Tears in Marriage

Tears in Marriage
Lunch bersama keluarga



Tatapan mata Alora tertuju kepada seorang wanita yang Alora yakini ialah sekretaris Reinal. Tetapi ada yang aneh. Sekretaris Reinal yang ia pergoki sedang bersama dengan Reinal berbeda dengan yang sekarang Alora lihat. Tidak mungkin dia mengubah wajahnya. Lagian dari bentuk wajahnya saja, Alora sudah meyakini sekretaris Reinal telah berganti.


"Reinal ada di dalam kan?" tanya mama mertua Alora kepada sekretaris Reinal yang langsung diangguki olehnya. Setelah mendapatkan jawaban, mama mertua Alora segera masuk ke dalam ruangan. Tetapi berbeda dengan Alora. Alora masih setia berdiri di depan meja sekretaris Reinal ini.


Alora menatap dengan teliti wanita ini. Berbeda jauh dari sekretaris Reinal yang sebelumnya. Kali ini, penampilan dari sekretaris Reinal lebih sederhana dan lebih tertutup.


"Kamu sekretaris baru?" tanya Alora langsung.


"Iya Bu.. saya Anisa sekretaris pak Reinal yang baru," jawabnya dengan senyuman, sangat ramah.


"Udah berapa lama di sini?" tanya Alora lagi. Alora tidak tau kenapa ia menjadi bersikap seperti ini. Tanpa ia sadari ia sedang mewawancarai wanita yang ada di depannya ini. Alora ingin mencari tau mengenai wanita yang berkerja bersama dengan Reinal.


"Sudah berjalan satu bulan lebih, Bu."


"Alora ayo masuk, sayang."


Perhatian Alora teralihkan kepada mertuanya yang tiba-tiba mendekat dan menarik tangannya untuk masuk ke dalam ruangan Reinal.


Alora dapat melihat Reinal dan papa mertuanya yang sedang duduk di sofa sembari membahas sesuatu yang tidak Alora mengerti.


"Oke.. sekarang perhatiannya harus tertuju pada Alora!" Mama mertua mulai mengeluarkan suara dan membuat anak dan suaminya itu seketika menghentikan percakapannya. Mereka berdua mengalihkan pandangannya ke arah Alora.


"Ada apa sih ma?" tanya Reinal.


"Setelah kamu dengar kabar ini, kamu pasti akan sangat bahagia."


"Sayang.. langsung saja ke intinya," sahut papa mertua Alora.


Alora semakin mengerti mengapa sikap Reinal seperti sekarang ini. Ternyata Reinal sangat mirip dengan papanya.


"Jadi.. Alora hamil!" Ucap mama mertuanya dengan gembira.


Kedua pria yang sedang duduk itu seketika bangkit dari duduknya. Terutama Reinal. Ia bahkan dengan cepat berjalan ke arah Alora dan memeluk tubuh Alora.


Tentu saja Alora terkejut mendapatkan pelukan dari Reinal. Apalagi saat ini ada kedua mertuanya yang sedang melihat mereka berdua berpelukan.


"Terimakasih.. Terimakasih Alora," tutur Reinal di telinga Alora. Suara Reinal mampu membuat Alora merasa yakin, jika Reinal memang menginginkan seorang anak.


Reinal melepaskan pelukannya. Tetapi ia beralih menggenggam tangan Alora. Senyum lebar Reinal masih tercipta di wajahnya. Alora sangat menyukainya. Ia sangat menyukai Reinal yang tersenyum seperti itu.


"Aku bahagia dengar kamu hamil. Sangat bahagia," ucap Reinal lagi. Perlahan Alora ikut tersenyum mendengar ucapan Reinal. Entah mengapa ia terbawa suasana sekarang. Reinal berhasil membuatnya merasa sedikit dicintai.


"Papa gak sabar menunggu cucu papa lahir."


Pria paruh baya itu berjalan mendekat ke arah istrinya. Ia mengecup lembut kening Risa sembari membisikkan di telinga istrinya itu. "Bentar lagi kamu jadi nenek." Cubitan kecil di dapatkan oleh pria tersebut dari istrinya.


"Akhirnya.. keinginan kamu terwujud kan? Tiap malam selalu nanyain, kapan Alora hamil. Sekarang mantu kamu ini hamil, sayang," ucap Risa kepada sang suami.


"Semua ini juga karena usaha kamu kan? ngasih obat-obatan itu ke Alora."


