TAKE IT OR LEAVE IT

TAKE IT OR LEAVE IT
Teman



Malam begitu gelap, tak ada satupun bintang yang menghiasi langit saat itu.


Namun kota itu tetap terlihat indah dari kejauhan, cahaya dari gedung-gedung pencakar langit juga lampu - lampu jalan yang begitu terangnya seakan menandakan kota itu tak pernah tertidur walaupun untuk sesaat.


Jeon Jungkook seorang pria dengan setelan jas abu sedang menatap kosong ke langit - langit malam itu dari lantai 30 tempat nya memimpin perusahaan.


Jungkook : entah apa yang harus ku lakukan...


Gumam nya dalam lamunan ketika suara ketukan pintu terdengar dan seorang wanita memasuki ruangan tersebut.


Sekretaris : permisi tuan... Saya ingin menyerahkan berkas hasil kesehatan dan pemeriksaan siang tadi...


Tanpa bebalik jungkook menjawab


Jungkook : letakkan saja di meja kerja ku...


Tanpa banyak bicara, wanita itu segera melakukan perintah jungkook. Sudah 3 tahun dia wanita itu bekerja padanya, dia hapal betul apa yang harus dilakukan dan bagaimana dia harus bersikap di hadapan nya.


Sekretaris : tuan jika sudah tidak ada lagi yang harus saya lakukan, apakah saya bisa pulang sekarang?


Jungkook : pergilah, aku tidak membutuhkan apa pun lagi...


Sekretaris : baik tuan, selamat malam...


Kini wanita itu telah pergi meninggalkan ruangan, kini hanya tersisa jungkook seorang disana. Begitu banyak hal dalam pikiran nya, terutama mengenai tanggung jawab ribuan karyawan yang telah lama bekerja padanya.


Pasalnya siang itu jeon Jungkook baru saja memecat 200 karyawan nya dari berbagai cabang, karena salah satu kerja sama mereka berhenti akibat dari salah satu investor nya menghentikan aliran dana untuk proyek tersebut.


Jungkook : jika aku tidak segera menyelesaikan masalah ini, aku dan jimin bisa kehilangan segala yang telah kami bangun...


Jungkook menghela nafas panjang ketika ia berbalik melihat berkas hasil pemeriksaan yang berada di atas mejanya.


Jungkook mendekat dan membuka hasil pemeriksaan medis yang menyatakan wanita itu sehat dan bersih dari segala macam obat ataupun peryakit menular.


Saat jungkook akan membuka dan membaca latar belakangnya, ketika itu juga handphone nya berbunyi.


Jungkook : jimin?


Jungkook langsung mengakat telepon tersebut.


Jungkook : halo...


Jimin : bagaimana hasilnya?


Jungkook : semuanya bersih


Jimin : itu bagus, artinya kau bisa segera mengatur segalanya untuk kerja sama kalian


Jungkook : tapi jim, jika aku meminta pengacara ku untuk mengatur kontrak ini bisa saja sewaktu-waktu dia berkhianat dan membocorkan segalanya kan?


Jimin : jangan khawatir kan itu, aku sudah siapkan segala nya. Orang ku sudah mengurus semuanya dengan cepat...


Jungkook : baiklah jim, kau bisa mengirimkan berkas itu keruangan besok


Jimin mendengar adanya nada penyesalan disana.


Jimin : hey brother, jangan bersikap seperti itu. Aku tidak menyalahkan mu dalam hal ini, untung dan rugi dalam usaha merupakan hal yang biasa bukan?


Jungkook : untung dan rugi memang hal yang biasa, tapi kerugian kita kali ini karena masalah pribadi ku. Aku selalu memperingatkan mu soal reputasi di hadapan publik tapi kenyataan nya aku sendiri?


Jimin : itu bukan kesalahan mu jung, ini adalah resiko bisnis. Semakin kita berada diatas maka akan semakin besar terjangan nya... Jadi santai saja....


Jungkook yang masih merasa tak enak lebih memilih untuk diam.


Jimin : sudahlah jung, kontrak itu hanya bernilai 87 Miliar kita pasti akan mendapatkan lebih setelah masalah ini selesai nanti nya.


Jungkook : ini bukan soal uang


Jimin : lalu?


Jungkook : ini soal 200 karyawan yang sudah percaya dan bekerja begitu keras 3 bulan trakhir ini untuk kelangsungan proyek tersebut.


Jimin terdiam mendengar kan perkataan jungkook.


