Tears in Marriage

Tears in Marriage
Darah



Waktu berjalan dengan sangat cepat. Alora sekarang sudah bisa menerima kehadiran buah hatinya yang saat ini sudah memasuki bulan ke delapan. Dia sangat menikmati momen-momen kehamilannya. Sikap Reinal juga berubah total. Reinal sangat menyayangi dan menuruti semua keinginan Alora.


Alora bahkan sudah tidak sabar menimang anaknya ini. Perlahan kehidupan Alora dengan Reinal berjalan dengan baik. Bahkan saat ini Alora sudah merindukan suaminya itu. Padahal Reinal baru pergi ke kantor dua jam lalu.


Tangan Alora kembali mengelus perutnya yang sudah membesar. Sesekali Alora menyanyikan lagu untuk anaknya yang masih di dalam perut. Hingga seseorang mengetuk pintu kamar Alora dan munculah salah satu pelayan Alora dari balik pintu.


"Bu.. Ada yang ingin bertemu di bawah," tutur Pelayan tersebut. Setelah mengatakan itu, pelayan tersebut berjalan pergi dari kamar Alora. Alora sangat yakin Bara lah yang bertamu ke rumahnya.


Belakangan ini Bara memang selalu berkunjung ke sini. Ia bahkan sesekali membawakan pakaian bayi untuk anaknya. Reinal awalnya sedikit risih dengan kehadiran Bara yang terus menerus. Tetapi lama kelamaan ia mulai terbiasa dengan kehadiran Abang iparnya itu.


Langkah kaki berat Alora mulai ia gerakkan. Alora berjalan menuruni tangga dengan sangat perlahan. Ia dapat melihat punggung pria yang sangat familiar. Tetapi itu bukan punggung Bara ataupun Reinal.


Alora pun berjalan mendekat ke arah punggung tersebut. Hingga pria itu mulai menolehkan kepalanya kearah Alora. Langkah Alora berhenti seketika.


"Dimas.."


Wajah Dimas terlihat sangat terkejut melihat perubahan tubuh Alora. Pandangannya terfokus ke arah perut Alora.


"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu hamil?" tanya Reinal dengan suara lemahnya. Alora tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi sekarang. Bagaimana bisa ia bertemu dengan Dimas di saat kondisinya yang sedang hamil besar seperti ini.


Alora berjalan mendekat ke arah Dimas dan memilih untuk duduk tepat di samping Dimas. Tetapi Dimas masih enggan untuk duduk. Ia masih tetap berdiri tanpa menatap wajah Alora.


Sebenarnya Alora takut untuk berbicara dengan Dimas saat ini. Tetapi tidak ada cara lain selain ia menceritakan yang sebenarnya dan meminta Dimas untuk mengakhiri hubungan mereka. Tidak ada cara atau jalan lain selain mereka mengakhiri hubungan ini.


Perlahan Alora mulai meraih tangan Dimas dan menggenggam tangan pria yang dulu sangat ia cintai itu. Dimas sama sekali tidak membalas genggaman Alora. Tetapi Alora sama sekali tidak masalah dengan hal tersebut.


"Aku mau cerita, Dim. Duduk di samping aku, please.." dengan nada lembut Alora berucap kepada Dimas. Helaan napas berat Dimas mulai terdengar. Tetapi ia menuruti permintaan Alora. Perlahan, Dimas pun duduk tepat di samping Alora. Dimas juga menoleh ke arah Alora.


"Tolong Alora.. jangan sembunyikan apapun lagi kepada aku. Selama beberapa bulan kamu sama sekali tidak pernah bisa aku hubungi dan sekarang.. sekarang aku sangat syok melihat keadaan mu. Kenapa kamu bisa tega melakukan semua ini?"


Wajah frustasi Dimas membuat Alora semakin merasa bersalah. Tetapi lemah Dimas serta kehancuran Dimas membuat Alora yakin jika Dimas memang tidak pantas untuknya. Alora tidak mungkin kembali dengan pria yang sudah ia hancurkan sedalam ini.


