Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 9. Permainan Angka



Antony, peserta nomor satu desain grafis. Ia sudah mengajak seluruh kawan desain ikut jurit malam dadakan bersamanya, tapi yang merespon hanya Xabil.


Baginya, melakukan aksi nekat seperti ini adalah kesempatan yang amat sangat langka, apalagi, mengingat perbedaan usia yang beragam di antara mereka. Jurit malam bersama para orang tua, cukup seru bukan? Jadi, sudah pasti, agenda malam ini akan selalu diingatnya.


Antony mengacungkan jempol kanan ke Xabil, yang bertugas memantau dari belakang, selagi dirinya memimpin pasukan di garda depan.


Sekitar sebelas orang berbaris dibelakang Antony, mengendap-endap menuju belakang gedung utama. Mereka merunduk, menghindari kaca jendela. Tapi tetap saja, langkah kaki mereka cukup berisik untuk membangunkan perempuan desain yang masih berusaha tidur sehabis membahas kejadian kemarin malam.


“Saf…” bisik Laras.


“Saf…!” bisiknya lagi meninggikan intonasi.


Safira bangkit dari kasurnya, “Akh! Siapa sih?!”


“Grusak-grusuk daritadi!” pekiknya lagi, menyadari kejanggalan yang dirasa horor oleh Laras.


Tiba-tiba senyap. Laras tambah ketakutan dan spontan memeluk Safira erat. Kedua orang ini lalu membangunkan tiga orang lainnya, yang kebetulan masih terjaga juga.


“Shhhtttttt….!” Antony meletakkan telunjuk kanan di depan mulutnya, memberi isyarat agar pasukan jurit itu berhenti sejenak.


Di sisi dinding yang lain, Mita juga melakukan hal yang sama, menyuruh keempat kawannya merunduk menjauh dari jendela dan mengimbangi suara langkah kaki di luar gedung utama.


“Masa sih, hantu la-“ bisik Kiki terputus, Mita memberi kode dengan lirikan mata ada orang di luar gedung ini, bukan hantu.


Antony kembali meminta pasukannya melanjutkan operasi sampai berhenti di bawah jendela yang langsung mengarah ke toilet gedung utama.


“Bener kan, disini?” Ia bertanya ke salah satu saksi, yang kemudian dijawab dengan anggukan. “Kamu. Cepetan.” bisiknya memberi titah.


Mereka saling melirik dan melempar pandang, tidak ada yang berani sekedar mengintip ke dalam. Xabil pun dengan gagah berani mendekati Antony dan langsung berjinjit dari bawah jendela. “Ton, kosong…”


Kelima sekawan – Mita and the gang – berusaha memahami apa yang sebenarnya para lelaki itu sedang lakukan. Dari bisikan mereka, Mita pun bisa menebak. Lalu, matanya melirik Niki.


Niki kebingungan, Safira berbisik menjelaskan situasi, “Kamu disangka hantu.”. Mereka kembali diam, menyimak apa yang direncanakan kaum adam berikutnya.


“Kita hom pim pa. Yang paling pertama keluar dapat giliran paling terakhir. Otomatis yang kalah, jadi yang pertama buat ngelihat hantu secara langsung.” ide Antony benar-benar memacu adrenalin. Dua belas pria ini mau tidak mau, harus ikut. Antara rasa takut dan harga diri dipertaruhkan saat ini.


Mereka mulai memainkan hom pim pa.


“Satu!” Antony keluar dari permainan dan menunggu mereka lanjut sampai menyisakan dua pemain.


“Dua!” teriak salah satu peserta otomotif.


“Tiga!” , “Empat!” , “Lima!”


Satu per satu pasukan berbaris di depan Antony. Permainan ini semakin memanas, peluh yang turun menambah ketegangan di antara mereka. Atmosfer sunyi dan senyap, suara angin merayu rumput, lalu tiba-tiba ada yang sakit perut. “Aku nggak tahan lagi! Aku nggak ikutan.” Ia melambaikan tangan dan kembali ke aula.


