
Setelah Alora meminta kepada Bara untuk memberikannya waktu agar ia bisa memikirkan keputusannya nanti, Alora pun memutuskan untuk pergi dari perusahaan Bara.
Surat perceraian yang Bara berikan kepadanya ikut Alora bawa. Alora akan menyimpan surat ini dengan baik agar Reinal tidak dapat menemukan surat ini. Alora yakin akan terjadi pertengkaran jika Reinal menemukan surat perceraian ini.
"Saya mau jumpa dengan Reinal."
Sopir Alora yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya dan mulai menjalankan mobil menuju perusahaan Reinal.
Alora ingin bernegosiasi dengan Reinal mengenai kedua bodyguard yang terus mengikutinya kemanapun itu. Ia ingin Reinal sedikit memberikannya ruang privasi untuknya.
Tak menunggu lama, Alora akhirnya sampai di perusahaan Reinal. Ia pun segera keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki loby. Seperti biasa, kedua bodyguardnya tetap mengikuti Alora bahkan ketika Alora memasuki perusahaan Reinal. Alora hanya bisa menghela napas melihat mereka berdua yang ada di belakangnya.
Beberapa karyawan menyapa Alora dengan ramah, Alora yang melihat itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Langkah Alora ia percepat, Alora ingin segera menemui Reinal dan membicarakan perihal kedua bodyguardnya ini.
Alora segera berjalan menuju lift dan menekan angka ruangan Reinal. Pintu lift terbuka pada lantai ruangan Reinal. Alora segera keluar dari lift. Tetapi langkahnya sedikit melambat. Suasana di daerah ruangan Reinal terlihat sangat sepi. Bahkan sekretaris Reinal yang biasanya ada di depan ruangan Reinal tidak ada ditempatnya.
Alora berpikir mungkin Reinal sedang bertemu dengan klien atau mungkin ia sedang rapat. Tetapi kenapa ketika ia di bawah tadi, tidak ada yang memberitahunya. Alora yakin pasti mereka sedikit mengetahui jika Reinal sedang keluar kantor.
Detik berikutnya Alora menggelengkan kepalannya. Ia mencoba untuk berpikir positif. Alora berniat untuk menunggu kedatangan Reinal di dalam ruangan suaminya itu. Ia pun kembali mempercepat langkahnya menuju pintu ruangan Reinal. Alora memegang kenop pintu dan mulai membuka pintu.
Tubuh Alora seketika mematung ketika ia membuka pintu ruangan ini dan melihat apa yang ada di dalam ruangan. Perkiraan Alora mengenai Reinal yang pergi menemui klien ternyata salah. Reinal ternyata ada di dalam ruangannya. Bahkan bersama dengan sekretarisnya itu. Tetapi bukan itu masalahnya.
Alora melihat Reinal dan sekretarisnya sedang dalam posisi yang tidak masuk akal menurutnya. Dimana sekretaris Reinal yang sedang duduk di atas meja kerja Reinal dengan kakinya yang berada di paha Reinal. Bahkan dua kancing baju wanita itu sudah terbuka dan sedikit memperlihatkan bra yang ia pakai.
Sedangkan Reinal, ia sama sekali tidak terlihat terganggu ataupun menolak perlakuan yang wanita itu lakukan. Tatapan datar Reinal seperti biasa. Melihat itu, mata Alora terasa sangat panas. Ia sangat ingin menjambak wanita itu dan mungkin memakinya. Tetapi Alora tidak mungkin melakukannya. Ia sangat mengingat posisinya. Alora hanyalah istri yang bahkan tidak dianggap oleh Reinal.
Ketika tersadar, Alora menutup pintu ruangan itu dengan keras. Setelahnya, Alora mempercepat langkahnya pergi meninggalkan ruangan ini. Kedua bodyguard yang melihat itu seketika tidak berani untuk mengikuti Alora. Tetapi mereka tetap mengikuti Alora dengan langkah yang lambat.
