
Kota Seoul sedang di hiasi banyak ornamen natal hari itu, gereja - gereja di isi dengan nyanyian yang meriah dan indah. Begitu juga dengan mall dan banyak restoran, seperti salah satu restoran yang kunjungi faila dan Jae-sung di siang itu.
Faila : bagaimana? Apa mau tambah lagi?
Jae-sung meletakkan kedua sendok dan garpu nya di atas piring, dia mulai merebahkan tubuh nya pada kursi tersebut.
Jae-sung : aku tak sanggup lagi kak, rasanya isi perut ku bisa keluar...
Faila tertawa mendengar perkataan jujur adiknya itu, bagaimana tidak siang itu faila hampir memesan setengah menu di tempat itu jatah yang harus nya bisa dimakan 7 sampai 8 orang dewasa di sajikan hanya untuk mereka berdua.
Faila : baiklah jangan makan lagi
Ucap faila di barengi senyuman yang menghiasi wajah nya, hal itu jelas membuat kebingungan di wajah Jae-sung yang membuat nya memajukan badannya seketika.
Jae-sung : kaka tidak marah?
Faila : tidak, kenapa harus marah?
Jae-sung : tapi kak bukannya kaka tidak suka jika aku tidak menghabiskan makanan ku?
Faila : itu bukan lagi masalah, sekarang kaka memiliki banyak uang. Jadi membuang makanan dan membeli nya lagi nanti bukan hal yang sulit...
Jae-sung semakin kebingungan menatap kaka nya, lalu melihat semua makanan yang masih tersaji rapi di meja.
Jae-sung : kaka akan membuang semua nya?
Faila : bukan kaka tapi para pelayan itu, jika kau mau kita bisa pergi sekarang...
Jae-sung : tapi kak... Sebanyak ini?
Faila melihat keraguan di wajah Jae-sung untuk meninggalkan makanan - makanan itu.
Jae-sung : tidak kak, kita boleh meninggalkan mereka. Kita harus membawanya bersama kita...
Faila mendekatkan wajahnya kearah Jae-sung sambil menunjuk banyak nya belanjaan mereka di hari itu.
Faila : lihat, tidak ada ruang jika kita membawanya... Kaka harus membawa semua belanjaan mu hari ini dan koper mu kan untuk liburan kita?
Jae-sung tetap merasa tidak puas dengan jawaban faila dan melihat kearah sebrang restoran melalui kaca restoran tempat nya duduk.
Jae-sung : kaka aku tau...
Katanya dengan kegembiraan
Faila : ada apa?
Jae-sung : jangan buang makanan ini, kita bawa saja...
Faila : tapi untuk apa? Dan bagaimana kita akan membawa nya
Jae-sung : aku akan membantu kaka
Faila : tidak Jae-sung, itu sangat berat bagaimana kau akan membawanya?
Jae-sung : hanya sebentar, aku bisa membantu kaka...
Faila melihat kearah Jae-sung seakan meminta penjelasan, tapi Jae-sung segera menumjuk kearah bangunan di seberang restoran tersebut.
Jae-sung : lihat kak, disana ada panti asuhan...
Faila melihat kearah bangunan yang di tunjuk oleh Jae-sung dan kembali melihat kearah adik nya itu.
Jae-sung : kita bisa memberikan makanan ini kesana kan dari pada membuang nya?
Faila hanya terdiam menatap adiknya yang begitu antusias.
Jae-sung : aku hanya menyentuh nasi goreng kimchi dan salad nya, aku tidak menyentuh yang lainnya. Lihat kak semua nya masih sangat rapi baru bahkan kaka sendiri tidak makan apa pun... Ini masih layak kan kak jika kita berikan?
Air mata faila menetes di kala itu, dia tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan nya dari adik kecil nya itu.
Jae-sung : kaka? Ada apa?
Tanya Jae-sung khawatir
Jae-sung : apa aku menyakiti perasaan kaka?
Faila mencoba mengendalikan perasaannya, tapi tiba - tiba Jae-sung meninggalkan kursinya dan memeluk faila yang masih terduduk di sofa.
Jae-sung : kaka tolong maafkan aku, jika yang ku katakan menyakiti hati kaka. Aku minta maaf...
Perkataan Jae-sung membuat faila semakin merasa bersalah, mengingat rencananya membawa Jae-sung ketempat itu.
Jae-sung : kaka, jika memang kaka tidak ingin membawanya baiklah... Tapi berikan saja pada pelayan disini karena aku tidak tega membuang makanan sebanyak ini kak...
Faila segera menghapus air matanya dan melepaskan pelukan Jae-sung.
Faila : jangan minta maaf, kaka tidak menangis karena Jae-sung melakukan kesalahan... Tapi kaka justru bangga, karena adik kecil kaka sekarang mulai dewasa...
Jae-sung merasa senang dengan pujian dari kakaknya, faila segera berdiri dan meminta pelayan untuk membungkus semua makanan itu.
Dengan begitu bahagia nya Jae-sung membawa beberapa bungkus makanan di tangan nya. dia membawa masuk makanan - makanan itu ke panti diantar seorangpun pengurus.
Pengurus : nona...
Ucap nya menyadarkan faila dari lamunan nya.
Pengurus : maafkan saya, apakah anda nona faila?
Faila hanya mengaguk saat wanita itu berkata lagi.
