
Alora menatap dirinya dari cermin yang ada di depannya. Hari ini, hari yang mengerikan untuknya. Hari ini Alora sangat berharap ia dapat menghilang sekarang juga. Tetapi hal itu tidak mungkin terjadi.
"Kamu cantik banget sayang.."
Ucapan itu membuat Alora kembali tersadar. Ia mencoba untuk tersenyum kepada sang mama yang sudah berdiri di belakangnya sambil memegang pundaknya.
Alora sangat ingin menangis sekarang, menangisi takdirnya yang membuatnya menjadi seperti ini. Tetapi karena riasan wajahnya yang sudah rapi, ia tidak mungkin mengeluarkan air matanya itu.
"Mama yakin.. kamu pasti akan jadi istri yang baik untuk Reinal," sambung mama Alora.
Alora sangat tidak yakin akan hal itu. Ia tidak yakin bisa menjadi istri yang baik untuk pria itu. Pria yang telah merebut kebahagiaan dirinya. Pria yang akan menjadi suami sekaligus musuh untuk Alora.
"Sebentar lagi.. kamu akan bertemu dengan suami mu. Mama harap, kamu bisa tersenyum dengan lebar nanti di sana. Mama tau.. kamu melakukan semua ini karena keterpaksaan, tapi mama mohon agar kamu bisa mengerti kondisi yang ada sekarang. Keputusan yang sudah kamu buat ini, sangat tepat untuk keluarga kita. Keputusan ini untuk kehidupan kamu juga dan mama harap, pernikahan ini akan membuat kamu bahagia. Mama sangat berharap kamu bisa terus memegang janji pernikahan kamu ini, sampai maut memisahkan kalian."
Alora perlahan mulai memegang tangan mamanya yang sedang memegang pundaknya. Ia menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia akan mendengar perkataan sang mama.
"Soal Dimas.. mama harap kamu bisa melupakan dia dengan segera," sambung sang mama.
Alora yang mendengar itu hanya diam. Untuk satu hal itu, ia rasa ia tidak akan bisa melakukannya. Melupakan Dimas dengan cepat, tidak akan pernah bisa Alora lakukan.
Dimas terlalu lama berada di dalam hidupnya, tidak akan pernah segampang itu ia melupakan pria yang pernah berada di dalam hidup Alora.
"Pengantin wanita siap-siap ya. Sebentar lagi akan masuk ke dalam ruangan."
Ucapan dari seorang wedding organizer membuat Alora dan sang mama tersadar. Mama Alora menganggukkan kepalanya. Alora pun bangkit dari duduknya untuk bersiap-siap menuju tempat pernikahannya.
Senyuman Alora kembali tercipta ketika melihat Bara yang sudah berdiri di depannya. Bara dengan setelan suit yang membuat Bara semakin tampan.
Bara menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya ketika melihat Adik semata wayangnya sudah cantik dengan setelan gaunnya. Perlahan, Bara mendekati Alora dan memeluk tubuh Alora. Mama mereka yang melihat kedua anaknya saling peluk ikut tersenyum bahagia.
"Gue yang akan ngantar Lo ke suami lo itu," tutur Bara di sela pelukan mereka. Alora menganggukkan kepalanya. Ia akan sangat bahagia jika Bara yang melakukannya.
Perlahan Bara melepaskan pelukannya dan mengandeng tangan Alora. Senyum di wajah Bara seketika tercipta. Mungkin ini kalo pertama dan terakhir menggandeng tangan Alora dan mengantarnya menuju suami Alora.
Alora dan Bara menunggu di balik pintu. Ketika pintu ini dibuka, Alora akan langsung bisa melihat Reinal dan juga seluruh tamu yang datang ke pernikahan mereka.
"Tenang.. Semuanya akan berjalan dengan lancar, Lora." Bara mencoba untuk menenangkan Alora yang terlihat gugup.
"Hidup gue akan berubah seratus persen setelah berjalan melewati pintu ini, Bar." Alora kembali ingin menangis sekarang.
"Lo bisa cari gue kalau ada masalah, Lora. Gue selalu ada buat lo," tutur Bara.
