
Alora tidak tau sejak kapan Reinal sudah berada di sampingnya. Menggenggam tangan Alora dengan erat sembari menundukkan kepalanya. Senyuman tipis Alora tercipta melihat wajah khawatir Reinal. Perlahan tangan Alora meraih kepala Reinal yang menunduk.
Reinal yang merasakan sentuhan di kepalanya seketika menatap ke Alora. Sedikit ada rasa lega dalam diri Reinal ketika melihat Alora sudah membuka matanya.
"Kamu buat saya khawatir, Alora."
Suara serak Reinal membuat Alora menjadi lebih baik. Walaupun rasa sakit di perutnya masih ia rasakan.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Alora. Tangan Alora perlahan mulai beralih ke perutnya. Ia meraba perutnya dengan perlahan.
"Anak kita kuat, sayang. Dia akan baik-baik saja. Dokter bilang kamu akan segera dioperasi. Kamu tidak usah khawatir, sebentar lagi kita akan melihat wajah anak kita."
Alora sedikit lega mendengar penjelasan yang Reinal berikan. Dia sangat takut kehilangan bayinya. Reinal perlahan bangkit dari duduknya. Ia mengecup lembut dahi Alora. "Aku mau panggil Dokternya dulu," tutur Reinal. Setelah mendapatkan anggukkan dari Alora, Reinal pun berjalan keluar dari ruangan rawat Alora.
Tak lama berselang, mama dan papa Alora serta Bara langsung masuk ke dalam ruangan Alora dengan wajah khawatir. Air mata mama Alora terlihat sangat jelas ketika melihat Alora yang sedang terbaring lemah.
"Sayang.. kamu kenapa jadi seperti ini? kamu buat mama khawatir," tutur sang mama dengan air matanya yang membasahi kedua pipinya.
"Aku baik-baik aja ma.. mama tenang aja."
Pandangan Alora teralihkan ke arah Bara yang menatapnya dengan berlinangan air mata. Alora tau jika saudaranya itu sedang menahan air matanya agar tidak menetes.
"Kalau lo mau nangis, nangis aja kali Bar.. gak usah di tahan gitu," sindir Alora kepada Bara. Bara yang mendengar itu seketika mengeluarkan tangisannya. Ia bahkan memeluk tubuh Alora yang sedang terbaring itu.
"Jantung gue hampir copot ketika gue dengar kabar lo. Jangan buat gue meninggal mendadak Alora!"
Alora merasa sangat bahagia sekarang. Keluarganya ternyata sangat menyayanginya. Apalagi ketika Alora melihat papa nya yang sedang menghapus air matanya di sudut ruangan. Melihat papanya yang menangis karena dirinya, perlahan air mata Alora juga ikut menetes.
"Pa.." suara parau Alora memanggil lembut papanya. Pria yang Alora pikir memiliki hati yang keras, sekarang malah terlihat sangat rapuh. Papa Alora berjalan mendekat ke arah Alora dengan mata yang masih berair.
Ia meraih tangan Alora dan menggenggam tangan putri kecilnya itu. "Maafin papa."
Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut papanya tetapi mampu membuat Alora kembali mengeluarkan air matanya.
Entah kenapa, kata itu yang sangat ingin Alora dengar dari papanya dari dulu. Bukan karena papanya telah menjodohkannya dengan Reinal. Bukan juga karena hubungannya putus dengan Dimas. Tetapi karena papanya sudah lama tidak menggenggam tangannya. Papa sudah lama tidak tertawa dan bercanda bersama Alora. Alora ingin papa meminta maaf karena telah mengabaikan dirinya ini. Dan sekarang, Alora mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Anak papa pasti kuat. Kamu akan melahirkan anak yang sehat dan kuat, Alora."
Alora menganggukkan kepalanya sembari terisak. Dia sangat berharap hubungannya dengan sang papa akan kembali seperti dulu lagi.
Bara tersenyum tipis melihat papanya yang menangis didepan matanya. Akhirnya ia melihat air mata papanya karena khawatir dengan keadaan Alora.