Alora segera memasuki lift. Di dalam Lift seketika tangisannya pecah. Reinal benar-benar membuatnya sakit hati. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu bersama dengan sekretarisnya sendiri. Terlebih lagi mereka melakukannya tempat kerja.
Ketika menyadari pintu lift akan terbuka, Alora kembali menghapus air matanya dan mencoba untuk bersikap biasa saja. Ia tidak ingin orang-orang melihat ia menangis dan terlihat lemah seperti ini.
Ketika pak Tanto hendak bertanya lewat kaca, Alora segera menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya keluar dari perusahaan Reinal. Pak Tanto yang melihat itu seketika merasa takut sekaligus bingung. Ia takut akan dimarahi oleh Reinal dan bingung menapa Alora tiba-tiba berubah seperti itu.
Pak Tanto menoleh ke arah kedua bodyguard yang baru sampai dengan napas yang masih memburu. Kedua bodyguard itu mencari keberadaan Alora beserta mobilnya.
"Ibu udah pergi tadi," tutur pak Tanto seolah mengerti apa yang sedang kedua temanya itu cari. Mendengar itu, kedua bodyguard tersebut menghela napas lemas. Mereka sudah buru-buru mengejar Alora tetapi tetap tidak dapat mengejarnya.
Alora mengemudikan mobil dengan sedikit kencang. Klakson terdengar dari beberapa pengemudi yang kesal dengan mobil yang Alora bawa. Tetapi Alora sama sekali tidak memperdulikan itu semua. Tujuan Alora saat ini ialah tempat dimana ia bisa menenangkan dirinya.
***
Danau yang tenang di hadapan Alora membuat Alora merasa sedikit lebih membaik. Tempat dimana ia sering bertemu dengan Dimas dan tempat Alora sering menenangkan dirinya. Alora membuka handphonenya. Ia mencari nomor Dimas. Tetapi Alora tidak ada keberanian untuk menghubungi Dimas. Ia tidak mungkin menghubungi pria yang sudah ia sakiti.
Alora kembali menangis ketika ia menyadari tidak ada orang di sekitarnya. Alora tidak bisa lagi menahan tangisannya. Ia tidak akan sekesal ini jika Reinal tidur dengan wanita lain yang tidak Alora kenal. Tetapi bagaimana bisa Reinal bersama dengan sekretarisnya yang sudah beberapa kali Alora ketemu.
Ia memang tidak berharap Reinal akan setia dengannya, tetapi ini terlalu cepat untuk Alora melihatnya secara langsung. Alora mencoba untuk menghentikan air matanya, tetapi ketika ia hendak mencobanya ia malah semakin menangis.
"Kamu bisa hubungi aku kalau kamu lagi sedih, Lora."
Suara itu, Alora sangat mengenali suara itu. Ia mulai menoleh ke sumber suara dan mendapati Dimas sudah berdiri tepat di belakangnya. Melihat itu, air mata Alora semakin ingin keluar. Alora bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Dimas. Senyuman tulus yang Dimas berikan untuknya membuat Alora merasa sedikit membaik.
"Aku udah jahat banget sama kamu, Dim. Bagaimana bisa aku hubungi kamu saat aku sedih? Rasanya aku akan jadi wanita yang paling jahat di dunia ini," tutur Alora kepada Dimas.
"Kamu wanita yang paling baik yang ada di dunia ini. Untuk aku tentunya." Tangan Dimas mulai meraih kepala Alora dan mengelus lembut rambut panjang Alora.
Detik berikutnya, Alora memeluk tubuh Dimas yang ada di depannya ini. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Dimas, kembali menangis di pelukan pria yang Alora sayangi ini.
"Dia nyakitin kamu?" tanya Dimas dengan nada lembutnya. Alora menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Dimas.
"Gak papa, Lora. Kalau dia nyakitin kamu, aku yang akan menyembuhkan kamu," sambung Dimas sembari membalas pelukan Alora.