Pintu yang ada di depan Alora dan Bara terbuka, menandakan sudah waktunya mereka berjalan masuk ke ruangan.
Langkah kaki Bara dan Alora memasuki ruangan dengan tepukkan tangan dari pada tamu undangan. Senyuman palsu di wajah Alora mulai ia tunjukkan.
Tetapi sosok seseorang yang sangat Alora kenal membuatnya seketika membeku. Wajah pria itu hanya menunjukkan kesedihan yang mendalam. Dimas.
Dimas datang ke pernikahan Alora dengan setelan baju hitamnya. Melihat itu, Alora menjadi kembali mengingat kejadian tiga hari sebelum pernikahannya.
Flashback
Langkah Alora segera menuju lift dan menekan angka yang menuju ruangan Reinal. Tak butuh lama, pintu lift terbuka. Alora pun berjalan mendekati meja sekretaris Reinal yang memang sudah menyambut kehadirannya.
"Selamat pagi, Bu Alora." Sapa sekretaris Reinal.
"Reinal ada di dalam kan?" tanya Alora.
"Ada. Tetapi bapak sedang ada tamu," jawab Sekertaris.
Alora menganggukkan kepalanya. "Tamu penting?" tanya Alora lagi.
"Enggak, Bu. Baru pertama kali ke sini. Kalau gak salah namanya Dimas Syaputra."
Alora langsung melebarkan kedua matanya ketika mendengar nama seseorang yang sangat ia kenal. Ia pun segera berjalan menuju pintu ruangan Reinal dan masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Betapa terkejutnya Alora ketika melihat Dimas yang sedang berlutut kepada Reinal. Dimas dan Reinal seketika melihat ke arah Alora. Beberapa detik kemudian, Alora segera berjalan mendekati Dimas dan menarik tangan Dimas agar Dimas berdiri.
"Kamu ngapain ngelakuin itu?!" Tanya Alora dengan sedikit bentakan. Ia menjadi sangat kesal ketika melihat Dimas melakukan hal yang membuat harga dirinya terluka.
"Pacar kamu ini, memohon agar saya melepaskan kamu. Dia bahkan berlutut untuk hal itu. Sangat dramatis. Bagaimana bisa.. seorang pria yang memiliki martabat meminta seorang wanita kepada calon suami wanita itu sendiri. Saya kagum sama keberanian pac-- Akh.. mantan pacar kamu," tutur Reinal.
"Dimas.. lebih baik kamu pergi sekarang."
Alora sudah sangat kesal dengan tindakan Dimas. Ia bahkan tidak menatap mata Dimas sekarang.
"Aku gak akan pergi sebelum dia membatalkan pernikahan bodoh ini!"
Tawa Reinal seketika terdengar di dalam ruangan ini. Mendengar kata-kata klise dari Dimas tepat di depan matanya.
"Saya tidak akan pernah membatalkan pernikahan ini," tutur Reinal dengan setiap penekanan di setiap katanya.
"Saya juga tidak akan pernah melepaskan Alora. Lagian.. Alora sama sekali tidak mencintai anda."
Tatapan mata Reinal dan Dimas saling beradu. Reinal yang awalnya sudah berusaha untuk menahan emosinya seketika emosinya kembali memuncak. Alora yang menyadari hal itu segera memisahkan mereka berdua. Ia menarik tangan Dimas agar menjauh dari Reinal.
"Dimas.. please kamu pergi sekarang. Aku mohon."
Alora mencoba untuk menarik Dimas menuju pintu keluar. Dimas yang melihat Alora memohon, akhirnya mengalah. Ia pun berjalan keluar dari ruangan Reinal.
Ritme jantung Alora berdegup kencang. Ia sangat takut Reinal akan memukul Dimas atau bahkan sebaliknya.
"Ini kali terakhir kamu melihat pria itu!"
Flashback end
Alora memberikan senyuman tipisnya kepada Dimas yang sekarang telah meneteskan air matanya. Melihat air mata Dimas, Alora seketika ikut meneteskan air matanya.
Reinal yang menyadari interaksi antara Dimas dan Alora seketika merasa kesal. Di hari pernikahannya ini, ia malah melihat sepasang kekasih yang saling menangis karena dipisah oleh dirinya.
***