TAKE IT OR LEAVE IT

TAKE IT OR LEAVE IT
Sisi Lain



Malam semakin larut


Jae-sung masih menunggu kedatangan kakaknya, didepan pintu.


Nin - ya : jae, apa kau tidak mengantuk? Ini sudah sangat larut...


Kata gadis kecil itu sambil menguap


Jae-sung : aku tidak mengantuk nin-ya, kau tidur saja... Biar aku menunggu kaka ku disini sampai dia datang nanti...


Jae-sung : mungkin dia terlambat karena telah berjanji akan membawakan ku nugget untuk kami makan malam bersama ... 😊


Alyana yang akan masuk ke kamar tidur nya, mendengar percakapan Jae-sung dan putri nya. Langsung menghampiri keduanya.


Alyana : hehh Jae-sung, sebaik kau tidur di sofa ruang tamu sana... dan berhenti mengatakan hal konyol, Karena kaka mu tidak akan pulang malam ini...


Jae-sung : tidak pulang???


Nin-ya : tapi kenapa kakak nya Jae-sung tidak pulang bu?


Alyana : kalian pikir aku tidak punya pekerjaan hingga harus tau segalanya!!


Mendengar nada tinggi alyana, kedua anak itu terdiam dan saling memandang.


Alyana : kenapa kalian saling melihat begitu? Aku tidak melakukan apa pun padanya! Dia sendiri yang menelpon pada ku tadi...


Jelas alyana


Nin-ya : tapi bu, Jae-sung belum makan apa pun malam ini... Dia menunggu kedatangan kaka nya untuk makan bersama, tidak bisakah kita berikan sedikit makanan untuk nya?


Alyana : nin-ya, apa kau sangat ingin kita kelaparan besok karena anak ini!!!


Bentak alyana dengan kesal.


Alyana : sudah terlalu baik kita berikan tempat bermalam, apa kita juga harus memberikan nya makan ?!!!


Jae-sung tertunduk mendengar perkataan alyana.


Alyana : dia tidak akan mati, hanya karena kelaparan 1 malam saja! Sekarang tidur lah, aku tidak punya banyak waktu untuk ini!


Mendengar penjelasan alyana, Jae-sung menatap nin-ya dan berkata.


Jae-sung : tidur lah nin-ya, ini sudah malam kau akan terlambat kesekolah besok jika tidak tidur sekarang...


Alyana : kau dengar? Anak itu saja lebih memahami apa yang harus kau lakukan... Sudah jangan bicara lagi, ibumu sudah sangat lelah... Aku harus beristirahat sekarang...


Alyana membawa nin-ya kekamar dan mematikan lampu ruang tamu, hingga disana tampak sangat gelap.


Hanya ada cahaya dari lampu jalan yang masuk lewat jendela ruang tamu itu, Jae-sung berjalan mendekat kearah jendela.



Dia menatap asal cahaya itu, sambil membayangkan wajah kaka nya dan nugget yang di janjikan.


Jae-sung : kaka, apa kau sedang bekerja begitu keras disana? Ini sudah sangat malam kak, dan aku sangat lapar...


Jae-sung memegang perut nya dan melihat sekitar. Dia melihat sebuah apel, yang tergeletak diatas meja.


Rasa lapar memaksa nya untuk mendekati apel itu, dengan tangan kecilnya. Dia mengambil apel itu dari meja dan mencium nya.


Jae-sung : kau pasti sangat manis, aku melihat mu sejak siang tadi... Aku melihat nin-ya memakan yang seperti mu. Andai aku bisa aku juga ingin mencoba mu sedikit...


Jae-sung tersenyum menatap apel ditangan nya, namun kemudian senyuman itu hilang saat menatap kamar alyana.


Dia meletakkan apel itu kembali ketempat nya.


Jae-sung : kau memang sangat cantik, tapi bibi tidak akan senang jika aku menyentuh mu.


Jae-sung : besok kau akan pergi dengan nin-ya kesekolah nya, ku tidak ingin dia sakit jika aku menyentuh mu. Karena kata bibi, anak yang tidak bersekolah hanya akan membawa penyakit dan aku tidak ingin membuat nin-ya sakit...


Jae-sung kembali mendekati jendela dan menatap cahaya lampu jalan kembali.


Jae - sung : kaka, cepatlah pulang...


Jae-sung memegang perutnya yang mulai berbunyi.


Jae-sung : aku tidak ingin lagi nungget, aku akan senang dengan apa pun yang kau berikan...


Air mata nya mengalir


Jae-sung : tapi tolonglah kembali...


Pintanya penuh harap.


Sementara, jauh dari gelap nya kesunyian. Kota seol malam itu terlihat sangat gemerlap di bawah cahaya lampu kota dan gedung-gedung tinggi yang menjulang kelangit.


Terlihat sebuah mobil mewah dengan kecepatan tinggi, melaju kencang di jalanan kosong menuju kesebuah perumahan mewah dan ternama di kota itu.


Mobil tersebut memasuki salah satu pekarangan rumah besar dengan gaya modern dan berhenti didepan pintu rumah nya.


Seorang pelayan berlari menghampirinya sambil membuka kan pintu mobil tersebut.


Pelayan : selamat datang kembali tuan


Pria tersebut melangkah keluar dari mobil. Tanpa mengatakan apa pun, dia mengabaikan orang yang menyambut nya dan akan memasuki rumah tersebut.


Saat dia akan melangkah dan naik anak tangga yang menuju kamarnya, seorang wanita paruh baya menegur nya dengan lembut.


Kim ji- won : nak, apa kau baru pulang?


Pria itu tak menjawab, dia mengabaikan perkataan wanita tersebut. Namun saat dia akan melanjutkan langkah nya, wanita tersebut berkata lagi.


Kim ji - won : makan lah dulu... Aku sudah memasak nya sendiri hari ini khusus untuk mu...


Dengan ketus pria itu menjawab


"aku tidak lapar"


Kim ji- won : kalau begitu setidaknya cicipi sedikit saja, aku memasaknya hanya untuk mu...


Lagi - lagi pria itu mengabaikan nya, bahkan tanpa menengok kebelakang. Dia terus melangkah hingga tiba-tiba, dia berhenti di tengah dan mengatakan sesuatu tanpa berbalik


"tidak perlu kau repot-repot melakukan nya lagi, berikan saja pada para pelayan atau anjing kita mungkin mereka akan menyukai nya"


Wanita itu belum sempat mengatakan apa pun lagi, tapi pria itu sudah pergi keatas dan memasuki kamarnya.


Terlihat jelas ada raut kesedihan dan rasa kecewa pada wajah wanita tersebut. Di hela nafas panjangnya dia menatap pada meja makan yang penuh dengan piring makan cantik dan berbagai macam sajian diatas nya.


Pelayan : nyonya, akan kita apa kan semua nya?


Kim ji-won : buang saja semua nya


Pelayan : tapi nyonya, sebanyak ini? Anda memasak semua nya sejak pagi dan penuh cinta lalu sekarang?


Kim ji-won : semuanya tidak lagi berguna sekarang, jangankan mencicipi nya. Putra ku bahkan tidak sedikit pun membalikkan badan nya untuk menatap wajah ibunya...


Sang pelayan merasa iba mendengar kan penuturan majikannya tersebut.


Kim ji-won : sekarang terserah kau saja, kau bisa mengambil nya jika mau. Aku ingin istirahat dulu


Pelayan : baik, nyonya