Semua yang ada di ruangan tertawa mendengarnya. Termasuk Alora. Sekarang Alora mengerti mengapa mama mertuanya itu memberikannya obat-obatan. Karena kedua mertuanya ini tidak sabar untuk mengendong seorang cucu.


"Gimana kalau kita makan siang diluar? Sekalian merayakan kabar gembira ini?" tawar papa mertua Alora yang tentu saja mendapatkan persetujuan dari Reinal dan Risa.


***


"Kalau kamu masih mau, mama pesan lagi ya?" tawar Risa kepada Alora.


"Gak usah ma.. Udah pas porsinya," jawab Alora menolak tawaran mama mertuanya itu. Alora pun menyuapkan satu sendok terakhir dari makanannya.


Reinal dengan penuh perhatian menyodorkan minuman kepada Alora agar istrinya itu tidak keselek.


"Setelah ini mau kemana?" sekarang giliran papa mertua Alora yang membuka suara.


"Tentu saja belanja!" jawab Risa dengan semangat. Alora tersenyum mendengar jawaban Risa. Alora sendiri memang sudah lama tidak berbelanja barang-barang yang ia inginkan.


Abara, papa mertua Alora mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Sebuah kartu bewarna hitam itu ia keluarkan dari dompetnya. Setelah mengeluarkan kartu tersebut, Ia memberikannya kepada Alora.


Alora mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa papa mertuanya ini memberikan black card-nya kepada dirinya.


"Untuk apa pa?" tanya Alora.


"Sampai kamu melahirkan nanti, kartu ini punya kamu."


Mendengar itu, Alora seketika melebarkan kedua matanya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kamu bebas pergunakan kartu ini sesuka kamu. Ini hadiah dari saya karena kamu akan melahirkan penerus keluarga Abara," sambung Abara. Dengan pelan tapi pasti, Alora mengambil black card yang ada di tangan papa mertuanya itu.


"Makasih pa.."


Senyum lebar Alora mulai tercipta. Ia sangat senang mendapatkan black card ini. Walaupun ia telah memiliki satu black card dari Reinal, tetapi entah kenapa Alora merasa lebih senang mendapatkan kartu tersebut dari papa mertuanya ini.


"Alora juga punya pa. Saya sudah memberikannya satu dan dia masih belum pernah memakainya," tutur Reinal.


Alora memang masih belum pernah memakai kartu pemberian Reinal itu. Ia masih kesal dengan cara Reinal memberikan kartu tersebut.


"Biar saja.. itu kan dari kamu, ini hadiah dari papa," sahut Abara dengan santai.


Alora segera menyimpan kartu tersebut kedalam dompetnya. Ia tidak sabar untuk berbelanja menggunakan kartu tersebut.


"Mama dulu juga pernah dapat kartu itu. Waktu Reinal masih di perut mama."


Risa tersenyum lembut dan menatap wajah Reinal. Anaknya sekarang sudah sangat besar dan dewasa tentunya. Waktu berjalan dengan cepat. Ia merindukan Reinal kecilnya dulu.


"Sekarang giliran kamu yang dapat. Jangan pikirkan apapun, kalau kamu suka dengan barang apapun, kamu beli menggunakan kartu itu. Ngerti sayang?" Alora menganggukkan kepalanya, tanda ia mengerti.


Sejauh ini, jika dibandingkan dengan keluarganya, Alora lebih menyukai keluarga Reinal. Dari dulu, Alora tidak pernah mendapatkan kehangatan seperti ini. Setiap mereka kumpul bersama, papanya akan selalu menanyakan mengenai pekerjaan ataupun keinginannya.


Tentu saja Alora merasa beruntung bisa mengenal dan masuk ke dalam keluarga Abara. Ia juga sebenarnya tidak yakin, mungkin saja mertuanya ini memperlakukannya seperti ini karena ia sedang mengandung. Tetapi Alora tidak perduli tentang hal itu. Saat-saat seperti ini, Alora sangat membutuhkan kehangatan dan perhatian seperti ini dari keluarga. Walaupun keluarganya sendiri tidak dapat memberikan kehangatan itu, setidaknya ia mendapatkannya dari keluarga Reinal.


Alora perlahan mengelus perutnya dengan lembut. Ia tidak akan pernah memperlakukan anaknya sama seperti dulu ia diperlakukan oleh orang tuanya, tidak akan pernah.


***