Pengurus : nona staff tuan ling telah menghubungi kami, berkat anda panti kami mendapatkan sumbangan cukup besar tahun ini... Terimakasih
Faila masih terdiam, dari kejauhan dia menatap Jae-sung yang begitu senang membagikan makanan di tangannya pada anak - anak panti.
Pengurus : nona tenang saja kami pasti akan mengurus nya seperti putra kami sendiri...
Faila : aku tau, tapi tetap saja tidak mudah bagi seorang kaka untuk meninggalkan adiknya walaupun itu adalah surga sekalipun.
Air mata kembali mengisi penuh di pelupuk mata faila.
Faila : tolong jaga dia dengan baik, untuk semua pakaian dan alat - alat sekolah nya sudah berada di dalam koper ini...
Faila memberikan koper dan beberapa kantong belanja pada wanita tersebut.
Pengurus : baik nona, apa ada lagi...
Faila menggeleng
Faila : tidak itu saja...
Pengurus memahami arti perkataan faila dia memberikan kode pada teman nya yang berada disamping Jae-sung, saat faila berbalik akan pergi.
Jae-sung melihat nya akan pergi menaiki taxi yang baru saja di berhenti kan.
Jae-sung : kaka!!!!! (teriaknya)
Melihat tak ada respon, Jae-sung berlari ingin menghampiri faila. Tapi para pengurus itu dengan cepat memeluk nya berusaha menghentikan nya.
Jae-sung : kaka!!!!!! Kaka!!!!! Aku masih disini!!!! Kaka!!!
Teriakan Jae-sung terdengar jelas di telinga faila namun ia tak memiliki keberanian untuk berbalik melihat mata adik nya.
Jae-sung : kaka!!!! Aku masih disini!!! Kaka!! Apa kau lupa!! Aku masih disini!!!
Para pengurus berusaha menenangkan nya namun Jae-sung mulai menangis memohon agar mereka melepaskan nya.
Jae-sung : tolong lepaskan!!! Aku ingin bersama kaka ku!!!
Pengurus : tidak Jae-sung dengar lah kaka mu hanya pergi untuk beberapa urusan sebentar, dia akan menjemput nanti (ucapnya lembut)
Jae-sung : tidak!!! Aku mau bersama kaka ku!! Aku tidak mau bersama kalian tolong lepaskan aku!! Kaka!!!
Faila yang tidak tahan segera membuka pintu taxi tersebut dan akan masuk kedalamannya ketika Jae-sung berteriak.
Jae-sung : kaka!!! Tolong jangan tinggalkan aku!!! Aku berjanji tidak akan membantah atau menyusahkan kaka lagi!!! Tolong kak aku tidak mau disini!!
Dalam tangisan nya Jae-sung memohon dan berharap kaka nya kembali, hati faila begitu hancur. Dia memasuki taxi dan meminta taxi untuk segera berjalan meninggalkan tempat itu.
Jae-sung berusaha melawan dan memberontak sekuat yang ia bisa namun semua nya sia-sia, perlawanan nya tak sebanding dengan para orang dewasa yang mendampingi nya.
Sementara di dalam taxi faila tak bisa berhenti menangis, dia terus mengutuk perbuatan nya dan semua yang baru saja ia lalui.
Hingga tiba-tiba mobil taxi itu berhenti disebuah perempatan jalan karena lampu merah, dan faila melihat seorang anak laki-laki berusia 14 tahun sedang di pukuli oleh seorang pria dewasa.
Faila yang mengingat keadaan adiknya seketika meminta supir taksi itu untuk menolongnya.
Faila : pak bisakah anda menepi lebih dulu, seperti nya anak itu butuh bantuan...
Supir taksi itu hanya melihat sekilas lalu kembali menatap jalan di hadapan nya.
Supir : memang nya apa yang mau nona lakukan? Hal seperti itu biasa terjadi dijalan kan?
Faila : ya tapi kekerasan seperti itu tidak bisa didiamkan, seorang anak berhak untuk mendapatkan perlindungan bukan pembelaan.
Faila akan membuka pintu taksi ketika ia mendengar supir itu berkata.
Supir : berpura-pura peduli dengan orang lain tapi membuang anaknya sendiri di panti... Memang sekarang dunia sudah terbalik banyak yang peduli pada orang asing tapi melupakan keluarga sendiri...
Mendengar itu seketika faila terdiam dan mengurungkan niat nya untuk pergi.
Supir : maafkan saya nona, saya tau anda akan berpikir saya kejam. Tapi jika saya tidak segera menyelesaikan pekerjaan saya mengantar penumpang sampai tujuan, pasti saya akan mendapatkan teguran dari atasan. Lalu bagaimana dengan istri dan anak saya? Apa mereka harus kelaparan karena saya membantu anak orang yang tidak saya kenal itu...
Ucapan supir itu seperti tamparan besar bagi faila, garis kemiskinan terkadang mengambil akal sehat dan rasa empati seseorang. Rasa takut akan kelaparan jauh lebih menakutkan daripada sebuah kematian.
Lampu merah telah berganti hijau mobil kembali berjalan dan pemandangan yang sejak tadi di lihat nya mulai berlalu.
Dalam diam nya faila berkata didalam hati.
"aku tidak boleh membuat skandal atau berurusan dengan masalah apa pun, jika aku gagal maka semua perjuangan ku akan sia - sia. Tujuan ku hanya mendapatkan uang itu untuk kehidupan yang lebih baik bersama Jae-sung, tapi sebelum itu aku harus menutup pada dari sekitar ku dan hanya fokus pada kontrak itu "