampai di apartemen Dimas. Alora memarkirkan mobilnya dan setelahnya ia keluar dari mobil. Kedua bodyguard Alora ikut keluar dari mobilnya dan hendak mengikuti Alora lagi. Tetapi dengan tegas Alora melarang mereka untuk mengikutinya. Alora sedikit berusaha keras untuk meyakinkan kedua bodyguardnya itu untuk tidak ikut bersamanya. Untung saja bodyguard Alora menuruti perkataan Alora. Dengan segera, Alora mempercepat langkahnya menuju unit apartemen Dimas.


Sesampainya di depan pintu apartemen Dimas, Alora menekan beberapa digit nomor agar ia bisa masuk ke dalam apartemen Dimas. Setelah itu, Alora segera memasuki apartemen Dimas.


Mata Alora melebar ketika melihat keadaan apartemen Dimas. Sangat berantakan. Alora sangat mengenal Dimas, dan Dimas tidak pernah membiarkan apartemen miliknya sampai berantakan seperti ini.


Alora semakin melebarkan langkahnya ketika melihat di atas kasur Dimas sedang terbaring lemah. Alora duduk di atas kasur tepat di sebelah Dimas. Ia memegang kening Dimas dengan tangannya. Tubuh panas Dimas membuat Alora menghela napas panjang.


Mata Dimas mulai terbuka ketika menyadari kehadiran Alora. Senyum tipisnya dari Dimas mulai tercipta di bibirnya.


"Kamu harus ke Dokter, Dimas. Badan kamu panas banget ini," saran Alora. Alora sudah sangat tau jawaban apa yang diberikan Dimas.


"Minum obat juga nanti sembuh, Lora."


"pagi ini udah minum obat?" tanya Alora. Gelengan kepala Dimas membuat Alora semakin khawatir kepada Dimas.


"Aku buatin sarapan dulu setelah itu kamu minum obat. Kamu tunggu di sini, istirahat." Setelah mengatakan itu, Alora mulai berjalan menuju dapur untuk membuatkan Dimas sarapan.


Tetapi bukannya beristirahat, Dimas malah bangkit dari tidurnya dan ikut berjalan menuju dapur. Ia duduk di kursi meja makan sembari melihat gerak-gerik Alora yang sedang memasak untuk dirinya.


Dimas memang sangat suka memperhatikan Alora yang sedang memasak sedari dulu. Menurutnya Alora terlihat semakin cantik jika sibuk dengan peralatan dapur.


"Dimas.. aku udah bilang kamu tunggu di kasur aja."


"Ngeliatin kamu masak itu udah bikin aku baikkan kok," jawab Dimas dengan senyumannya.


"Padahal apartemen ini aku beli untuk persiapan pernikahan kita. Aku udah siapin dapur sesuai kemauan kamu. Tiap pagi aku bisa lihat kamu masak untuk buatin aku sarapan. Tidur di sebelah aku dan kita cerita hal-hal lucu berdua. setelah kita punya anak, kita akan pindah ke sebuah rumah dengan halaman yang besar sehingga anak kita bisa main di sana. Ingat kan mimpi kita dulu?"


Alora diam mendengar perkataan Dimas. Ia tidak mungkin melupakan impian kecil mereka itu. Semuanya, sudah mereka siapkan dengan matang.


"Aku gak mungkin nyalahin kamu karena mimpi kita mungkin tidak akan pernah terjadi. Takdir yang selalu aku salahkan. Takdir jahat banget ya sama kita? Padahal dia tau rasa cinta kita besar banget."


Dimas menundukkan kepalanya mendengar jawaban singkat Alora. Semua memang sudah berlalu, tetapi Dimas tidak akan pernah melupakannya.


"Aku tau.. Karena itu aku menyalahkan takdir."


***


Alora membuat bubur ayam untuk Dimas. Alora pun menyuapi Dimas bubur ayam tersebut.


"Kamu harus makan yang banyak. Setelah ini kamu minum obat dan istirahat lagi," tutur Alora sembari menyuapi Dimas.


Setelah selesai dengan sarapannya. Alora mulai memberikan Dimas obatnya. Untung saja Dimas mempunyai stok obat di apartemennya.


"Mau aku temani berobat gak besok?" tawar Alora setelah selesai memberikan Dimas obatnya.


"Alora aku bentar lagi sembuh kok," jawab Dimas. Tatapan mata Alora seketika berubah. Ia menatap Dimas tanpa kedip. Melihat itu Dimas akhirnya mengalah. "Oke.. besok temani aku berobat."


"Gitu dong. Kamu tuh harus memprioritaskan diri kamu."


Setelah Alora memberikan obat untuk Dimas, Alora membantu Dimas untuk membaringkan tubuhnya kembali ke kasur. Tetapi sebelum Dimas berbaring, seketika Dimas merasa mual dan tanpa di duga Dimas memuntahkan cairan dari tubuhnya.


"Ueaak.."


"Astaga.."


Muntahan Dimas mengenai baju Alora. "Maaf.. aku gak sengaja," ucap Dimas ketika melihat baju Alora yang terkena muntahannya.


"Gak papa.. kamu tenang aja."


Alora kembali membaringkan Dimas. Setelah itu ia mulai berjalan meninggalkan Dimas untuk membersihkan bajunya yang terkena muntahan Dimas.


"Kamu pakai baju aku aja, Lora. Baju kamu pasti kotor," saran Dimas.


Alora memikirkan sejenak tawaran yang Dimas berikan. Apa yang Dimas katakan ada benarnya. Alora pun berjalan menuju lemari Dimas dan mulai mencari baju yang cocok untuk dirinya.


Pilihan Alora jatuh pada kaos bewarna putih milik Dimas. Kaos yang jika Alora pakai akan sampai di bawah lutut Alora. Alora hanya memilih kaos itu saja. Ia tidak memilih celana dikarenakan semua celana milik Dimas akan kebesaran jika ia pakai. Untung saja Alora memaki short pendeknya.


Alora mulai berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Tak lama ketika Alora masih berada di kamar mandi, bell apartemen berbunyi.


"Dimas.. aku aja yang bukain pintunya. Kamu istirahat aja," teriak Alora dari dalam kamar mandi. Alora tidak ingin Dimas berjalan membukakan pintu. Kondisi Dimas masih sangat lemah menurutnya.


Tetapi Dimas tidak menuruti perkataan Alora. Ia malah bangkit dari kasurnya dan mencoba untuk berjalan membuka pintu apartemen. Dimas meraih gagang pintu dan mulai membukanya. Ia mematung ketika melihat siapa yang ada di depan pintu apartemennya.


"Dimas.. aku udah bilang kamu tidur a-- Reinal?"


***