“Ah, nggak seru.” sahut Antony kecewa. “Kami juga, nggak ikutan.” tiga peserta lain pun sama. Kini, sisa delapan pemain di bawah jendela.


Di balik dinding, kelima sekawan menahan tawanya agar tidak meledak. Sungguh menggelikan, tingkah mereka seperti bocah SD saja. Boys will be boys.


Dan akhirnya, meledak juga. Bukan suara tawa kelima sekawan, melainkan sebuah gas hasil sisa pembusukan sistem percernaan Safira.


“Sorry.. udah nggak tahaaan…”


Aroma unik dan asing menyerebak di toilet. Mereka mendapat jatah telur rebus siang tadi, selamatkan hidung!


“Kelamaan. Aku aja yang duluan.” pungkas Antony mempercepat operasi. Ia kemudian berjinjit dan mencongkel kusen jendela. What a timing.


“Busuk!” ucap Antony dengan ekspresi mau muntah.


Melihat reaksi Antony, spontan semua pasukan meninggalkan Xabil di bawah jendela. “Wewe gombel!”


“Malah kabur…”


Mengira para bocah itu sudah pergi, kelima sekawan pun berdiri sambil melenggang santai ke kasur mereka.


“Lho, Niki?!” Xabil menegur dari balik jendela. “Kalian rupanya?!”


Safira mengomel, “Ngapain tengah malam ke toilet cewek? Mau ngintip, kan? Ngaku!” Ia menyeringai.


Antony, si pengamat. Matanya benar-benar tajam memperhatikan mimik seseorang. Meski kecanduan hal-hal mistis, otaknya tetap berpikir logis. Barusan, pasti bukan aroma hantu, melainkan “Safira! Ah bukan, Sapi’i!”


Tanpa ragu sedikit pun, Ia menuding Safira sebagai pelaku, terang-terangan. “Dasar Sapi’i!” tuduhnya sekali lagi. Seketika semuanya tertawa terpingkal-pingkal.


...∞...


Subuh menjelang pagi. Tujuh peserta desain grafis terlihat seperti zombie. Mata merah berkantung, pipi kendur keriput, dan nampak lesu. Rahang Mita kebas, sulit digerakkan, Laras sibuk menguap di kursinya.


Ibu rambut singa masuk ke dalam aula. “Baiklah, akhirnya hari ini terakhir masa orientasi, ya. Kegiatannya sampai jam dua belas siang. Kalian boleh pulang setelah dhuhur.”


Banyak peserta senang mendengar pengumuman ini. Sebagian lagi merasa kecewa, termasuk Niki.


“Hoaam… babu lagi, babu lagi.” sahut Laras di kursi.


Diantara peserta yang melangkah penuh semangat, ada tujuh orang yang melenggang malas terseok-seok.


Sambil berjalan, mereka juga menceritakan kejadian semalam ke peserta desain yang penasaran. Ryan salah satunya. Ketua kelas satu ini tidak mau mendapat masalah lagi seperti kemarin, tiba-tiba ada anggota yang jatuh pingsan.


Peserta pelatihan sampai di lapangan dan berbaris per jurusan. Masing-masing ketua kelas mengabsen anggotanya dan melaporkan ke Pak Tentara.


“Saya punya games hari ini. Games sederhana.” Laras seketika berhenti menguap. Langsung semangat dan penasaran, games sederhana seperti apa maksudnya?


“Kalau saya bilang tiga! Kalian harus membentuk kelompok yang beranggotakan tiga orang. Kalau saya teriak enam! Kalian harus bikin kelompok enam orang. Mengerti?!”


“Siap, mengerti!”


“Jelas?!”


“Siap, jelas!”


Tanpa percobaan, Pak Tentara langsung memulai permainan. “Lima!”


“Yes!” teriak lima sekawan, Niki, Safira, Mita, Laras, dan Kiki.


Wijaya dengan mode paginya – cowok dingin – malah nyasar ke kelompok otomotif. Pak Tentara puas dengan hasilnya, dengan begini, para peserta pelatihan tidak akan canggung selama sebulan ke depan.


“Tiga!”


