Tears in Marriage

Tears in Marriage
Papa



Alora sangat ingin berteriak kencang saat ini. Sudah lama ia tidak mengemudikan mobil kesayangannya ini dan sekarang ia sedang berada di balik kemudi dan menyetir mobilnya sendiri. Bahkan ia tidak lagi dikawal oleh kedua bodyguard nya itu. Reinal benar-benar menepati janjinya untuk memberikannya kebebasan.


Tujuan Alora saat ini ialah rumah kedua orangtuanya. Biarpun mereka alasan utama ia terjebak di dalam pernikahan ini, mereka tetaplah orangtuanya. Alora juga sebenarnya sudah merindukan orangtuanya, terlebih lagi mamanya.


Berselang tiga puluh menit kemudian, Alora akhirnya sampai di depan rumahnya. Ia segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Senyum lebar Alora kembali ia perlihatkan ketika melihat mamanya yang sedang membaca sebuah majalah di ruang keluarga. Dengan langkah lebar, Alora berjalan mendekati mamanya itu.


Alora memegang pundak mamanya dari belakang. Merasa ada yang pegang, mama Alora pun menoleh. Dengan spontan ia berdiri dari duduknya dan berjalan memutari sofa agar dapat meraih tubuh Alora.


Dekapan hangat mama membuat Alora kembali merasa lebih baik. Ia menghirup dalam aroma tubuh mamanya. Alora sangat merindukan pelukan mamanya ini.


"Mama rindu sama kamu, sayang."


"Lora juga rindu sama mama. Maaf belakangan ini tidak mengunjungi mama," balas Alora.


Mama melepaskan pelukan mereka dan memegang kedua pipi Alora dengan kedua telapak tangannya. Detik berikutnya ia pun membawa Alora untuk duduk di sofa yang tadi ia duduki.


Tangan mama Alora tidak lepas dari putri sematawayangnya ini. Senyuman lembutnya juga tidak pernah luntur ketika melihat wajah Alora yang ada di depannya saat ini.


"Mama masih enggak percaya kamu ada di sini sekarang. Mama pikir.. kamu masih marah sama mama karena pernikahan kamu, Lora. Mama sangat senang kamu kembali ke rumah ini dan mengunjungi mama."


"Alora mana mungkin bisa marah sama mama. Lagian.. semuanya sudah terjadi, tidak perlu disesali. Sekarang... Alora hanya ingin melepaskan rindu yang selama ini Alora tahan."


Alora melepaskan genggaman mamanya. Ia mulai meletakkan kepalanya di pangkuan mamanya. Melihat itu, mama Alora mulai mengelus lembut rambut Alora.


Alora mencoba untuk menahan agar air matanya tidak menetes. Ingin sekali ia menceritakan seluruh masalahnya kepada mamanya sekarang. Tetapi Alora tidak ingin membuat mamanya sedih karena dirinya. Ia tidak mau mamanya menjadi banyak pikiran karena dirinya.


Alora mencoba untuk menahan dan menyimpan seluruh masalahnya sendiri. Ia tidak ingin melibatkan keluarganya dalam masalahnya.


"Reinal memperlakukan kamu dengan baik kan?"


Tetapi sekuat tenaga Alora menyimpan masalah rumah tangganya, seolah tau mamanya malah bertanya demikian.


Alora menganggukkan kepalanya. Mungkin saat ini kebohongan kecil harus ia berikan agar semuanya terlihat baik-baik saja.


"Mama lega kalau dia memperlakukan kamu dengan baik. Setidaknya kamu bisa aman bersama dengan dia," sahut mama. Alora yang mendengar itu sangat ingin tertawa. Ia tidak pernah merasa aman jika bersama dengan Reinal.


"Nanti kita lunch bareng ya.. Papa kamu bentar lagi akan pulang. Tapi sepertinya Bara tidak bisa ikut. Kamu tau sendiri dia sibuk dengan pekerjaannya itu."