"Aku udah lama memikirkan semua ini. Aku juga setiap saat memikirkan tawaran yang kamu berikan kepadaku, Dim. Dan aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita ini. Terlalu jahat aku kalau aku tetap mempertahankan kamu. Apalagi aku sedang mengandung anak Reinal. Maaf.. karena telah menyakiti kamu. Maaf karena aku membuang waktu kamu selama ini dan maaf.. karena aku tidak bisa kembali lagi ke kamu."


"Kamu gak bisa memutuskan semua hal ini secara sepihak Alora. Aku enggak akan pernah mau putus dari kamu. Tidak akan pernah!"


"Dimas.. sejak awal. Sejak awal pernikahan ku dengan Reinal, hubungan kita sudah berakhir. Tidak ada yang tersisa lagi diantara kita ketika aku sah menjadi istri Reinal."


Alora dapat melihat mata Dimas yang mulai memerah dan mulai berlinang air mata. Alora sama sekali tidak bisa melihat air mata Dimas. Apalagi air mata itu jatuh karena dirinya.


"Ayo berpisah dengan cara yang baik," sambung Alora.


"Sejak kamu menikah dengan Reinal, aku tidak pernah berpikir hubungan kita berakhir. Aku gak akan pernah bisa menerima akhir dalam hubungan kita, Alora. Kenapa hanya aku yang sakit di sini?! Sedangkan kamu? kamu akan menikmati pernikahan mu ini dan hidup bahagia dengan keluarga kecilmu. Hanya aku yang terluka.."


Akhirnya air mata Dimas mulai membasahi pipinya. Melihat air mata Dimas, Alora perlahan mulai menghapus air mata itu dari pipi Dimas.


"Bukan hanya kamu yang terluka, Dimas. Kamu tau.. awal pernikahan ku, aku sangat menderita. Melepaskan pria yang sangat aku cintai dan hidup dengan pria asing. Semua ini juga mimpi buruk untuk ku, Dimas. Kamu tau betapa sulitnya aku bisa tidur di dari kasur dengan Reinal?"


"Tetapi sekarang kamu menikmatinya kan? Kamu bahkan sampai hamil anak pria itu!"


"Aku mencintainya."


Dua kata itu mampu membuat Dimas terdiam. Pernyataan yang Alora buat membuat Dimas seketika merasa hampa. Alora telah berhasil melupakan dirinya. Dia tidak lagi memiliki cinta kepada Dimas. Fakta yang tidak ingin Dimas dengar sama sekali.


"Kamu adalah cinta yang tidak pernah aku lupakan, Dimas. Tetapi Reinal.. dia mampu membuat ku menghapus nama mu dalam hati ku. Aku tau aku egois. Tidak seharunya aku mengatakan ini kepada kamu. Tetapi ini kenyataannya. Reinal berhasil menggeser kamu dalam hatiku. Karena itu.. ayo berpisah. Carilah wanita yang lebih baik dari aku."


Dimas bangkit dari duduknya. Menoleh ke arah Alora sekilas dan memberikan senyuman tipis kepada Alora. "Terimakasih karena telah mengatakan semua ini. Aku akan mencoba untuk melupakan kamu Alora. Akan aku coba untuk menghapus semua memori tentang kita. Aku pamit pergi.. Pergi dari rumah kamu ini dan pergi dari hidup kamu. Aku harap kamu bahagia bersama pria pilihan kamu."


Setelah mengatakan semua itu, Dimas berjalan pergi meninggalkan Alora. Alora menatap punggung Dimas yang mulai menjauh dengan air matanya yang mulai mengalir di atas kedua pipinya.


Seorang pelayan mendekati Alora dengan wajah khawatirnya. Pelayan tersebut juga berteriak memanggil bodyguard Alora.


"Ibu... Ibu berdarah!" ucap pelayan tersebut dengan nada khawatir. Alora yang mendengar kata berdarah langsung menatap ke arah kakinya. Dan benar saja, darah segar mengalir di sela kaki Alora. Perlahan perut Alora menjadi terasa sakit. Rasa sakit dan panik membuat Alora merasa pusing seketika. Alora sangat takut kehilangan bayinya. Ia bahkan memegang perutnya dengan penuh harap agar bayinya tidak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya Alora jatuh pingsan tak sadarkan diri.


***