Kelima sekawan itu terbagi dua. Safira dan Niki kekurangan satu anggota. Safira kemudian melihat Wijaya yang celingak-celinguk seperti anak hilang.


“Sini!” sial, hujat Niki dalam hati. Safira dengan ramahnya mengajak Wijaya satu tim. Lelaki itu berjalan dari seberang ke arah mereka berdua.


Atmosfer di lapangan seketika berubah. Safira merasakan getaran hebat dari bawah tanah. Sepertinya, inti bumi baru saja pindah di bawah kakinya. Lalu Ia sadar, kedua mata yang saling menatap satu sama lain saling tarik-menarik seperti magnet. Si kanguru betina dari kutub selatan, bertemu pangeran es dari kutub utara.


Sebenarnya, Safira tidak habis pikir sosok sedingin Wijaya mau menghampiri mereka. Ia beruntung, lelaki itu menyelamatkan mereka dari hukuman tiba-tiba yang Pak Tentara berikan.


“Harusnya, kalau mau ngasih hukuman, semua peserta dikumpulkan dulu dari setiap babak. Biar nggak ngerasa sendiri.” ujarnya yang kini berdiri di sebelah Niki.


Safira menyimak dari belakang. Ketahuan sekali, Niki memiliki perasaan ke Wijaya. Gelagatnya sejak kejadian di masjid seperti orang yang berbeda, yang biasanya suka memperhatikan orang berbicara, tiba-tiba kaku, enggan melihat lawan bicaranya. Kali ini pun, gadis kanguru itu berhenti melompat, malah diam di tempat.


“B-bener.. Nggak nyaman tau jadi pusat perhatian orang asing, apalagi sendirian.” jawab Niki kaku.


“Kayaknya bakal seru, nih.” tutur Safira dalam hati.


Ia memperhatikan keadaan peserta desain yang lain, siapa tahu ada yang kena hukuman. Tapi, yang Ia dapati malah ekspresi muram Xabil dan Laras di barisan.


Sedetik kemudian, matanya malah beradu tatap dengan mata Antony. Lelaki menyebalkan itu tertangkap basah telah memantau mereka sejak tadi.


Sepuluh menit sebelum kembali ke aula, Antony menghampiri Safira, “Kamu lihat, kan?”


“He-em. Emang kenapa?”


“Mau bantu mancing, nggak?”


Safira berdecak, “Kurang kerjaan.”


“Seru tahu!” seru Antony. “Kapan lagi dapat tontonan drama live selama satu bulan? Lagian ya, aku yakin, ada sesuatu antara si patin dan si manusia dingin itu.”


“Ya udah, kamu aja sana. Aku mau fokus pelatihan.” Safira bersedekap dada, “Males banget buang waktu nggak jelas.”


“Yakin?” mimik Antony memancingnya agar setuju. Safira mengernyitkan dahi, “Ada sesuatu katamu?”


“Serius!” Antony mulai mempengaruhinya.


“Wijaya dan Niki itu, aku yakin ada sesuatu di antara mereka.”


“Lalu…” matanya tambah melotot, meyakinkan Safira agar termakan bujukan. “Ada tiga orang yang terlibat dalam sesuatu ini. Xabil, Laras, dan Bang Ryan.”


“Bang Ryan?!” Safira terkejut, “Kok tiba-tiba ketua kelas?”


“Selama Wijaya ngobrol dengan Niki tadi, Bang Ryan nanyain terus. Katanya, memangnya, Wijaya dan Niki sedekat itu, ya? Habis itu, tatapannya nggak pernah lepas dari Niki. Kayak mau nerkam.”


“Lebay!” Safira menjitaknya.


“Serius..! Udah, kamu cukup mancing Niki buat bicara. Sisanya, biar aku yang berencana.”


Safira menimbang-nimbang, rasanya kesepakatan nggak jelas ini sedikit menarik untuk diiyakan. Mungkin saja, pelatihannya kelak lebih menyenangkan.


“Oke deh!” dan kesepakatan pun terbentuk antara Antony dan Sapi’i.