Di tengah-tengah keharuan itu, Reinal kembali masuk dengan dua orang perawat.
"Jangan nangis sayang. Sebentar lagi kamu menjadi ibu. Anak mama akan jadi ibu yang hebat nanti."
Bukannya berhenti, Air mata Alora kembali menetes. Bagaimana bisa dia tidak terharu mendengar perkataan mama itu.
***
Senyuman lebar Alora terlihat jelas di wajah pucat nya itu. Walaupun perutnya masih terasa sedikit sakit tetapi melihat pemandangan di depannya, seketika sakitnya tidak terasa.
Reinal mengendong bayi mereka dengan penuh hati-hati dan dengan senyuman lebarnya itu. Reinal juga tidak berhenti berterimakasih kepada Alora karena telah melahirkan anak mereka dengan lancar.
"Radeva Abara. Gimana menurut Kamu?"
"Bagus. Aku suka namanya."
Alora tidak tau kalau Reinal telah menyiapkan nama untuk putra pertama mereka. Perlahan Reinal kembali meletakkan Radeva ke dalam box bayi yang berada di sebelah kiri Alora. Setelah meletakkan Radeva, Reinal kembali berjalan dan duduk di sebelah kanan Alora sembari menggenggam tangan istrinya itu.
"Terimakasih karena telah melahirkan Radeva, Alora. Terimakasih telah berjuang dan terimakasih karena kamu tetap memilih saya." Reinal mengecup lembut tangan Alora.
"Kamu udah banyak bilang makasih sama aku. Aku juga bahagia bisa melahirkan Radeva. Tidak perlu ada kata terimakasih diantara kita, Reinal. Kedepannya kita harus menjadi orang tua yang baik untuk Radeva. Aku tidak membutuhkan kamu menjadi suami sempurna untuk aku, tetapi tolong.. jadilah ayah yang sempurna untuk Radeva."
"Kamu tidak perlu khawatir. Saya akan menjadi ayah yang sempurna untuk Radeva dan suami yang sempurna untuk kamu. Setelah ini.. saya akan memperbaiki diri saya, Alora. Kamu telah membuat saya menjadi pria yang paling beruntung di dunia ini."
Alora menganggukkan kepalanya. Ia kembali menoleh ke arah box Radeva dan tersenyum lembut melihat wajah tampan anaknya yang sedang tertidur. Radeva Abara. Alora akan membuat anaknya menjadi anak yang baik dan lebih baik darinya. Alora tidak akan mendidik anaknya sama seperti orang tuanya dulu mendidiknya.
"Kamu curang, Reinal! Radeva sangat mirip dengan mu," tutur Alora. Sebenarnya Alora sama sekali tidak keberatan kalau Radeva mirip dengan Reinal. Ketampanan Reinal memang harus diwariskan kepada anak mereka, tidak boleh terbuang sia-sia.
"Itu bagus Alora. Jika Radeva besar nanti, dia akan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Bukan Radeva yang mendekat, tetapi wanita-wanita itu. Lihat saja nanti!"
"Radeva harus berjuang mendapatkan cintanya, Reinal. Tidak boleh hanya satu sisi saja yang berjuang. Harus dua-duanya," sahut Alora tidak setuju dengan pernyataan Reinal.
"Sama seperti kita kan?" tanya Reinal dengan nada menggodanya.
Alora tidak tau apakah mereka sama-sama berjuang atau tidak. Tetapi jika dipikir, mereka memang saling berjuang. Reinal yang berjuang agar Alora tidak meminta cerai darinya dan Alora yang berjuang untuk tetap bersama dengan Reinal.
Mungkin jika mereka bercerai dulu, Radeva tidak akan pernah ada di sini sekarang. Reinal mungkin akan tetap menjadi Reinal yang sangat mengesalkan dan egois.
Alora tidak sabar untuk melihat tumbuh kembang dari Radeva nantinya. Membayangkannya saja, Alora sudah merasa bahagia.
Reinal mendekatkan wajahnya ke telinga Alora dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya itu. "Setelah ini, kita buat adik untuk Radeva yang mirip dengan kamu."