"Bara bekerja seperti itu biar bisa membuktikan kepada papa kalau dia bisa berdiri dengan kakinya, ma. Aku juga sangat ingin bisa seperti Bara. Tetapi kalian malah menikahkanku dan membuang mimpiku itu."


"Maaf sayang.. Maaf karena mama sudah membuat kamu melupakan mimpi-mimpi kamu. Mama tidak punya kuasa untuk melakukan apapun untuk kamu."


***


Suasana di atas meja makan terlihat sangat sunyi. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di sana. Hingga papa Alora membuka pembicaraan diantara mereka bertiga.


"Papa senang kamu bisa datang ke sini. Seharunya kamu juga membawa Reinal ke rumah kita."


"Lain waktu, aku akan bawa Reinal ke sini."


Alora kembali melanjutkan makannya. Entah kenapa, setiap ia ingin berbicara kepada papanya ini, Alora seolah-olah kehabisan kata dan tidak tau harus berkata apa.


"Kalau saja Bara sama seperti kamu, papa pasti akan bahagia. Umur Bara sudah hampir menginjak 30 an tetapi dia masih belum menikah."


"Biarkan saja dulu. Biar dia menikmati kerja kerasnya dulu. Bara juga pernah bilang dia akan menikah kalau dia sudah siap," sahut mama.


"Tidak bisa seperti itu. Bara tidak akan pernah siap kalau bicara tentang pernikahan. Dia masih belum bisa melupakan wanita itu. Kita sebagai orang tua yang harus membimbing dan memilihkan wanita yang cocok untuk Bara."


Alora mencoba untuk menahan ucapannya agar tidak mengatakan apapun. Ia tidak ingin membuat kesan buruk kepada papanya.


"Alora.. menurut kamu, seperti apa wanita yang Bara sukai? Papa sudah menyiapkan beberapa wanita yang cocok untuk Bara. Terlebih lagi wanita-wanita yang papa pilih dari keluarga terhormat. Papa akan menunjukkan beberapa profil mereka ke kamu nanti," sambung papa. Alora meletakkan garpu dan sendoknya. Nafsu makannya tiba-tiba menurun mendengar perkataan papanya.


"Sampai kapan sih papa selalu membuat keputusan sesuai kehendak papa? Bara udah besar, pah. Terserah dia mau menikah dengan siapa. Papa enggak perlu memilihkan wanita untuk Bara."


"Papa tau apa yang baik untuk kalian. Seperti Reinal, dia pria yang baik untuk kamu. Dan wanita yang akan papa pilih akan baik untuk Bara."


"Papa menuntukan baik atau buruk berdasarkan harta mereka kan? apa mereka berasal dari keluarga terhormat atau tidak? Tapi papa tidak pernah menanyakan apa yang sebenarnya kami mau. Pernikahan bukan hanya soal harta, pa. Kami juga butuh kebahagiaan."


Raut wajah pria lanjut usia itu perlahan berubah. Ia menatap lekat wajah Alora, Kesal dengan apa yang putrinya itu katakan kepada dirinya. "Jangan berkata seperti kamu sudah tau semuanya Alora. Kamu dan Reinal sama sekali tidak tau apapun mengenai pasangan yang kalian pilih sendiri. Pasangan yang kalian kata akan membuat kalian bahagia," tutur tegas papa Alora.


"Kami sangat mengenal pasangan yang kami pilih, pah. Bahkan mereka juga mengenal kami lebih baik dari papa mengenal anak-anak papa!"


"Alora cukup. Sudah.. jangan diteruskan lagi pembicaraan ini. Mama mohon, hentikan."


Alora kembali diam. Ia menoleh dan menatap papanya yang masih penuh dengan emosi, terlihat jelas di raut wajahnya yang menahan amarah itu.


"Kalau papa setuju dengan pilihan Bara, mungkin sekarang papa sedang bermain dengan cucu papa. Bara juga tidak akan berada di kantornya berlama-lama. Keegoisan papa menghancurkan kebahagiaan anak papa," tutur Alora sebagai penutup dari pembicaraan ini.


"Tidak perlu dari Bara. Papa akan menunggu cucu dari kamu!"


***