Jungkook : untuk itu kerugian itu bukan apa-apa karena proyek lain yang masih berjalan. Perlahan akan menutup dana yang telah kita keluarkan untuk proyek tersebut.


Jimin memahami akan kearah mana pembicaraan jungkook.


Jungkook : tapi para pekerja itu berbeda jim, mereka menggantung kan seluruh keberuntungan mereka dan dedikasi serta semua waktu mereka pada proyek tersebut.


Jimin mulai menarik nafas nya, bersiap akan ledakan emosi yang terjadi selanjutnya.


Jungkook : dan sekarang!!! Karena berita sialan yang tak bertanggung jawab ini aku terpaksa harus memberhentikan segala nya!!! Hanya karena berita tak berdasar tersebut!!!


Luapan emosi dalam setiap perkataan jungkook membuat nya menyadari bahwa jungkook tak sedang berada dirumah nya.


Jimin : apa kau masih dikantor?


Jungkook : aku baik-baik saja


Jimin : aku kesana sekarang, kau tunggu lah


Jungkook : tidak jim, aku akan pulang sebentar lagi...


Jimin : aku tau kau jung, kau tak akan pulang jika harus membawa kesedihan di hadapan ibu mu...


Jungkook : tidak jim, aku akan bermalam di apartemen pribadi ku malam ini...


Jimin : baiklah, besok aku akan meminta sekretaris ku untuk menghubungi neisya dan mengatur pertemuan kalian


Jungkook : itu terserah kau saja, aku hanya ingin segalanya cepat berakhir....


Jimin : besok aku akan kabari tanggal dan waktu nya, selamat malam...


Jungkook : malam...


Panggilan telah diakhiri, jungkook segera mengambil kunci mobilnya dan pulang ke apartemen pribadinya.


Hari telah berganti pagi, di rumah neisya terlihat Jae-sung yang sedang berusaha menghabiskan sarapan nya dengan cepat.


Neisya : Jae-sung jika kau tidak ingin terlambat kau harus mencoba melakukan nya lebih cepat...


Jae-sung : aku... Sudah... Berusaha... Bibi...


Melihat mulut Jae-sung yang penuh membuat neisya tertawa saat dia berbicara.


Faila : sudah - sudah... Mobil jemputan mu sudah datang, besok pagi kau harus bangun lebih pagi...


Kata faila sambil membantu Jae-sung memakai kan tas sekolah nya.


Jae-sung : baik kak


Faila mencium kening adik nya dan menatap nya dengan senyuman.


Faila : belajar lah yang rajin dan bersikap lah baik pada guru mu.


Jae-sung mengangguk dan mencium pipi faila singkat.


Jae-sung : aku sayang kaka...


Faila tersenyum mendengar perkataan adik kecilnya itu.


Jae-sung : daaaa bibi neisya, daaaa kaka...


Katanya sambil berlari menuju jemputannya. Faila berdiri dan membantu neisya merapikan meja makan itu.


Faila : dimana duhan (pelayan) ?


Tanya faila sambil membatu neisya merapikan piring - piring di meja makan.


Neisya : ibu nya sakit, dia mengambil libur hari ini...


Faila : okey, kalau begitu kita akan membersihkan rumah bersama hari ini...


Faila tersenyum membawa piring - piring itu kebelakang untuk di cuci, ketika neisya memeriksa hp nya yang bergetar sejak tadi.


Neisya : panggilan tak terjawab 2 kali??? Nomor tak dikenal?


Selain panggilan neisya juga melihat sebuah pesan, tanpa ragu dia langsung membukanya.


" Selamat pagi, saya jin-na disini untuk memberi tahu bahwa nona faila diminta untuk datang ke alamat ******** pada jam 13. 00 siang ini untuk bertemu tuan jeon. Terima kasih..."


Neisya : ya tuhan ini tidak mungkin


Neisya yang sangat terkejut hingga menjatuhkan telepon genggam yang di pegang nya membuat faila buru - buru menghampiri nya.


Faila : ya ampun neis, kau kenapa?


Faila mengambil handphone yang terjatuh tersebut dan memberikan nya pada neisya.


Faila : kenapa kau ceroboh sekali..


Seketika neisya menggegam lengan faila kuat.


Faila : heyyy ada apa?


Neisya : faila... Dia ingin bertemu dengan mu!!


Faila : siapa?


Neisya : tuan jeon


Faila : apa!!!!