
Beberapa hari telah berlalu, waktu acara semakin dekat. faila sudah mencoba melamar pekerjaan di beberapa cafe namun memang tak ada yang menerima nya karena saat itu perekonomian korea sedang tak stabil.
Hingga banyak karyawan yang di berhenti kan sepihak, demi mempertahankan jalan nya usaha.
Malam itu faila telah menidurkan Jae-sung, dia sedang melihat kearah langit-langit malam dan memikirkan nasib nya. Disaat itu neisya datang membawa kan nya secangkir kopi.
Neisya : kopi?
Faila : terima kasih
Faila tersenyum menyeruput kopi tersebut dan kembali memandang langit-langit yang kosong tanpa bintang malam itu.
Neisya : faila, kau sudah melakukan yang terbaik yang kau bisa. walaupun semua nya tak berjalan sesuai rencana mu... Tapi itu bukan kesalahan mu
Faila : aku tau neisya, karena itu aku sangat bingung sekarang sudah 5 hari aku berusaha namun tak membuahkan hasil....
Neisya menggegam tangan faila berusaha menguatkan nya.
Faila : aku sudah berhutang banyak pada mu
Faila menatap wajah sahabat nya itu.
Faila : kau telah memberikan tempat kami tinggal dan makanan secara cuma cuma, tak semua orang bisa melakukan nya apa lagi pada orang asing..
Neisya : kau dan Jae-sung bukan orang asing bagi ku, dalam dunia yang kelam jika kita tidak saling mendukung, pada siapa kita akan meminta tolong? Dari pada memberikan air pfa orang seperti kita, orang-orang akan lebih memilih untuk membantu anjing dijalanan...
Faila menghela nafas panjang ketika neisya mempererat genggamannya.
Neisya : faila tolong ikut lah bersama ku lusa, jangan khawatir mengenai Jae-sung ini hanya untuk 2 hari....
Faila : neisya kau tau kan Jae-sung...
Neisya : aku juga memikirkan nya, aku sudah mengatakan pada du-han (pelayan pulang - pergi) untuk menginap beberapa hari selama kita pergi...
Faila : neisya, tidak mungkin untuk ku meninggalkan Jae-sung dengan orang asing setelah apa yang alyana lakukan...
Neisya : bukan kah kau juga bepergian beberapa hari ini? Untuk mencari pekerjaan? Kau meninggalkan nya bersama ku?
Faila : neisya
Neisya : faila, mungkin kau akan melihat ku sebagai orang yang memaksa mu... Tapi aku ingin pasti kan kesempatan ini tidak akan datang lagi 2 kali, ini waktu yang tepat...
Faila menatap wajah neisya yang begitu serius mencoba membuat nya mengerti, dari cara nya menjelaskan faila melihat ketulusan dimata nya.
Neisya : aku sangat ingin melihat mu dan Jae-sung maju, aku sangat ingin melihat mu memiliki kehidupan yang mandiri...
Neisya mulai meneteskan air matanya, menelihat itu faila mendekat dan membantu sahabat nya untuk tenang.
Neisya : dunia ini tidak sebaik itu faila, kau tidak tau hal terburuk yang bisa direnggut dari mu hanya karena kau miskin...
Faila : apa maksud mu?
Neisya melihat kearah sebuah foto dimana ada seorang anak perempuan berusia 2 tahun.
Faila : itu?
Neisya : dia putri ku...
Pernyataan neisya sontak membuat faila begitu terkejut, Neisya bangun mengambil foto tersebut dan memberikan nya pada faila.
Faila : kau sudah menikah?
Neisya mengaguk
Faila : lalu dimana suami mu? Dan kenapa kau disini?
Neisya : sudah ku bilang kan, dunia ini tak mudah kadang jalan nya tak sesuai yang direncanakan. Suamiku neron seorang tentara, dia pria terbaik dan manis yang pernah ku temui didesa ku.
Faila mulai membenarkan posisi duduk nya menunjukkan bahwa ia sudah siap mendengarkan.
Neisya : neron, dia tak pernah peduli jika aku berasal dari keluarga miskin. Baginya asalkan kita saling mencintai, kita bisa membangun segalanya dari awal. 2 tahun pernikahan kami akhirnya aku hamil, saat itu sangat bahagia tapi juga sedih keadaan rumania tidak baik karena perang antar negara sementara neron harus maju keperbatasan.
Faila : lalu apa yang terjadi?
Neisya : neron pergi untuk membela negaranya, dia pergi dan berjanji akan membawa keamanan bagi negaranya dan bayi ku. Beberapa bulan kemudian perang telah usai, negara kami menang dan kembali aman. Neron telah memenuhi janjinya untuk memberikan keamanan tapi ....
Neisya berusaha mengatur nafas dan emosi nya sebelum melanjutkan perkataan nya.
Neisya : dia tidak pernah kembali setelah hari itu....
Faila : neisya apakah?
Neisya : ya faila suami ku meninggal dimedan perang, dia berusaha melakukan tugas nya dengan baik demi negara dan keluarga nya hingga dia lupa bahwa kami menunggu nya dirumah...
Air mata neisya terus mengalir, faila memberikan tisyu didekat nya.
Neisya : terimakasih
Faila : maaf aku tak bermaksud...
Neisya : ini bukan masalah sudah begitu lama aku butuh seseorang untuk bercerita seperti pada mu...
Faila : neisya kau wanita yang sangat kuat dan baik hingga bisa melalui segalanya...
Neisya : aku mungkin kuat faila, tapi tidak baik. Karena jika ya putri ku pasti masih akan hidup sampai hari ini...
Mendengar itu mata faila seketika terbelalak tak percaya apa yang dikatakan oleh neisya.
Neisya : setelah suami ku meninggal, aku melahirkan bayi ku dalam kemiskinan. Saat itu ayah dan ibu ku tinggal di tempat yang jauh dalam kondisi yang lemah dan tak memiliki uang, tidak mungkin bagi ku menghampiri mereka.
Neisya : jadi aku memutuskan untuk melahirkan dan membesarkan bayi ku sendiri tahun pertama bantuan pemerintah datang bagi mereka janda yang di tinggalkan oleh suami mereka yang berperang. Tapi pada tahun kedua...
Neisya : ada wabah yang datang yang menyerang negara kami, karena itu aliran dana di berhenti dan di alihkan untuk membangun rumah sakit. Saat itulah kami mulai kekurangan, aku berusaha berlari kesana - kesini untuk apa pun yang bisa diberikan pada putri ku. Tapi seakan tuli mereka hanya melewati kami tanpa sedikit pun melihat kearah ku yang memohon di jalan - jalan...
Faila : neisya, maaf tapi apakah putri mu...
Neisya : ya faila, dia meninggal dunia dalam pelukkan ku... Semenjak hari itu, aku bersumpah untuk menjadi begitu kaya dan berkuasa agar tak ada yang meremehkan ku lagi apa pun caranya...
Faila menatap bingung, tapi neisya maju dan mendekat.
Neisya : saat aku melihat mu, aku melihat diri ku yang dulu... Jae-sung mengingat kan ku pada aghata, faila aku mengatakan nya karena aku tidak ingin kau merasakan yang ku alami percaya lah aku tidak memiliki sedikit pun niat buruk pada mu...
Faila : baiklah neisya
Tiba-tiba faila menggegam tangan neisya dan menatap nya dengan keyakinan.
Faila : aku akan ikut bersama mu...